Rentenir Berkedok Koperasi Bikin Hancur Usaha Kecil! Ini 6 Faktanya

Baca Juga

Jika Anda merasa pernah ditolong oleh rentenir, ada baiknya Anda membaca tulisan ini. Namun jika Anda tidak merasa pernah ditolong oleh rentenir, maka sebaiknya Anda juga membaca tulisan ini.

Hahaha...! Jadi intinya sih, "bacalah!", supaya Anda tidak menjadi korban rentenir.

Jaman sekarang, banyak sekali bertebaran rentenir yang berkamuflase menjadi koperasi simpan pinjam (kosipa). Dan yang luar biasanya lagi, saya pernah dengar (katanya) pelaku riba itu ada juga yang seorang haji.

Innalillahi... Mau jadi apa dunia ini...?


Tapi sudahlah. Biar itu menjadi urusan mereka dengan Alloh. Disini saya tidak akan membandingkan bunga kosipa dengan bunga bank, karena bagi saya, apapun bentuknya, "riba" tetaplah HARAM!

Wah! Belagu amat, Mas Bro? Nggak usah sok suci lah...!

Maaf! Saya bukan sok suci, Om Bro. Saya disini juga bukan untuk fokus membahas soal halal/haram, karena itu bukan area saya. Saya cuma berusaha berfikir dan bertindak secara logis.

Maksudnya begini...

Apa sih yang Anda butuhkan dari kosipa? Untuk apa sih uang haram itu?

* kendaraan? Ada banyak lembaga finance yang "asli". Ada FIF, Adira, Oto, Bank-bank Nasional dan lain-lain... Kredit barang = halal. Ngapain harus berususan dengan kosipa?

* pakaian/perlengkapan rumah tangga? Sama! Kredit barangnya saja, jangan kredit uangnya. Banyak lembaga pembiayaan kredit alat-alat rumah tangga.

* modal usaha? Salah! Anda seharusnya bekerja dulu, menabung, punya cukup modal, baru buka usaha. Jika pun terpaksa harus pinjam modal, banyak bank syariah sekarang. Kenapa harus pakai uang kosipa?

Bank syariah syaratnya ribet, Mas Bro...

Iya! Kalau hati sudah digulung syetan, pasti merasa ribet pada bank syariah!

* gaya hidup mewah? Ini yang paling ancur! Nggak usah dibahas deh...

Trus, apa hubungannya kosipa dengan ekonomi bawah dan usaha kecil?

Saya cerita dulu, Om Bro...

Sebagai seorang motoris, sehari-hari kerja saya adalah mengunjungi warung-warung langganan saya. Dan selama hampir 3 tahun dengan profesi ini (belum begitu lama sih), saya dengan sendirinya jadi banyak melihat warung-warung bangkrut dijalan-jalan yang saya lalui.

Penyebab dari kebangkrutan warung-warung tersebut tentu beragam, kompleks, bukan karena satu hal yang sama. Namun dari banyak sebab kebangkrutan tersebut, saya rasa masalah hutang kosipalah yang paling tragis.

Apa iya sih kosipa bikin bangkrut? Bukannya malah membantu permodalan?

Ini fakta-faktanya...

1. Potongan administrasi yang merugikan

Ini kerugian yang pertama. Jika Anda mengajukan pinjaman dana pada kosipa, maka Anda akan dikenakan biaya administrasi pada saat pencairan dana dengan cara pemotongan dana yang diterima saat itu.

Saya pernah menyaksikan seorang pemilik warung langganan saya pada saat menerima dana pinjaman dari kosipa. Saat itu, pemotongan biaya administrasi sebesar 10% dari nilai pinjaman. Jadi dia hanya menerima uang sebesar 1,8 juta dari pengajuan pinjaman dia senilai 2 juta rupiah.

2. Suku bunga rendah yang palsu

Sejatinya, besaran bunga yang ditetapkan tiap-tiap kosipa akan berbeda-beda sesuai kebijakan masing-masing kosipa.

Salah satu cara kosipa membuat muslihat adalah dengan "bunga rendah palsu".

Palsu gimana, Mas Bro?

Contoh sederhana,
Biasanya, marketing kosipa tidak memakai istilah "bunga sekian persen perjangka waktu tertentu". Karena istilah itu agak sulit dipahami oleh kalangan ekonomi bawah. Mereka lebih cenderung memakai istilah, "bunga 20,000 untuk pinjaman 2 juta". Lebih gampang dipahami oleh calon nasabah (korban).

Kecil ya?

Iya! Tapi itu perminggu, Om Bro. Bukan perbulan. Sekarang kita hitung deh...

* dana yang diterima adalah 1,8 juta,

* bunga dihitung dari nilai bulat 2 juta, yaitu 20,000 rupiah perminggu,

* nominal angsuran adalah 100,000 pokok + 20,000 bunga = 120,000/minggu,

* total angsuran adalah 120,000 x 20 minggu = 2,4 juta,

Nah, karena disini saya menggunakan perhitungan "nyata", maka besarnya bunga adalah total angsuran 2,4 juta - dana yang diterima 1,8 juta = 600,000 bunga yang harus Anda bayar, atau 33,33% dari 1,8 juta.

Kemudian kita hitung tenornya, 20 x 7 hari / 30 = 4,67 bulan.

Nah... 33,33% / 4,67 bulan = 7,14% perbulan.
Bandingkan dengan kredit rumah bersubsidi yang hanya 5% pertahun, berarti hanya 0,42% perbulan. Atau bandingkan dengan kredit lemari es yang bunganya hanya 1,5% perbulan. Apalagi secara hukum syariah, kredit barang = halal, sedangkan kredit uang = haram. Apa itu nggak rugi berlapis namanya?

3. Belum mendapat manfaatnya sudah ditagih kembali

Kalau dikampung saya, istilah kosipa diganti dengan "bank ucek-ucek". Ucek-ucek itu sendiri adalah aktivitas mengucek mata saat baru bangun tidur. Jadi maksudnya adalah, saat uang belum sempat dipakai, sudah ditagih lagi sama kolektor kosipa.

Ya! Ini kan lucu. Orang yang katanya pinjam dana buat modal usaha, tapi nyatanya sebelum uang itu "berputar" sebagai modal, seminggu kemudian sudah ditagih lagi + bunganya. Ini kan tragis. Dapat untung aja belum, sudah disuruh bayar bunga.

Menurut Anda, gimana kalau kolektor kosipa kita kasih bunga bangkai? Hahaha...!

Dan biasanya, uang hasil pinjaman kosipa itu suka habis nggak jelas. Beda kalau Anda kredit barang, home theatre misalnya, nggak akan habis-habis sampai lunas kredit. Kecuali orang yang memang mentalnya ancur, bisa saja home theatre itu dijual sebelum lunas. Jadi pada tagihan berikutnya sama saja dia nyetorin "angin". Hahaha...! Ada gitu orang yang nyetorin angin.

4. Kesulitan membayar kosipa yang pertama, masuk jebakan kosipa yang lain

Ini contoh dari kasus lain...

Seorang berinisial "T" tengah dalam kesulitan karena menunggak cicilan motor. Dengan maksud untuk menyelamatkan cicilan motornya, dia mengajukan pinjaman ke kosipa.

Setelah dana cair, dana dari kosipa tersebut langsung habis untuk membayar cicilan motor + denda keterlambatan.

Seminggu kemudian, datanglah tagihan dari kosipa. Kali ini dia kesulitan membayar tagihan kosipa. Karena sampai beberapa tagihan tidak terbayar, akhirnya si motor digadaikan, uang hasil gadai motor digunakan untuk membayar kosipa.

Dikemudian hari, dia semakin kesulitan karena harus membayar dua cicilan sekaligus. Akhirnya dia mengajukan pinjaman ke kosipa yang lain untuk membayar cicilan motor dan tagihan kosipa yang pertama.

Dikemudian hari lagi, dia makin pusing karena harus membayaran 3 setoran sekaligus. Sampai saat cicilan motor lunas, si motor dijual untuk membayar tagihan kosipa. Nah, sampai disini seharusnya masalah sudah selesai.

Tapi tidak...!

Dasar dia memang sakit jiwa, ditambah lagi dengan bujukan marketing kosipa yang sama-sama gilanya, si "T" ini berhutang lagi ke kosipa untuk DP motor baru. Begitu seterusnya.

Ini kan gila! Sampai mati juga nggak bakalan beres urusan duit haram kosipa kalau begitu caranya.

Coba deh baca thread di kaskus ini: modus penipuan rentenir berkedok kosipa

5. Bukan memperbaiki permodalan justru malah membangkrutkan

Ini terjadi pada salah satu warung langganan saya.

Seperti yang saya jelaskan pada poin nomor 3 diatas, sebelum si warung sempat meraih keuntungan dari modal dana kosipa, keburu kolektor kosipa datang nagih setoran.

Perlu Anda ketahui, usaha kecil selevel warung kelontongan, jika tidak memiliki basic salesman freelance, maka keuntungan yang didapat juga tidak akan signifikan. Kecuali jika Anda pengusaha warung makanan olahan yang cukup ramai, mungkin baru masuk akal. Tapi jika memang Anda punya usaha yang bagus, ngapain juga harus punya hutang ke kosipa?

Baca juga: sumber barang murah dan metode penetapan harga jual

Nah, warung langganan saya ini hanyalah warung biasa.

Awalnya dia fikir akan memperbaiki permodalan warung dengan meminjam dana kosipa. Tapi seperti kasus se "T" diatas, justru keadaan warung dia malah terbelit hutang dari 4 kosipa sekaligus. Ini kan luar biasa?! Akhirnya, bukan warungnya tambah komplit malah yang sudah ada habis buat bayar tagihan kosipa.

6. Meningkatkan kebodohan masyarakat menengah bawah

Ini poin yang PALING ANEH menurut saya..

Suatu hari, dengan bahasa setengah bercanda, saya mengingatkan mereka untuk berhenti menjadi "mangsa" kosipa. Tapi apa jawaban mereka?

"Ah, sayang, udah jadi nasabah tetap. Udah dapat kepercayaan dari koperasi. Yang ini bunganya rendah".

Hahaha...! Sumpah saya nggak habis fikir. Kalau saja nggak takut mereka tersinggung, mungkin saya sudah ketawa guling-guling didepan mereka.

Lah! Aneh! Ini orang dipercaya sama rentenir kok bangga?! Ini orang makan duit haram setiap hari kok bangga?! Apa nggak luar biasa pembodohan kosipa pada rakyat jelata ini?

Hadeuuhh... Na'udzubillahi mindzalik...

Ya sudahlah. Mari kita sama-sama berdoa, semoga Alloh menjauhkan kita dari godaan kosipa yang terkutuk. Amin...

Comments