Jadilah Lebih Cerdas dari Mekanik Bengkel dengan 5 Tips Memilih Oli Mesin Motor 4 Tak

Baca Juga

Kalau dilihat dari judulnya, bisa timbul kesan bahwa saya mendiskriminasi para montir bengkel. Tapi bukan begitu, om bro. Bukan maksud saya merasa lebih pintar dari mekanik bengkel. Secara teknis saya tidak tahu apa-apa, itu keahlian para montir. Tapi ingat! Montir juga manusia.

Dengan berkaca pada sedikit pengalaman mengenai kesalahan yang kadang dilakukan para mekanik bengkel, saya berani menulis artikel ini.

Kok mas bro bisa menyimpulkan hanya dari sedikit pengalaman?

Tentu, om bro. Karena poin yang cuma sedikit ini sejatinya punya efek besar pada durabilitas (keawetan) mesin sepeda motor kita. Seperti yang banyak disebutkan diberbagai media, bahwa oli adalah "darah" bagi mesin, maka jika salah menggunakan oli, akibatnya akan fatal pada mesin motor kita.



Apa mungkin seorang montir bisa salah merekomendasikan oli?


Bisa saja, om bro. Banyak montir yang mendapatkan keahlian mekanisnya dari pelajaran otodidak. Banyak dari kita, baik pengguna ataupun montir yang "malas" untuk belajar dari apa yang kita baca. Banyak orang yang tidak tahu arti tulisan JASO, API dan SAE yang sejatinya selalu ada pada setiap kemasan oli.

Lalu... Apa sih arti dari semua tulisan itu? Dan apa hubungannya dengan mesin motor kita? Lalu bagaimana cara memilih oli yang tepat?
Mari simak tulisan ini...

1. Pahami sistem pelumasan mesin motor Anda serta kesesuaiannya dengan standar
JASO (Japanese Automotive Standards Organization) adalah sertifikasi (yang dengan bahasa sederhana) untuk membedakan peruntukan oli sesuai dengan sistem pelumasan mesin. Ada 3 sertifikasi JASO (yang sudah umum) untuk pelumas mesin sepeda motor, yaitu:

1.1. JASO MA untuk mesin motor dengan transmisi manual

Mesin motor dengan sistem transmisi manual (motor bebek dan sport) pada umumnya menganut sistem kopling basah (kopling terendam oli). Posisi perangkat kopling ada disebelah kanan blok mesin.

Karena koplingnya yang terendam oli, maka motor jenis ini memerlukan oli yang memiliki 2 fungsi sekaligus, yaitu melumasi mesin dan kopling, serta menjaga kinerja kopling agar tidak slip.

1.2. JASO MA2 (juga) untuk mesin motor dengan transmisi manual

Pada dasarnya JASO MA2 adalah sama dengan JASO MA, hanya saja kelasnya lebih tinggi. Oli dengan sertifikasi JASO MA2 mampu melumasi dan menjaga kinerja kopling lebih baik dari pada JASO MA (baca: JASO MA1)

1.3. JASO MB untuk mesin motor dengan sistem transmisi otomatis

Sejauh yang saya tahu, sepeda motor matic/skutik yang beredar di Indonesia sampai saat ini hanya menggunakan sistem kopling kering. Perangkat kopling terpisah dari mesin, yaitu berada pada bagian belakang CVT box (diujung belakang CVT belt).

Karena koplingnya menganut sistem kopling kering, maka tidak dibutuhkan pelumasan pada koplingnya.

Pada motor jenis ini, fokus oli hanya pada pelumasan mesin. Dan karena hanya melumasi mesin, maka oli jenis ini tidak memerlukan additive anti-slip kopling, sehingga sifatnya lebih licin dari oli JASO MA/MA2.

Sampai disini seharusnya Anda sudah faham. Kalau nggak faham, ngopi dulu aja. Saya lagi sakit kepala nih. Udah minum bodrex 2 biji tapi kumat lagi.

Hahaha... Apa urusannya?

Lalu apa akibatnya jika memakai oli yang tidak sesuai dengan jenis mesin?

* motor manual memakai oli JASO MB

Sudah jelas, oli tidak akan mampu memberikan pelumas yang baik pada kopling. Karena sifat olinya yang hanya licin (doang), maka akan terjadi slip kopling yang dalam jangka panjang akan membuat plat/kanvas kopling cepat habis. Disamping itu, tarikan motor juga jadi tidak responsif jika kopling slip.

* motor matic menggunakan oli JASO MA

Begini, om bro...

Mesin motor matic, RPM (putaran) mesinnya lebih tinggi dari pada motor jenis transmisi manual. Oleh karena itu, olinya juga harus yang super licin.

Jika mesin matic dikasih oli mesin manual (JASO MA/MA2) praktis tarikan mesin akan jadi terasa berat karena olinya mengandung additive anti-slip kopling (=kurang licin). Dan kalau terus dipaksakan, dalam jangka panjang akan membuat komponen dalam mesin lebih cepat aus.

Gimana kalau komponen yang sudah aus itu dikasih minum?

Hahaha... Itu "haus", dodol.

Nah, untuk keterangan lebih lengkap mengenai sertifikasi oli, Anda bisa baca artikel dari otospek: arti kode jaso, api dan sae

2. Patuhi anjuran pabrikan untuk viscositas (kekentalan) oli yang sesuai menurut satuan SAE

Dulu, jaman generasi honda astrea di era 80-90-an, honda menganjurkan oli viskositas tunggal SAE 40 atau viskositas ganda SAE 20W-50. Tergantung selera dan kebutuhan.

Tapi itu dulu. Mesin generasi baru mempunyai struktur mesin yang lebih rapat sehingga membutuhkan pelumas yang lebih encer.

SAE (Society of Automotive Enginer) dengan bahasa yang sederhana adalah ukuran kekentalan oli. Semakin tinggi angka SAE-nya, maka semakin kental olinya.

Untuk lebih jelasnya, saya berikan ilustrasi dengan oli SAE 10W-40.

# angka 10W
adalah kekentalan oli pada suhu dingin (W = winter). Semakin kecil angka didepan (yang berkode W) maka (secara teori) akan semakin mudah mesin motor untuk start dipagi hari (pada cuaca dingin).

Pada umumnya, oli untuk pemakaian harian di Indonesia hanya memiliki angka paling kecil 10W. Kecuali oli untuk kebutuhan khusus (misalnya untuk balapan) bisa sampai angka 5W bahkan 0W (nol W).

Demikian juga untuk dinegara 4 musim atau lebih, dibutuhkan oli encer untuk musim dingin dan oli kental untuk musim panas. Yang tentu saja hal itu tidak berlaku untuk Indonesia yang beriklim tropis dan hanya memiliki 2 musim.

# angka 40 dibelakang 10W
Angka 40 itu menunjukkan kekentalan oli pada kondisi mesin panas. Secara teori sederhana, makin besar angkanya, maka makin kuat kinerja oli tersebut pada kondisi panas.

Ilustrasi:
Oli SAE 10W-40 lebih mudah untuk start pagi, tapi oli 20W-50 lebih tahan panas dan lebih mampu melindungi mesin pada kondisi panas. Misalnya pada situasi jalan yang sering macet, seperti di Jakarta dan kota besar lainnya.

Contoh SAE oli yang banyak beredar di Indonesia:

* 10W-30 (AHM oil, federal matic, enduro matic dan lain-lain)

* 10W-40 (yamalube gold, enduro racing dan lain-lain)

* 20W-40 (yamalube silver dan lain-lain)

* 15W-40 (lupa lagi merknya, hahaha...!)

* 15W-50 (BM1, motul 3100 gold, motul 5100 ester dan lain-lain)

* 20W-50 (enduro 4T standar dan lain-lain)

Tapi ukuran kekentalan oli bukanlah satu-satunya patokan untuk menentukan mutu oli tersebut. Masih ada poin berikutnya...

Sebelum ke poin berikutnya, saya mau makan chicken teriyaki dulu. Tapi berhubung chickennya belum dipotong, saya makan karedok saja. Hahaha...!

Tambahan:
* oli yang encer memiliki pengaruh positif pada penghematan bahan bakar, karena dengan oli encer, maka perputaran mesin jadi lebih ringan. Tapi (katanya) oli encer kurang bagus dalam hal perlindungan mesin.

* oli yang kental lebih bagus untuk perlindungan mesin, tapi kurang irit untuk pemakaian bahan bakar.

Tapi hal itu tentu saja tidak mutlak. Ada spesifikasi lain yang juga menjadi penentu. Misalnya, oli encer berbahan dasar syntetic dengan grade SL tentu perlindungan mesinnya lebih bagus dari oli mineral grade SJ walaupun yang lebih kental. Begitu sebaliknya.

3. Bijak memilih grade oli yang sesuai dengan keuangan dan batas minimum API yang diminta oleh mesin

Jika Anda membaca buku panduan manual motor Anda, disitu selalu ada penjelasan grade minimal oli untuk motor Anda.

Pada umumnya, motor produksi tahun 2005-2013 hanya mensyaratkan grade minimal API SH atau API SG. Cukup rendah. Jadi dengan oli bersertifikasi API SJ saja sudah lebih dari cukup. Oli dengan API SL tentu lebih bagus lagi.

Jadi nggak perlu pakai oli dengan API SM apalagi SN, karena itu judulnya "pemborosan".

Lalu... Apa sih API itu?

API adalah sesuatu yang panas dan membara. Hahaha... Bukan api yang itu, om bro...!

Lagi-lagi kita pakai bahasa yang sederhana saja, API (American Petroleum Institute) adalah standar mutu dari suatu oli. Semakin huruf akhirnya mendekati Z, maka mutunya semakin bagus.

Ilustrasinya begini,

API SG => API SH => API SJ => API SL => API SM => API SN

Dari ilustrasi diatas, penjelasan singkatnya adalah:

API SG mempunyai mutu paling rendah, dan API SN bermutu paling tinggi.

Cukup jelas kan?

4. Memilih jenis oli (mineral/synthetic) sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial

Secara umum, jenis oli dapat dibedakan menjadi 3, yaitu oli mineral, oli syntetic, dan oli semi syntetyc

# oli mineral

Oli mineral adalah oli yang segernya beda. Kayak ada manis-manisnya, gitu.

Hahaha...! Itu iklan air mineral, om bro...

Oli mineral adalah oli yang dihasilkan dari penyulingan minyak bumi. Untuk pemakaian sehari-hari dengan lalu-lintas normal, oli mineral ini sudah cukup baik. Tergantung dari spesifikasi API seperti yang saya jelaskan diatas.

Saat ini, oli mineral yang masih eksis dipasaran, salah satunya adalah oli pertamina enduro 4T SAE 20W-50. Merk lain saya kurang faham karena kebanyakan pabrikan sekarang sudah lebih fokus memproduksi oli syntetic.

# oli syntetic

Oli syntetic adalah oli yang berbahan dasar dari campuran bahan kimia tertentu. Salah dua dari bahan dasar oli syntetic yang populer adalah PAO dan ester.

Anda bisa mendapatkan informasi mengenai PAO dan ester dengan bertanya pada mbah gugel.

Secara teori, oli syntetic mempunyai mutu yang lebih tinggi dari oli mineral. Tapi semua itu tetap harus mengacu pada standar sertifikasi yang ada pada kemasan oli tersebut.

Misalnya,

* oli syntetic dengan API SJ tentu lebih bagus dari oli meneral dengan API yang sama.

* tapi oli meneral dengan sertifikasi API SL masih lebih baik dari oli syntetic yang hanya punya grade API SJ.

Namun hukum diatas biasanya hanya berlaku untuk perbandingan oli mineral vs oli semi syntetic. Sedangkan untuk oli full syntetic, yang saya tahu hanya ada grade API SL keatas, tidak ada yang grade API SJ kebawah. Dan untuk harga, oli full syntetic pasti jauh lebih mahal dari oli mineral ataupun semi syntetic.

Contoh perbandingan harga oli dari merk motul:

* motul 3100 gold semi syntetic = 48,000 rupiah/800 ml,

* motul 5100 ester semi syntetic = 98,000/liter

* motul 300V ester core (oli balap) full syntetic = 310,000/liter.

Nah, jauh beda kan?

Contoh harga diatas saya dapatkan dari berbagai sumber (toko oli) pada tahun 2010, sewaktu saya tinggal di Jakarta.

Selain hanya jenisnya (mineral/syntetic), bahan dasar oli itu sendiri juga berpengaruh terhadap harga. Misalnya, oli syntetic berbahan dasar ester akan lebih mahal dari oli syntetic yang berbahan PAO. Hal itu karena oli ester lebih baik dalam hal perlindungan mesin serta lebih lembut dalam perpindahan gigi transmisi.

# oli semi syntetic

Oli semi synthetic adalah oli yang setengah telanjang.

Hahaha...! Itu film semi blue, dodol! Hadeuuhh.. Ketahuan deh muka mesumnya. Hahaha...!

Oli semi syntetic adalah percampuran antara bahan mineral dengan bahan syntetic. Secara singkat, mutu oli ini ada diantara oli mineral dan oli fully syntetic.

Untuk oli semi syntetic yang diproduksi di Indonesia, harganya tidak akan terpaut jauh dengan oli mineral.

Contoh oli matic berikut,

* evalube YX matic (mineral): 30,000

* federal matic (semi syntetic): 35,000

* enduro matic (semi syntetic): 40,000

* AHM MPX2 (mineral): 40,000

* AHM SPX2 (semi syntetic): 45,000

Harga tersebut diatas adalah harga rata-rata dibengkel-bengkel sekitaran Banjar-Ciamis (Jawa Barat). Dibengkel dan daerah lain, harga dapat berbeda.

Baca juga artikel dari motorplus-online berikut: perbedaan oli mineral dengan oli syntetic

5. Mengganti oli dengan interval yang sesuai anjuran pabrikan motor dan pabrikan oli

Nah, poin inilah yang paling banyak saya temui kasus kengawaurannya.

Dalam buku panduan manual yamaha, anjuran penggantian oli setiap 3,000 km. Sedangkan dalam panduan manual honda, penggantian oli setiap 4,000 km. Logikanya, pabrikan tidak akan mengajurkan jarak tempuh tersebut (3,000 km/4,000 km) jika oli standarnya tidak mampu bertahan sejauh itu.

Sumber dari pertamina ini contohnya, interval penggantian oli enduro

Menurut sumber tersebut, oli enduro 4T standar (mineral) SAE 20W-50, API SJ, JASO MA, mampu bekerja dengan baik hingga jarak tempuh 3,500 km. Sedangkan oli enduro racing (semi syntetic) dengan SAE 10W-40, API SL, JASO MA2 mampu bekerja dengan baik hingga jarak 5,000 km.

Baca juga: 8 kesalahan yang umum dilakukan bahkan oleh mekanik bengkel

Tapi sering saya temui dirumah mbah gugel, orang-orang yang menganjurkan penggantian oli setiap 1,500-2,000 km. Bahkan ada yang menyebutkan, "tiap 2 minggu sekali".

Ini apa dasarnya? Sayang itu duit dibuang-buang buat sering-sering ganti oli. Mending masukin kotak amal di Mesjid aja. Atau transfer kerekening saya aja.

Hahaha...! Ngarep.

Beberapa dari mereka beralasan, Jakarta kan macet. Saat motor berhenti karena macet atau lampu merah, mesin tetap hidup. Jadi kalau ngikutin odometer 4,000 km, sejatinya itu motor sudah menempuh jarak yang lebih jauh jika digunakan diwilayah yang tidak macet.

Betul! Betul banget! Tapi kan sudah ada toleransinya...

Ilustrasinya begini,

Jika Anda pengguna motor honda sekaligus pengguna enduro racing, perhatikan!

* daya tahan enduro racing adalah 5,000 km,

* anjuran penggantian oli honda adalah 4,000 km.

Berarti ada selisih/toleransi 1,000 km kan? Masa nggak cukup toleransi 1,000 km untuk mengganti kemacetan dan lain-lain?

Jika Anda merasa tidak cukup pun jangan jauh-jauh lah loncatnya. Kasih interval tiap 3,000 km, seperti anjuran yamaha. Jangan serta-merta jadi 1,500 km - 2,000 km, apalagi jadi 2 minggu sekali. Kasihan dong orang-orang kecil seperti saya yang kadang nggak punya uang pas jatuh tempo ganti oli.

Nah...

Demikianlah sekelumit kisah dari saya. Semoga bermanfaat dunia dan akhirat, amin...

Tetaplah bijak dalam bermotor. Pilih oli sesuai kebutuhan dan kemampuan. Jangan gunakan oli balap untuk bekerja sebagai motoris seperti saya. Selain tidak efektif, juga tidak efisien. Ingatlah! Selain harus mencintai motor, Anda juga harus mencintai istri dan anak-anak Anda. Jangan sampai uang jajan anak dan uang belanja istri dipakai untuk beli oli yang ratusan ribu rupiah.

Hahaha...!! Curhatan dari masa lalu sewaktu masih pilih-pilih oli.

Jangan juga menggunakan oli matic untuk motor manual, ataupun sebaliknya. Gunakanlah oli sesuai kodrat motornya.

Hah! Sudahlah! Saya ngantuk!

Oke, om bro?! Happy riding...

Comments