10 Tips Nyata Usaha Kecil: Tetap Melejit Meski Kondisi Ekonomi Sulit

Baca Juga

Walaupun kondisinya tidak separah pada saat krisis moneter 1998, tapi bagi pelaku usaha kecil-kecilan seperti saya, kondisi perekonomian Indonesia sejak awal tahun 2017 ini cukup menyedihkan. Bagaimana tidak? Omset penjualan saya dalam satu bulan pernah sampai menyentuh angka 50% dibanding rata-rata omset bulanan ditahun sebelumnya. Sementara disaat yang sama, kebutuhan hidup sehari-hari saya bertambah tinggi.


Saya nggak ngerti bahasa ekonomi tingkat tinggi. Saya juga tidak faham ada apa sebenarnya dengan perekonomian bangsa ini? Saya hanya merasakan menurunnya daya beli masyarakat di level bawah.

Sempat terfikir untuk mencari peluang usaha lain yang lebih menjanjikan, yang lebih menguntungkan. Usaha yang tak kenal musim, yang tak kenal inflasi dan yang tahan pada goncangan krisis. Tapi apa ada peluang usaha yang begitu, ya? Hahaha...!

Beberapa hari saya memutar otak, tapi tidak kunjung mendapatkan ide yang kreatif. Sampai kemudian saya terinspirasi oleh kisah Pak Suhara yang ini:

tips sukses usaha warung nasi + kelontongan

Walaupun beda jenis usahanya, tapi beberapa poin diantaranya bisa kita terapkan pada usaha apapun saat ini.

Apa saja tipsnya? Mari kita langsung saja ke TKP...

1. Tambah waktu operasional

Bagi saya yang menjalani usaha sebagai sales canvas motoris, caranya adalah dengan berangkat lebih awal dan pulang lebih lambat. Dengan lebih panjangnya waktu operasional, otomatis jadi lebih banyak pula outlet yang dapat saya kunjungi. Seperti yang sudah saya bahas pada,

tips untuk menjadi motoris tangguh

Tidak terkecuali bagi Anda yang memiliki usaha warung / toko, bukalah lebih awal dan tutup lebih lambat untuk memperbesar peluang datangnya konsumen baru.

Sebagai contoh, di pasar Banjar - Jawa Barat, itu ada salah satu toko kelontongan yang sudah beroperasi pada jam 6 pagi. Namanya "toko Endang". Padahal, rata-rata toko kelontongan yang lain pada jam itu baru buka dan mulai prefer. Mereka baru akan siap pada jam 7 pagi. Nah, sudah berapa banyak tuh pembeli yang datang dalam 1 jam itu?

Dan hebatnya, toko seperti ini lebih punya banyak konsumen loyal. Ya jelas lah. Orang yang sudah terbiasa pergi ke pasar sejak waktu Shubuh, mereka akan belanja di toko ini. Ngapain harus nunggu toko lain yang belum buka? Termasuk saya sendiri kalau belanja pagi untuk kebutuhan warung saya juga ke toko ini.

2. Bergerak lebih cepat

Bagi salesman, pergerakan yang cepat berarti jumlah kunjungan lebih banyak. Tapi bukan berarti tidak beramah-tamah dengan pelanggan. Interaksi harus tetap baik, hanya saja perlu mengurangi obrolan basa-basi yang tidak berguna dan mengurangi kebiasaan "ngopi" di outlet langganan.

Bagi pemilik warung / toko, kecepatan pelayanan tentunya memberikan kepuasan terhadap konsumen sehingga memancing konsumen untuk "kembali" lagi. Jadi, cepatlah dalam menanggapi kebutuhan konsumen.

3. Pahami kebutuhan konsumen

Pada saat daya beli masyarakat menurun seperti sekarang ini, sebaiknya jangan menumpuk stock barang terlalu banyak untuk satu item produk. Fokuslah pada variasi (kelengkapan) produk-produk yang dibutuhkan oleh konsumen. Maka dari itu, jeli-lah dalam pelayanan. Ingat (kalau perlu di catat) apa saja produk yang pernah di tanyakan oleh konsumen dan segera sediakan. Hal itu akan meningkatkan daya saing Anda dari warung / toko lain.

Bagi salesman freelance seperti saya, ganti jenis produk bisa menjadi pilihan. Tapi bukan di ganti selamanya.

Contoh,

Biasanya saya fokus pada produk jajanan anak-anak, tapi belakangan penjualan di warung-warung langganan saya sedang melambat. Maka saya kurangi stock jajanan, dan sebagian modal saya alihkan pada alat-alat tulis (ATK) dan alat-alat listrik, selama 2 minggu atau 1 bulan.

Ketika penjualan ATK dan alat-alat listrik melambat, maka stock barang saya kembalikan pada produk jajanan.

Begitu seterusnya... Atau istilah gampangnya, "gantian".

Sebenarnya akan lebih baik kalau semua produk selalu lengkap dengan stock yang stabil. Tapi untuk ukuran motoris, hal itu tentu menyulitkan dalam hal pengangkutan. Apalagi jika modal Anda terbatas (seperti saya).

4. Lebih aktif menawarkan

Ilmu ini saya dapatkan pada saat saya masih bekerja sebagai waiter di Sarinah, Jakarta. Pada jam-jam sepi, manager saya selalu memerintahkan pada beberapa orang waiter / waitress untuk aktif menyebarkan brosur di depan outlet.

Cara itu tentu sulit dilakukan oleh toko konvensional / warung kecil. Tapi Anda bisa menyiasatinya dengan selalu stand by di bagian depan toko, dan segera menanggapi ketika ada calon konsumen yang mendekat.

Untuk seorang salesman, caranya tentu beda lagi. Anda harus aktif mengontrol stock produk Anda di toko / warung langganan, kemudian tawarkan produk-produk yang stocknya tinggal sedikit atau bahkan habis. Tapi hati-hati. Harus tetap dalam kaidah-kaidah kesopanan. Jangan slanang-slonong sembarangan. Salah-salah pemilik outlet malah berbalik marah pada Anda.

5. (Bagi Muslim / Muslimah) PAKSAKAN diri Sholat Fardu tepat waktu

Waahhh... Itu sih ilmu hakikat, Masbro...!?

Eeehhh... Nggak juga, Om Bro / Tante Sis. Yang akan saya bahas ini efek psikologinya, bukan soal "takaran rizki".

Kenapa ada kata "paksakan"? Bukankah urusan ibadah harus ikhlas?

Karena umumnya, kebanyakan orang merasa malas dalam hal berbuat kebaikan. Di samping itu, sebenarnya tidak ada keharusan ikhlas dalam berbuat baik.

Logikanya begini,

Jika Anda "menunggu" datangnya ikhlas, maka (mungkin) Anda tidak akan pernah melakukan kebaikan. Ingat saat Anda masih sekolah?! Apakah ada keharusan ikhlas dalam belajar? Apakah kemudian Anda tidak bisa lulus karena tidak ikhlas dalam belajar? Saya sih tetap lulus walau sekolahnya setengah terpaksa. Hahaha...

Seorang teman bernama 'Ali Jamaludin pernah berkata pada saya begini, "Keikhlasan akan datang setelah berlalunya sebuah keterpaksaan". Beliau adalah alumni Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang. Beliau mengaji di sana selama 12 tahun.

Kemudian, saya juga pernah mendengar Ustadz Yusuf Mansur berkata, "Tidak harus ikhlas untuk memberi sedekah".

Lalu, apa hubungannya soal itu dengan dunia bisnis? Kita bahas satu-persatu,

* Sholat Fardu berjamaah di Mesjid bagi laki-laki dan sholat dirumah bagi perempuan

Efek yang timbul dari sholat tepat waktu adalah kedisiplinan.

- Sholat Subuh tepat waktu berarti bangun pagi. Jika sudah bangun pagi, artinya Anda siap untuk memulai usaha Anda lebih awal

- Sholat Dzuhur dan 'Ashar tepat waktu berarti Anda segera meninggalkan aktifitas keduniawian, dan akan segera kembali pada pekerjaan Anda setelah selesai sholat.

- Sholat Maghrib dan 'Isya tepat waktu berarti Anda sudah berhasil di hari itu, dan siap untuk mencurahkan waktu dan perhatian Anda untuk keluarga. Dan berarti pula Anda sudah siap untuk istirahat supaya esok hari Anda dapat bangun pagi dengan bugar.

6. (Bagi Muslim / Muslimah) Perbanyak Sholat Hajjat dan Sholat Dhuha

Makna dari Sholat Hajjat menurut pandangan sederhana saya adalah, "memaksa Alloh untuk cepat mewujudkan keinginan kita". Sementara Sholat Dhuha adalah, "membuka pintu rizki di hari itu secara paksa".

Kenapa saya bilang "paksa"...?

Karena do'a yang tidak memaksa sudah ada pada Sholat Fardhu, yaitu pada saat duduk di antara dua sujud.

Efek positif dari Sholat Hajjat dan Dhuha bagi pelaku bisnis adalah merubah pola fikir.

Maksudnya begini... Jika Anda manusia normal... Hahaha...!! Normal? Iya, normal!

Dengan banyak melakukan Sholat Hajjat dan Dhuha, dengan sendirinya Anda akan menjadi lebih giat belajar dan berusaha. Hal itu muncul karena kesadaran bahwa, "do'a tanpa usaha hanya akan sia-sia". Dan itu pasti, asalkan Anda mampu memaksakan diri untuk mengerjakan Sholat tersebut secara terus-menerus. Jadi... Sholat Hajjat dan Dhuha bukanlah cara untuk menjatuhkan rizki dari langit secara tiba-tiba, melainkan cara untuk merubah pola fikir orang malas menjadi orang yang rajin.

7. Perbanyak Shodaqoh

Menurut ilmu hakikat, "Jika Anda sedekah sebesar 10, maka Alloh akan mengembalikanna sebesar 10 kali lipat (100)".

Lalu bagaimana penjelasannya secara syariat?

Jika Anda rajin bersedekah, maka orang lain akan merasa suka pada Anda. Dengan cara itu, maka orang-orang akan suka berbisnis dengan Anda.

Seperti yang saya sebutkan diatas, sedekah juga tidak harus ikhlas. Sedekah dengan terpaksa juga boleh, asal jangan "mengungkit" hal yang sudah Anda sedekahkan, karena hal itu akan menyakiti hati orang yang Andi beri sedekah. Salah-salah, bukan disukai justru Anda malah dibenci oleh orang lain.

Anggaplah harta (sesuatu) yang telah Anda sedekahkan itu sebagai "kotoran". Seperti jika Anda nongkrong di toilet, tentu Anda akan segera melupakan kotoran yang telah Anda buang.

Apa pernah Anda berfikir, "Aduh, sayang banget itu kotoran di buang. Padahal itu kotoran dari hasil makan spagethi".

Hahaha...!! Ambil lagi aja itu kotoran. Elu kantongin aja, bawa kemana pun elu pergi. Hahaha...!!

8. Yakinkan dalam hati bahwa tingkat persaingan akan berkurang

Disini rada jahat nih... Bukan nyumpahin orang lain, tapi hal ini memang sering terjadi.

Disaat kondisi ekonomi sedang sulit, banyak pesaing Anda yang akan TUMBANG. Ini nyata, bukan ramalan! Dibidang usaha saya (di wilayah operasional saya) saja, setidaknya sudah ada 3 orang yang berhenti / beralih pada usaha lain, dan ada 2 orang lain lagi yang mengurangi jam operasionalnya karena malas oleh pertumbuhan omset penjualan yang terus menurun.

Dengan menurunnya omset, otomatis menurunkan juga untung dari penjualan, sementara harga-harga kebutuhan pokok semakin hari semakin naik. Nyata kan? Itu hanya 5 orang yang saya kenal sebagai contoh. Entah berapa banyak lagi diluar sana yang tidak saya kenal.

Nah, hikmahnya adalah, dengan berkurangnya persaingan di wilayah yang sama, maka omset saya bisa naik lagi.

9. Membuat blog pribadi

Eaalaaaahhh... Apa hubungannya, Masbro?

Ada! Khususnya bagi Anda yang masih berusia muda. Kalau orang tua, biasanya tidak tertarik untuk membuat blog.

Begini, Ombro... Kita pakai logika sederhana saja...

Seseorang membuat blog pribadi adalah untuk curhat dan berbagi informasi yang bermanfaat untuk pembaca. Istilahnya untuk berbagi tips sukses. Nah, dengan adanya blog, kita akan terpancing untuk melakukan hal yang hebat atau bahkan luar biasa, supaya kita bisa menuliskan pengalaman yang hebat itu pada blog.

Tapi hati-hati juga. Jangan sampai Anda justru terjebak pada tipu daya kesuksesan di dunia maya.

Maksudnya gimana, Masbro?

Jaman sekarang ini sudah lumrah blog menjadi sumber penghasilan. Bagi yang sudah sukses di blog, tentu blog sudah menjadi sumber penghasilan utama. Tapi bagi Anda yang pemula, tetaplah sadar bahwa penghasilan utama Anda ada di dunia nyata. Jika pun nanti blog Anda sukses, ya di syukuri dan anggaplah itu sebagai bonus.

Memangnya salah kalau saya ngeblog untuk mencari penghasilan?

Ya nggak salah. Itu bagus. Tapi Anda harus baca dulu artikel ini:

ngeblog itu mudah tapi sering di bikin susah

Saya sendiri ngeblog hanya 2-3 jam perhari.

10. Berhenti merokok (Optional)

Ini pilihan. Tidak ada keharusan untuk Anda berhenti merokok, karena berhenti merokok hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki tekad bulat. Saya sendiri masih jadi perokok aktif sampai sekarang.

Jika Anda belum faham efek negatif rokok dalam berbisnis, Anda harus membaca artikel ini:

kerugian merokok selain bagi kesehatan

***

Nah, Ombro / Tantesis, sekian dulu sharing dari saya. Semoga bermanfaat.

Comments