Cara Membuka / Memulai Usaha Kecil dengan Baik dan Benar

Baca Juga

Seorang teman pernah bilang pada saya, begini, "Dulu gue pernah usaha buka toko kelontongan, tapi malah di tangkap polisi".

Saya heran dong... Trus saya tanya, "Lah, emangnya kenapa? Apa salahnya buka toko kelontongan? Kok sampe di tangkap polisi?"

Teman saya jawab, "Soalnya gue buka tokonya malem hari".

Saya masih nggak habis fikir, "Apa juga salahnya kalo buka toko malam hari?"

Eeehh... Ternyata teman saya jawab begini, "Soalnya yang gue buka itu toko milik orang lain..."

Hahaha...!! Itu nyolong namanya, bukan buka usaha!


Banyak sekali informasi di internet tentang cara membuka usaha kecil-kecilan, seperti berbisnis online shop, kuliner, pakaian, bahkan ada yang "katanya" tanpa modal. Tapi kenyataan yang ada di alam nyata tidaklah semudah itu. Banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum Anda memutuskan untuk memulai usaha sendiri.

Yuk kita langsung ke TKP... Inilah langkah-langkah yang harus Anda lakukan untuk menjadi wirausahawan sukses,

1. Mulailah perencanaan dengan bekerja pada perusahaan lain

Dulu saya beranggapan kalau sudah lulus sekolah kejuruan atau lulus kuliah, saya akan segera siap untuk memasuki dunia kerja. Tapi kenyataannya tidaklah seperti itu. Apa yang saya pelajari di dunia kerja, sama sekali berbeda dengan teori-teori yang saya dapatkan semasa masih sekolah.

Pada saat sekolah, saya mengambil jurusan management pemasaran. Tapi setelah lulus sekolah, saya harus mau menerima kenyataan bahwa mendapatkan pekerjaan yang layak bukanlah perkara mudah. Saya bahkan sempat menjalani profesi sebagai operator produksi kain rajutan di Kebon Kangkung, Kota Bandung. Pekerjaan yang sama sekali tidak membutuhkan ijazah SMK.

Selain itu, saya juga pernah menjalani profesi sebagai sales force produk elektronik di PT.Kharisma Gemilang Pratama cabang Banjar, menjadi office boy sekaligus penyiar radio JAS FM Banjar, menjadi waiter di Komala's Restaurant Jakarta, menjadi Staff ADM di PT.Multi Kencana Niagatama, Serang, Banten, menjadi asisten tukang las di PT.Kendi Aroma Perdana Jakarta, serta menjadi salesman kanvas dan motoris di PT.Panjunan Banjar (Mayora Foods) dan PT.Banjar Distribusindo Raya (Lion Wings).

Nah, dua pekerjaan terakhir inilah yang pada akhirnya mengantarkan saya pada profesi saya yang sekarang (motoris freelance). Dan dari dua perusahaan ini pula lah saya mendapatkan ilmu dan keberanian untuk membuka usaha sendiri.

2. Matangkan persiapan dengan bekerja di bagian lapangan

Seperti yang pernah saya singgung pada artikel sebelumnya,

Baca: kelebihan pekerja lapangan dibanding karyawan kantoran

...bahwa mayoritas orang berfikir lebih enak kerja kantoran ketimbang kerja lapangan.

Memang benar. Saya juga tidak memungkiri hal itu. Tapi kenyataan yang banyak terjadi justru lebih banyak orang sukses yang memulai karirnya dari lapangan.

Dilapangan, Anda akan mendapatkan lebih banyak pengalaman dan ilmu yang berharga dari pada hanya ilmu management berkas yang ada di meja kantor. Dan ketahuilah, ilmu lapangan itulah yang akan menjadi pondasi kuat untuk usaha Anda dikemudian hari.

Tapi, Mas Bro!? Kalau saya harus kerja dulu, berarti waktu untuk memulai usaha jadi lebih lama lagi dong...?

Betul! Tapi justru itu lebih baik dari pada Anda buru-buru buka usaha tapi sebentar kemudian tumbang karena kurangnya modal pengetahuan dan perencanaan. Lagi pula, jika Anda jeli dan cerdas, Anda hanya butuh waktu sebentar untuk mampu menyerap ilmu yang berserakan di jalanan. Seperti saya yang hanya butuh waktu 6 bulan bekerja di dua perusahaan distribusi sebelum akhirnya mampu membuka usaha kecil sendiri.

Wah.... Berarti Mas Bro ini jeli dan cerdas, ya...?

Nggak juga sih, Om Bro. Saya cuma nekat aja. Hahaha...!!

3. Pelajari peluang usaha melalui pengalaman di lapangan

Mempelajari potensi pasar tidaklah melulu harus memperhatikan peluang usaha yang sama dengan bidang pekerjaan Anda sekarang. Ada kalanya seseorang justru mendapatkan peluang usaha dari bidang yang "nggak nyambung" dengan keahliannya.

Salah satu teman saya berprofesi sebagai pemborong proyek perumahan, padahal dulunya dia seorang salesman produk air mineral.

Nggak nyambung, kan?

Tapi ya begitu... Dia mendapatkan banyak ilmu dan informasi selama berprofesi sebagai salesman. Salah satunya ya ini... Informasi dan ilmu tentang peluang usaha sebagai pemborong bangunan.

4. Menabunglah saat masih bekerja di perusahaan lain

Untuk bisa membuka usaha sendiri, Anda tentu harus punya modal materi disamping ilmu. Karena ilmu yang telah Anda dapatkan tidak akan dapat dipraktekkan jika tidak dibarengi dengan modal materi. Dan ingatlah untuk menyiapkan dana cadangan diluar modal pokok. Ada kalanya rencana usaha yang sudah dipertimbangkan pun tidak langsung berjalan dengan mulus.

5. Lakukan riset pasar dan tentukan bidang usaha yang akan Anda geluti

Setelah Anda membaca peluang dan memiliki sejumlah tabungan, mulailah melakukan riset pasar.

Sebagai contoh,

* Jika Anda tinggal di lingkungan perumahan yang masih relatif baru, Anda berpeluang untuk membuka warung kelontongan, usaha kuliner praktis, bisnis ketering, laundry atau usaha isi ulang air minum kemasan galon.

Munurut apa yang saya lihat, penghuni perumahan (termasuk saya) cenderung lebih suka jajan ketimbang masak sendiri dirumah. Dan itu bukan cuma hasil pengamatan saya saja. Sebelum membuat artikel ini, saya sempat juga sharing dengan setidaknya 4 orang yang juga penghuni perumahan.

6. Cari informasi sumber bahan baku / produk termurah dengan kualitas bagus atau standar

Jika Anda sudah memutuskan pilihan jenis usahanya, tibalah saatnya Anda mencari sumber bahan baku / produk yang akan dijual. Tidak usah buru-buru. Anda cari informasi yang tepat selagi Anda masih kerja pada perusahaan lain.

Bagi Anda yang pada akhirnya memilih untuk membuka usaha warung atau sales freelance canvaser / motoris...

Baca: sumber barang murah, metode penetapan harga jual dan rute terbaik motoris

7. Lakukan eksperimen untuk memperhitungkan potensi pendapatan vs kebutuhan hidup layak

Setelah Anda siap memulai usaha, lakukanlah beberapa eksperimen (percobaan).

* Misalnya, Anda bermaksud membangun usaha warung bakso, maka cobalah buat sekiranya 1 kg bakso, kemudian buatlah porsi seukuran yang kira-kira sama / lebih besar dari porsi tukang bakso yang lain (di daerah Anda). Hitunglah berapa porsi yang didapat, kemudian konversikan dengan rata-rata harga jual di daerah Anda. Setelah didapat hasilnya, coba hasil itu dikurangi nominal modal yang sudah Anda keluarkan.

Minimal potensi keuntungan yang di dapat haruslah mencapai 50% (untuk makanan olahan).

Jadi misalnya modal Anda 100 ribu, dengan rencana harga jual 10 ribu/porsi, maka produk bakso Anda haruslah menjadi 15 porsi/1 kg. Dan itu adalah angka minimal. Idealnya, bisnis kuliner haruslah memiliki potensi laba kotor hingga 100%.

Hahaha...!! Rancu susunan katanya ya? Tapi kira-kira bisa dipahami maksudnya, kan?

Singkatnya sih, jika modal Anda 100,000 rupiah, maka Anda harus mendapatkan omset sebesar 200,000 rupiah (dengan asumsi produk terjual habis).

Kenapa harus sebesar itu, Mas?

Karena banyak resiko yang harus ditanggung oleh pengusaha kuliner. Banyak pengeluaran-pengeluaran kecil yang sering luput dari perhitungan modal awal.

Selain itu, usaha kuliner juga memiliki resiko kerugian jika produknya tidak terjual habis. Berbeda dengan produk kelontongan yang lebih tahan lama (nggak basi).

* Contoh lain,

Jika Anda memutuskan untuk menjadi salesman freelance, maka cobalah Anda jalankan dulu dihari libur kerja (hari minggu). Lakukan setidaknya 4 kali percobaan (1 bulan), barulah Anda bisa mengambil keputusan bulat.

8. Mulailah usaha dengan berjualan keliling untuk memperkenalkan brand dan membangun pondasi usaha yang kokoh

Jika Anda tinggal di sekitaran Tigaraksa, Tangerang, Anda pasti (mungkin) tahu Mie Ayam Mas Endut. Lokasinya ada di pentokan gerbang belakang perumahan Sudirman Indah. Mie Ayam yang cukup ramai pengunjung setiap harinya.

Baso Mang Timan

Dari informasi yang saya dapat, Mie Ayam Mas Endut ini mengawali usahanya dengan berjualan keliling selama 10 tahun. Hebat kan?

Kemudian di pasat Tanah Abang Blok.A, Jakarta, Anda dapat menemukan Mie Yamin Bandung di area foodcourtnya. Pak Tris, pemilik usaha tersebut pun mengawali usahanya dengan berjualan mainan keliling.

Kemudian ada Mie Ayam OSIS di depan ex gedung Kenanga (sekarang Toserba Samudera) Banjar Patroman, Jawa Barat. Pun dia mengawali usahanya dengan berjualan di area sekitar sekolah-sekolah di Banjar.

Sekarang, Mie Ayam tersebut menjadi salah satu kuliner terramai di Banjar.

Menurut Mas No, pemilik usaha Mie Ayam tersebut, dia hampir tidak pernah istirahat selama jam buka. Mie Ayamnya selalu ramai dari mulai buka hingga semua produk habis terjual. Hebat kan?

Ada lagi, di depan SPBU Langensari, Banjar Patroman, disitu ada sebuah toko grosir (saya lupa namanya) yang mengawali karirnya dengan menjadi motoris freelance produk makanan ringan selama 5 tahun.

Dan masih banyak contoh usaha sukses lainnya yang mengawali usaha dengan cara berjualan keliling.

Lalu bagaimana jika saya mengawali usaha dengan langsung menetap di suatu tempat?

Pada dasarnya bisa saja, tapi resiko kegagalannya lebih besar dibanding dengan yang berjualan keliling.

Usaha kecil tanpa pondasi / pengenalan brand yang kuat, rentan sekali gagal. Selain itu, Anda juga harus memiliki modal berlapis untuk mendukung kelangsungan usaha selama belum berjalan dengan lancar. Salah satunya adalah anggaran promosi.

Kenapa harus ada anggaran promosi?

Karena kita hidup di jaman dengan persaingan serba ketat. Mengawali usaha tetap di jaman ini tanpa promosi, berarti Anda harus sudah siap untuk di pecundangi oleh kompetitor Anda.

9. Buatlah administrasi sederhana untuk meminimalisir potensi kerugian

Tidak harus dengan sistem administrasi yang sepenuhnya benar. Cukup dengan corat-coret sederhana, asal rapi dan mudah dimengerti oleh Anda sendiri.

Tidak harus super detail seperti sistem administrasi di perusahaan besar. Yang penting mencakup modal belanja (termasuk biaya awal untuk membeli perlengkapan), biaya operasional, biaya gaji (jika sudah memiliki karyawan) serta biaya lain-lain. Konversikan dengan pendapatan satu bulan, dan lakukan stock opname setiap akhir tahun.

Ah... Pengusaha-pengusaha kecil kebanyakan nggak punya pembukuan, Mas Bro...!?

Iya. Itu sekarang setelah usahanya berjalan lancar. Anda tidak tahu bagaimana perjuangan mereka di masa lalu. Lagi pula, mereka mengawali usahanya di jaman persaingan belum seketat sekarang.

10. Konsisten dan siap untuk waktu kerja lebih panjang

Jika Anda ingin menjadi wirausahawan yang sukses, maka jangan pernah berpatokan pada jam kerja seperti pada saat Anda masih bekerja di perusahaan lain.

Baca: kiat sukses usaha warung nasi dan kelontongan ala Pak Suhara

Dari link di atas, Anda bisa mencari tahu, bagaimana seorang pengusaha warung bekerja selama 18 jam sehari, tapi tetap disiplin dalam beragama dan bermasyarakat.

11. Tempel posisi / lokasi usaha kompetitor

Ini salah satu strategi dari dua raksasa minimarket di Indonesia, yaitu Indomaret dan Alfamart. Coba Anda perhatikan... Setiap ada salah satu dari keduanya yang mendirikan cabang disuatu tempat, maka satu yang lainnya akan segera mendirikan dilokasi yang berdekatan atau bahkan satu lokasi persis.

Sayangnya, tidak jarang calon pengusaha kecil yang justru menghindari persaingan. Padahal, dengan Anda berdiri disebelah kompetitor, sejatinya Anda sudah mendapatkan promosi secara gratis. Pelanggan kompetitor Anda akan segera tahu bahwa disitu ada Anda yang masih baru.

Umumnya manusia normal (entah dalam waktu panjang atau pendek), pasti akan merasa penasaran untuk mencoba "sesuatu yang lain". Disitulah Anda bisa menunjukkan bahwa Anda memiliki produk yang tidak kalah (bahkan lebih baik) dari pada produk kompetitor Anda.

Cara inilah yang saya tiru sampai sekarang. Saya sering kali masuk ke area pasar freelancer lain dengan cara mendahuluinya secara jam kerja.

Hasilnya...?

Alhamdulillah... Walau belum menjadi wirausahawan sukses, tapi saya bisa katakan pada Anda bahwa saya mampu bertahan di tengah kondisi ekonomi yang sedang lesu seperti sekarang ini.

Baca juga: kiat usaha kecil tetap melejit meski kondisi ekonomi sulit

***

Oke Om Bro dan Tante Sis... Kapan Anda akan menyusul jejak para pengusaha sukses? Segeralah sebelum persaingan semakin ketat.

Comments