11 Langkah ini yang Saya Lakukan Untuk Menjadi Motoris Tangguh!

Baca Juga

Assalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh..! Yang nggak jawab, saya sumpahin mandul! Hahaha.. Ngeselin banget deh kalau ada status orang di medsos yang ngancam-ngancam begitu. Udah ah, kita bahas motoris lagi aja.

Menjadi motoris sukses adalah idaman setiap wanita..

Hahaha...! Wanita mana yang mengidamkan motoris?

Dulu, saya selalu ingin kerja kantoran. Alhamdulillah kesampaian walau cuma 2,5 tahun.

"Motoris.."

Kata itu dulu "menyeramkan" buat saya. Profesi itu hanya ada diurutan terakhir daftar pilihan karir saya. Tapi sekarang, saya justru menikmati profesi ini. Enak, om bro.. Bebas..

Sekedar masukan bagi Anda yang "terpaksa" kerja jadi motoris, jangan kecil hati. Kata orang bijak,

"Orang sukses adalah orang yang memulai dari nol".

Hahaha.. Nggak tahu deh orang bijak yang mana yang ngomong kayak gitu..!?

Gini deh... Buat Anda yang baru jadi motoris, saya bagi tips yang good... Berdasarkan pengalaman saya. Namun sebelumnya, ada baiknya jika Anda tahu dulu mengenai definisi "motoris" sebagai salah satu tenaga pemasaran dalam perusahaan distribusi.


Motoris (kadang disebut juga; sales spreading/task force) adalah salesman/salesgirl yang berada dilevel paling bawah, berdasarkan ukuran outlet yang dicovernya. Yaitu warung-warung retail.

Lalu, apa saja tugas seorang motoris? Berikut ini paparannya...

Tapi ingat! Paparan disini bukanlah paparan sinar gamma. Karena kalau Anda terpapar gamma, Anda bisa jadi hulk.

Hahaha..! Jadi ke film marvel?

Langsung aja lah...

A. Tugas-tugas motoris

1. Memperkenalkan produk baru

Toko grosir pada umumnya hanya menjual produk sesuai permintaan pelanggannya. Jarang sekali ada toko grosir yang bersedia menawarkan produk baru.

Lalu apa hubungannya dengan motoris?

Motoris bertugas memperkenalkan (menjual) produk baru kewarung-warung kecil. Jika produk tersebut sukses terdistribusikan kewarung-warung, maka ketika produk tersebut terjual habis diwarung-warung itu, maka dikemudian hari warung-warung tersebut akan menanyakan produk tersebut ke toko grosir langganannya.

Aduh... Bahasanya rancu ya? Nggak apa lah, mudah-mudahan Anda paham maksud saya.

Atau begini deh,

* motoris menjual produk baru ke warung-warung retail,
* produk baru tersebut terjual habis diwarung,
* motoris belum datang lagi kewarung tersebut,
* warung belanja ke toko grosir, menanyakan produk baru tersebut,
* toko grosir memesan produk baru tersebut ke salesman TO karena sudah ada permintaan dari bawah.

Kira-kira begitu skemanya.

Sebenarnya dibawah motoris ada sales promotion girl/boy (SPG/SPB) yang bertugas memperkenalkan produk pada konsumen langsung, tapi itu bukan area saya. Saya nggak ada pengalaman SPB.

Masalahnya disini, ketika yang dibawah kita SPG sih enak. Tapi kalau yang dibawah kita SPB...

Hahaha...! Emangnya ekeu cowok apaan..? Hahaha...! Huusss...!!! Sudah!

Nah, tantangan Anda sebagai motoris adalah... Anda akan banyak ditolak oleh pemilik warung. Itu karena produk Anda belum dikenal. Disitulah Anda dituntut untuk bisa "merayu" pemilik warung supaya mau menerima Anda apa adanya.

Hahaha..! Itu berlaku kalau pemilik warungnya janda cantik beranak satu.

Tapi pun penolakan itu jangan sampai menurunkan semangat Anda. Pengalaman Anda dalam menjual produk baru, akan sangat berguna jika nanti Anda memutuskan untuk menjadi motoris freelance.

Silahkan baca "3 produk ini mendongkrak keuntungan saya hingga 93,55%".

2. Mencover wilayah yang tidak tercover oleh salesman TO (taking order)

Kinerja salesman TO tidak akan bisa maksimal ketika dihadapkan dengan medan yang berat, seumpama wilayah dengan jalanan rusak ataupun jalanan sempit.

Sebetulnya bukan salesmannya yang kesulitan, tapi mobil ekspedisi (bagian pengiriman) yang kesulitan. Nah, diwilayah seperti itulah dibutuhkan peranan motoris.

Trus, berapa sih gaji motoris?

Sekedar informasi tambahan saja, biasanya sih segini,
- gaji pokok senilai UMK
- BBM kira-kita 2 liter/hari
- uang sewa motor (jika tidak disediakan motor inventaris).

Uang sewa motor tersebut jumlahnya tergantung kebijakan perusahaan tempat Anda bekerja.

Demikian sekilas tentang motoris. Selanjutnya mari ngopi dulu...

Jika sudah habis 3 gelas kopi, mari kita lanjut...

B. Kiat-kiat motoris sukses

Kenapa judulnya ada kata "motoris sukses"? Apakah saya sudah sukses?

Tentu saja belum. Kalau udah sukses, mungkin saya nggak jadi motoris lagi. Hahaha..!!

1. Tentukan rute yang tepat

Poin ini wajib dilakukan oleh motoris freelance! Sedangkan untuk motoris perusahaan, berikut ulasannya...

Jika Anda masuk kerja sebagai motoris disebuah perusahaan distribusi, biasanya area canvasnya sudah ditentukan. Tapi meskipun begitu, seorang motoris dituntut untuk mengembangkan area canvasnya.

Dituntut lagi. Emang apa salah motoris sampai dituntut? Hahaha..! Bukan tuntutan hukum, om bro.

Bahasan mengenai area motoris, sudah saya ulas dalam,

"6 sumber barang murah, 3 metode penetapan harga jual, dan 2 area terbaik motoris".

Jadi disini saya hanya akan bahas sedikit saja...

1.1. Gang-gang sempit/jalanan rusak

Seperti sudah saya uraikan diatas, dijalan-jalan yang rusak/sempit, salesman TO tidak bisa mencover. Demikian juga dengan canvasser roda-4. Maka disitulah penjualan motoris bisa maksimal.

1.2. Wilayah pegunungan atau wilayah yang jauh dari pasar dan toko grosir.

Diwilayah seperti itu, pemilik warung selalu menantikan kehadiran motoris.

Mengapa demikian? Karena sulitnya akses dan mahalnya ongkos mereka kepasar/grosir terdekat.

2. Cover hanya outlet-outlet kecil saja

Kenapa hanya outlet kecil saja? Karena ketetapan perusahaan distribusi, pasti, harga jual motoris lebih mahal dari harga jual salesman TO.

Itu sangat wajar. Tujuan dari perusahaan mengadakan motoris adalah untuk distribusi produk-produk baru. Jadi, pengenalan harganya pun dengan harga semi-retail.

Jika Anda "maksa" menawarkan barang ke outlet besar (misalnya semi-grosir), maka Anda harus menjual dengan harga TO. Yang artinya Anda akan "nombok setoran" pada saat menyerahkan laporan penjualan ke kantor.

Ini yang didaerah saya biasa disebut "buang barang".

Hadeuuhh.. Maap ya, om bro. Bahasa saya banyak istilah yang aneh-aneh. Saya nggak ngerti bahasa yang intelek.

Efek lain selain "nombok" adalah, terbentuknya mental yang buruk.

Salah satu teman kerja saya, dulu, ada yang sering melakukan hal itu. Tujuannya supaya laporan penjualan dia bagus, diatas kertas.

Dan memang, hanya beberapa bulan kemudian, dia diangkat menjadi salesman TO. Wajar! Atasan dia waktu itu kan melihat laporan dia yang funtastic.

Tapi... Apa yang terjadi...?

Beberapa bulan setelah diangkat, dia dikeluarkan dari perusahaan. Diposisi TO inilah ketahuan prestasi dia yang sebenarnya. Jeblok!

Tapi bukan berarti sepenuhnya, hanya outlet-outlet kecil saja. Anda bisa "masuk" ke toko semi-grosir, jika lokasi toko tersebut diwilayah yang jauh dari pasar dan toko big-grosir.

Sepengalaman saya... Saya bisa menjual dengan "harga normal motoris" dilokasi seperti itu.

3. Aktif menawarkan produk, tapi sopan dan tidak memaksa!

Bayangkan jika pemilik warung itu janda bahenol, trus Anda paksa... Tapi dia teriak.. Habislah Anda dikeroyok orang sekampung.

Hahaha.. Bukan "maksa" yang itu, om bro..

Sewaktu saya masih baru banget didunia distribusi (saat itu saya sebagai canvasser roda-4), atasan (supervisor) saya selalu mengajarkan untuk mem-presure pemilik warung. Intinya adalah,

"Bagaimana caranya supaya warung yang tidak berminat jadi mau untuk membeli produk kita".

Sekilas sepertinya hebat ya? Bahkan beliau memberikan contoh langsung dilapangan. Wah, mantap deh kelihatannya.

Tapi apa yang terjadi...

Pada kunjungan berikutnya, beberapa pemilik warung bertanya pada saya,

"Siapa sih orang yang datang sama kamu minggu lalu? Najis ih! Orang nggak mau, dipaksa..!

Naaahhh.. Ternyata begitu. Ya wajar! Coba posisikan diri Anda sebagai pemilik warung. Nggak enak kan kalau dipaksa?

Cara sales-force seperti itu, menurut saya hanya cocok untuk produk dengan durabilitas lama. Misalnya sales motor, mobil, rumah, pakaian, dll. Sama sekali tidak cocok untuk produk-produk konsumsi.

Terbukti! Beberapa outlet langganan saya mengaku kalau mereka suka dengan kesopanan saya. Mereka suka karena saya tidak pernah memaksa. Bahkan ada seorang hajjah yang menolak sales lain karena menawarkan produk yang sama dengan produk saya. Beliau bilang,

"Saya butuh produk dia kemarin, tapi saya nggak beli. Saya ingat kamu akan datang hari ini. Kasihan kalau kamu datang, trus saya nggak beli apa-apa".

Tuuuhh kan.. Apa saya nggak terharu dengan pengakuan dia?

Tapi sayang... Ibu hajjahnya udah tua dan gemuk. Hahaha...! Maap ya, bu haji... Bercanda doang...

4. Tepat memilih hari dan konsisten pada hari kunjungan

Memilih hari kunjungan harus Anda lakukan dengan tepat pada awal Anda masuk ke rute tersebut.

Contohnya begini,
Anda sudah menentukan rute A untuk hari Senin. Tapi ternyata dihari Senin itu, di rute A itu padat salesman dari produk lain. Apalagi kalau padatnya oleh sales rokok, praktis Anda harus mengalah dan ganti hari kunjungan.

Kalau Anda tetap memaksakan hari itu ke rute A, akibatnya buruk. Contoh yang saya pernah alami pada saat bentrok dengan sales-sales rokok, pemilik, warungnya bilang begini,

"Yaah, sekarang mah libur dulu, Pak. Duitnya habis buat belanja rokok tadi".

Saya nggak nyerah gitu aja dong.. Saya bilang, "itu kan rokok, Bu.. Beda produk sama saya".

Tapi pemilik warung jawab lagi, "iya produknya beda, tapi uangnya kan sama, Pak!"

Hahaha.. Iya juga sih.. Emangnya duitnya mau di beda-bedain? Kali uang 100 ribuan khusus buat belanja rokok, yang 50 ribuan khusus buat belanja jajanan? Hahaha...!

Dan setelah Anda menentukan hari yang tepat, biasanya, kendala kita motoris adalah cuaca buruk.

Misalnya,

Di hari senin seharusnya rute saya kewilayah A yang jaraknya jauh. Tapi karena hari itu turun hujan seharian, akhirnya saya alihkan ke rute B yang lebih dekat jaraknya.

Akibatnya, pada hari Selasa saat saya ke rute A, sebagian pemilik warung ada yang bilang,

"Huuu... Kemarin saya tungguin nggak datang. Sekarang ya nggak ada duit, udah saya pakai belanja yang lain".

5. Berangkat lebih awal

Jika pun hari kunjungan sudah tidak bisa diganti lagi, Anda harus berangkat lebih awal dari salesman lain.

Benar kata orang tua dulu, jika kita nyari rezeki kesiangan, niscahnya rezeki kita dipatok ayam.

Hahaha.. Dikira kita mau nyari cacing tanah kali, berebut sama ayam?

Dulu supervisor saya sering bilang, "sales berangkat kepagian juga nggak bagus. Warung-warungnya belum pada dapat duit, jadi nggak akan belanja kalau masih pagi".

Dibeberapa outlet, teori itu benar. Tapi persentasenya sangat kecil. Saya sudah buktikan! Dengan berangkat lebih pagi, justru omset saya lebih baik.

Kebanyakan salesman yang saya kenal, rata-rata mereka berangkat dari kantor jam 10-an. Saya juga dulu iya. Tapi setelah saya jadi freelance, saya selalu berangkat jam 8.30.

Jadi begitu saya masuk ke warung, mereka masih punya cukup uang lantaran sales lain belum ada yang datang.

6. Mengajak bercanda pemilik warung

Ada satu artikel yang saya suka di kompasiana,  judulnya, "jadilah salesman gila".

Baca deh supaya Anda ikut gila, hahaha..!

Bercanda juga tetap ada batasan-batasannya. Tidak semua pemilik warung suka bercanda. Tapi untuk pemilik warung suka bercanda, tentu candaan  Anda akan menambah keakraban.

Misalnya, begitu datang, "Assalaamu'alaikum.. Apa kabar bu haji? Ada saya lagi nih datang. Bu haji kangen nggak sama saya?"

Pasti jawabannya, "nggak..!"

Hahaha..! Sumpah! Tiap kali saya bilang gitu ke warung, nggak ada satupun yang jawab "iya".

Contoh dialog yang pernah saya alami,

Saya: "Bu haji mau nonton?"

B.haji: "nonton apaan?"

Saya: "nih, nonton barang-barang dagangan saya!?"

B.haji: "boleh. Kalau nonton doang berarti gratis dong?"

Saya: "Ya nggak lah, Bu Haji. Kalau nonton ya beli tiket".

Trus kalau pemilik warung ternyata cuma belanja sedikit, atau malah nggak belanja, Anda ajak bercanda lagi,

"Kok cuma sedikit, Bu? Nggak nyesel? Nanti nyesel lho..! Mana rumah saya jauh.. Gimana kalau nanti bu haji pengen barang saya?"

Paling juga bu hajjah jawab, "ah, nggak pengen! Barang kamu pendek, buntet, letoy pula..!"

Hahaha..! Bukan barang yang pribadi, bu haji...

Tapi benar. Candaan-candaan saya seperti itu sering membuahkan hasil baik. Warung yang tadinya menolak, akhirnya membeli. Warung yang tadinya beli sedikit, akhirnya nambah...

7. Perbanyak kunjungan

Kunjungi minimal 25 outlet, lebih bagus 30 outlet perhari. Jangan pulang sebelum tercapai 30 kunjungan!

Seperti saya katakan pada point nomor 3 diatas, "aktif menawarkan produk, tapi tidak memaksa".

Dibanding Anda "memaksa" pemilik warung supaya membeli, akan lebih bijak jika Anda memperbanyak kunjungan. Dengan lebih banyak kunjungan, maka lebih besar potensi omset yang kita dapat.

Mungkin ini yang mendasari para pejabat melakukan kunjungan keluar negeri. Hahaha..! Iya nggak sih?

Semakin banyak kunjungan, maka semakin banyak pula outlet yang kita kenal. Dan itu adalah aset penting bagi kita.

Jika nanti Anda pindah kerja atau bahkan membuka usaha sendiri sebagai motoris freelance, outlet-outlet itu akan tetap menjadi pelanggan kita. Walaupun beda produk yang kita tawarkan.

Bisakah kita mencapai 30 kunjungan perhari?

Bisa banget! Itu angka normal kok, bukan angka yang dilebih-lebihkan seperti cara bicara para motivator di TV-TV itu.

Salah satu teman kerja saya, dulu saat masih kerja diperusahaan lain, suka menggampangkan poin ini. Dia lebih memilih jalan pintas "membuang barang" seperti yang saya contohkan pada point nomor 2 diatas. Memang... Dengan cara itu dia dengan mudah mencapai target penjualan hanya dengan sedikit outlet yang dia kunjungi.

Tapi apa akibatnya...?

Saat dia memutuskan untuk resign dari perusahaan dan membangun usaha motoris freelance, dia "gagal". Dia selalu hanya mendapatkan sedikit omset setiap hari.

Jelas! Itu karena dia hanya memiliki sedikit outlet langganan pada saat kerja sebelumnya.

Jadi, jangan abaikan point ini.

8. Jangan milih-milih pelanggan

Kalau calon istri, barulah harus milih yang baik. Hahaha..!

Secara tidak sadar, kadang kita suka "meremehkan" outlet-outlet yang biasanya hanya membeli dalam nominal kecil. Saat kita melintas didepan warung tersebut, tiba-tiba muncul kalimat dalam benak kita,

"ah malas. Dia mah belanjanya cuma sedikit. Paling juga cuma 20 ribu".

Cuma 20 ribu memang... Tapi, coba kalau ada 10 warung seperti itu yang Anda lewatkan?! Berarti Anda "membuang" 200 ribu omset Anda hari itu. Dan itu artinya 5,2 juta dalam 1 bulan (dengan asumsi 26 hari kerja).

Itu angka yang lumayan lho, ukuran motoris.

Sudah jelas? Sarapan dulu, lanjuut..

9. Eliminir outlet yang benar-benar tidak aktif

Ini gimana sih? Katanya tidak boleh milih-milih pelanggan, tapi kok harus mengeliminir juga outlet lainnya?

Hahaha..! Kalau bingung, ngopi dulu, om bro.

Begini...

Walaupun kita tidak boleh mengabaikan outlet-outlet kecil, tapi kita tetap harus selektif. Jika ada outlet yang sebelumnya pernah bertransaksi dengan kita, tapi pada 4 kali kunjungan berikutnya tidak terjadi transaksi lagi, itu artinya outlet tersebut tidak aktif.

Jika outlet semacam ini tetap kita pertahankan, yang ada kita hanya buang-buang waktu. Jika ada 5 saja outlet seperti itu dalam 1 hari, maka sudah 1 jam + 15 menit waktu kita yang terbuang sia-sia (rata-rata waktu kunjungan saya 15 menit per-outlet).

Ingat! Waktu adalah uang! Jadi kalau ada teman yang Anda ajak jalan, kemudian dia menolak dengan alasan, "nggak ada waktu", itu artinya dia nggak punya uang.

Hahaha..! Ngawur!

Solusi untuk outlet yang seperti itu adalah, "hapus!" dari daftar kunjungan.

Tapi diingat juga, menghapus disini bukanlah hanya menghapus begitu saja. Cari outlet pengganti yang lebih baik. Jangan berhenti mencari sebelum Anda mendapatkan gantinya.

Tujuannya adalah supaya jumlah kunjungan tidak berkurang. Dan tujuan akhirnya adalah untuk mempertahankan bahkan meningkatkan omset Anda.

10. Jalin hubungan baik dengan salesman produk lain

Bukan menjalin hubungan cinta lho ya..idih.. Hahaha...!

Pada aktifitas kita sebagai motoris, dilapangan pasti kita ketemu salesman-salesman lain dari berbagai perusahaan. Ajaklah mereka komunikasi.

Dari mereka, kita bisa sharing berbagai hal bermanfaat, misalnya,

* rute canvas yang bagus

Ada kalanya, disatu rute tertentu, bisa saja ada beberapa outlet potensial yang tidak kita ketahui. Biasanya yang lokasinya agak menjorok ke dalam dari jalan umum.

Nah, informasi lokasi outlet seperti itu seringkali saya dapatkan dari salesman produk lain, yang sudah tahu terlebih dahulu.

* produk baru yang dijual oleh salesman tersebut

Informasi seperti ini sangat berguna bagi Anda yang statusnya freelance. Dan produk baru seperti itu berpotensi menghasilkan keuntungan yang lumayan.

11. Tentukan langkah selanjutnya!

Jika Anda sudah menjalankan 9 point tersebut diatas, tibalah saatnya Anda mengambil kesimpulan dan menentukan keputusan yang akan Anda ambil. Ada 3 pilihan yang saya dapatkan dari menjalankan 9 langkah diatas,

11.1. Tetap bekerja diperusahaan tempat Anda bekerja sekarang

Jika pilihan ini yang Anda ambil, maka teruslah tingkatkan prestasi Anda. Lakukan riset, lakukan langkah-langkah yang dapat lebih meningkatkan prestasi Anda diperusahaan.

Tetap sabar dan jangan patah semangat jika Anda belum juga dipromosikan untuk "naik" kelevel berikutnya. Yakinlah bahwa kerja keras Anda tidak akan sia-sia.

Ingat! Kerja keras! Bukan "keras kerja". Kalau keras kerja, konotasinya lain. Hahaha...!

Pimpinan perusahaan tentu punya kriteria-kriteria tertentu untuk mempromosikan bawahannya.

Cari tahu apa saja kriterianya, tingkatkan prestasi Anda sesuai dengan kriteria yang diharapkan oleh management perusahaan. Tapi ingat! Junjung tinggi sportifitas. Jangan "menjilat" utaupun jalan pintas. Cara-cara licik seperti itu tidak akan membawa Anda pada kejayaan dalam jangka panjang.

Jika Anda naik level melalui jalan pintas, dilevel berikutnya Anda akan ketahuan prestasi yang sebenarnya. Seperti dalam contoh pada point nomor 2 diatas.

Dan ingat! Semakin tinggi jabatan Anda, maka semakin tinggi pula tanggung jawab dan tekanannya. Baik tekanan dari atas ataupun dari bawah.

Nah, menurut Anda, lebih enak ditekan atasnya atau bawahnya? Hahaha.. Itu sih tekanan malam.

Jadi selain meningkatkan prestasi, Anda juga harus menyiapkan mental Anda untuk tekanan yang lebih tinggi.

11.2. Resign (keluar) dari perusahaan dan mulai merintis usaha dari bawah

Cara inilah yang saya pilih.

Saya pernah mendengar (entah dari mana saya dengarnya. Saya lupa, sudah lama sekali. Hahaha..!), bahwa salah satu pemikiran yang salah pada saat kita masih sekolah adalah pertanyaan,

"Setelah lulus nanti, saya melamar kerja kemana ya?"

Mengapa dalam hati Anda tidak bertanya,

"Setelah lulus nanti, saya kawin sama siapa ya?"

Hahaha..! Ngawur! Bukan! Pertanyaan yang benar, begini,

"Setelah lulus nanti, saya buka usaha apa ya? Bagaimana saya bisa membuka lapangan kerja?"

Pertanyaan pertama tentu tidak sepenuhnya salah, dan pertanyaan kedua juga tidak sepenuhnya benar.

Ada kalanya setelah lulus sekolah, kita belum memiliki pengetahuan usaha didunia nyata. Belum lagi masalah permodalan.

Pada situasi dan kondisi seperti itu, kita memang "harus" bekerja dulu pada perusahaan lain. Tujuannya untuk menimba ilmu nyata didunia kerja, sekaligus untuk menabung dari sebagian gaji kita.

Dari tabungan itulah nantinya modal usaha kita.

11.3. Resign dari perusahaan yang pertama dan masuk keperusahaan lain

Jika Anda belum mampu untuk menjalankan point 2 diatas, tidak ada salahnya Anda menjalani point ini.

Yang perlu diperhatikan adalah...

"Pindahlah keperusahaan lain jika Anda yakin bahwa Anda akan lebih maju ditempat baru".

Keyakinan disini sangat penting. Dulu saya pernah gagal bercinta gara-gara beda keyakinan dengan pacar saya.

Saat itu saya yakin kalau saya ganteng, tapi pacar saya nggak percaya. Hahaha..! Ngawur!

Bagaimana caranya untuk bisa meyakini hal itu? Ini ciri-cirinya,

* jangan keluar dari perusahaan jika alasannya "tekanan yang terlalu tinggi".

Justru dengan tekanan yang tinggi itulah kita ditempa untuk menjadi pribadi yang hebat!

Seorang tentara bisa menjadi kuat dan siap perang karena latihan yang sangat berat. Bahkan kopassus TNI bisa menjadi salah satu pasukan elite terbaik didunia, karena latihan dan pengalamannya yang luar biasa beratnya.

Yaaaa.. Jangan disamain sama kopassus dong...?!

Lho! Sama saja! Dunia kerja itu ibarat medan perang. Persaingan disana luar biasa ketatnya sekarang.

Trus apa yang ketatnya masih biasa?

Celana nikita mirzani yang ketatnya biasa. Hahaha.. Husss...!! Ngeres aja!

Dan ingat! Jika Anda resign karena alasan tekanan, maka ketahuilah,

"Akan ada tekanan baru ditempat kerja yang baru".

* jangan keluar kerja sebelum mendapatkan pekerjaan baru

Ini sering terjadi ketika Anda merasa tertekan dan tidak betah ditempat Anda bekerja. Padahal ini hal yang buruk!

Jika Anda keluar kerja sebelum dapat kerja baru, praktis Anda akan "menganggur", walaupun hanya sementara waktu. Dan dari kondisi yang menganggur, saya mendapati beberapa efek buruk,

- lebih sulit mencari pekerjaan baru

Entah ini mitos atau fakta, tapi kenyataannya begitu yang saya alami. Ketika saya menganggur, puluhan lamaran kerja yang saya kirim, tidak kunjung mendapat panggilan. Tapi saat saya sudah mendapat kerja, banyak panggilan dari lamaran-lamaran yang sejatinya sudah saya lupakan.

- pola tidur dan pola makan tidak teratur

Ini hasil survey yang saya lakukan pada diri saya sendiri dan orang-orang disekitar saya.

Dalam keadaan nganggur, kita cenderung suka begadang dan nongkrong-nongkrong yang nggak jelas. Ya! Itu wajar. Karena pada malam hari kita tidak merasa bahwa esok harus bangun pagi.

Nah, itulah sekelumit kisah saya.. Semoga artikel ini bermanfaat dan mampu membawa kita pada kesuksesan. Amiin...

Wassalaamu'alaikum...

Comments

Post a Comment