Skip to main content

Mudik Pakai Motor? Ini Dia Alasan serta Tips Aman untuk Motor Matic dan Manual

Baca Juga

Kali ini saya ingin berbagi pengalaman mudik naik sepeda motor dari Jakarta menuju Ciamis. Rute yang saya lalui adalah jalur selatan yang yang juga bisa dilalui untuk pemudik tujuan Jawa Tengah.

Langsung saja...

Tahun 2009 adalah kali terakhir ATPM sepeda motor di Indonesia (utamanya Honda dan Yamaha) mengadakan acara mudik bareng konvoi sepeda motor. Tahun-tahun berikutnya, para ATPM dan banyak lembaga (Dishub dan sebagainya) mengalihkan kebijakan mudik bareng menggunakan bus, kereta api dan alat transportasi besar lainnya. Hal ini didasari atas fakta bahwa angka kecelakaan pada musim mudik didominasi oleh pengendara sepeda motor.


Ya... Sejatinya sepeda motor memang dirancang bukan untuk berkendara jarak jauh.

Namun semua kebijakan tersebut tidak serta merta menurunkan jumlah pemudik roda dua. Banyak para bikers yang tetap lebih memilih untuk mudik dengan mengendarai kuda besinya. Termasuk saya sendiri, selama kurun waktu 2009 sampai 2014 selalu mudik menggunakan sepeda motor.

Pilihan tersebut bukanlah tanpa dasar. Ada banyak alasan yang menjadi penyebab dipilihnya sepeda motor sebagai alat transportasi mudik.

1. Hemat biaya

Ini alasan pertama yang paling mendasar buat saya. Contoh kecil berikut ini yang saya alami,

Pada lebaran tahun 2010, saya mengantar istri saya (saat itu masih pacar) ke terminal Kalideres, Jakarta. Tujuan mudik adalah Ciamis, Jawa Barat.

Tahun itu saya mudik masing-masing, nggak bareng pacar karena hari libur kerja yang berbeda.

Pada hari-hari biasa, tarif bus dari Kalideres menuju Banjar Patroman hanya 45,000 - 50,000 rupiah saja. Ternyata pada puncak arus mudik tahun itu, istri saya dikenakan tarif 120,000. Luar biasa kan? 140% lebih kenaikannya.

Jika saat itu saya berdua istri mudik menunggang bus, maka ongkos mudik saya adalah 120,000 x 2 = 240,000. Belum lagi ongkos angkot/mikrolet/ojek dari rumah asal (saat itu pacar saya tinggal di Tangerang Kota) ke Kalideres dan dari terminal Banjar Patroman menuju rumah. Habislah 300,000 berdua.

Bandingkan dengan mudik roda dua.

Jarak dari Tangerang Kota kekampung saya (Ciamis Timur) adalah +/- 350 km. Untuk jarak itu, saya hanya menghabiskan 7 liter bensin premium dengan harga saat itu 4,500/liter = 31,500. Edan!! Hanya 1/10 (lebih sedikit) dari ongkos bus untuk 2 tiket.

Saat itu saya menggunakan Honda Fit X 100cc. Tapi ditahun-tahun berikutnya saat  saya menggunakan Vega R dan Honda Spacy pun konsumsi bahan bakarnya hampir sama. Nggak berasa bedanya. Nggak sampai 1 liter beda konsumsinya.

Lah kalau motor laki gimana, Masbro?

Saya tidak punya bukti otentik, tidak punya pengalaman mudik bermotor laki. Tapi saya yakin untuk kapasitas mesin motor hingga 150 cc nggak akan sampai beda 3 liter. Paling 1-2 liter saja bedanya.

Tapi kan nggak cuma bensin doang, Masbro?! Ada oli, busi dan komponen lain yang juga harus diperhitungkan.

Betul, Ombro. Tapi diingat juga! Oli kan kepakai dari berangkat sampai balik mudik. Nggak habis! Jarak mudik 350 km bolak-balik cuma 700 km. Anggaplah selama dikampung kita jalan-jalan sampai 300 km, total pemakaian hanya 1,000 km. Sedangkan daya tahan oli mineral sekelas Enduro 4T yang standar aja mencapai 3,500 km. Apalagi jika Anda menggunakan Enduro Racing atau Motul yang yang notabene oli sintetis (semi sintetis), daya tahannya sampai 5,000 km. Masih ada sisa jarak banyak sampai kita balik kekota lagi.

Anggaplah Anda pakai Motul 3100 gold. Ditahun 2010 harganya cuma 48,000. Artinya hanya 24,000 rupiah untuk oli sekali jalan.

Baca juga: panduan memilih oli mesin 4T

Itu faktor dasar yang pertama.

2. Tidak terlalu terjebak macet

Tren mudik yang semakin meningkat, membuat kemacetan juga meningkat. Tapi semacet-macetnya mengendarai sepeda motor, tentu lebih macet lagi pengendara mobil.

Waktu tempuh saya untuk jarak 350 km adalah 10 jam dihari biasa. Waktu 10 jam itu saya dapatkan dengan menunggang motor bebek/matic dengan kecepatan maksimal 80 km/jam (versi speedometer). Saya biker santai. Dulu sudah pernah seruntulan dan beberapa kali cilaka.

Waktu tempuh bisa lebih pendek jika Anda menunggang motor laki (motor sport) dengan kecepatan lebih tinggi. Tapi nggak usah kenceng-kenceng lah... Cari selamat aja.

Pada musim mudik, waktu tempuh saya dikisaran 12-13 jam. Pernah parah banget sampai 15 jam pada tahun 2012.

Nah, pemudik bis, tetangga saya, pada tahun 2010 dari Kampung Rambutan, Jakarta menuju Banjar Patroman (pas dipuncak arus mudik) menghabiskan waktu 24 jam perjalanan. Edan kan? Dan waktu tempuh sepanjang itu tetap terjadi ditahun-tahun berikutnya.

Padahal, dihari biasa, waktu tempuh bus jauh lebih cepat dari pada motor. Hal itu karena bis masuk jalan tol, sedangkan motor tidak.

3. Bebas menentukan waktu

Ini juga yang menjadikan sepeda motor sebagai pilihan transportasi mudik.
Dengan menunggang motor, waktu keberangkatan kita jadi lebih fleksibel. Kita bebas menentukan waktu keberangkatan. Tidak harus sesuai jadwal, tidak takut ketinggalan seperti jika kita mudik menggunakan transportasi umum. Selain itu, kita juga bebas menentukan waktu dan tempat istirahat selama perjalanan.

4. Tidak mabuk perjalanan

Nah, ini yang memalukan. Saya jadi tidak tampak seperti lelaki sejati kalau menumpang bus. Saya gampang mabok.

Dulu, beberapa orang teman suka mengejek saya, "harusnya elu pakek lipstik kalau mau naik bis!"

Saya penasaran, dong, "emang kalau pakek lipstik jadi nggak mabok?"

Eh, jawab teman, "ya tetap mabok lah. Cuma, pantes aja kalau cewek mabok bis".

Hahaha... Sialan!!

Ya! Biarpun saya ini sekekar Silverster Stallone dan setampan Laonardo Dicaprio, tapi saya juga punya sisi kelembutan, yaitu mabok perjalanan.

Hahaha...! Apa urusannya dengan kelembutan?!

Mudik menggunakan motor membuat saya tidak mabok. Itu karena pandangan mata dan hembusan angin yang bebas.

5. Transportasi dikampung halaman

Rasanya nggak seru kalau kita mudik, tapi dikampung kita hanya berdiam diri dirumah. Kita membutuhkan alat transportasi untuk berkunjung kerumah kerabat jauh atau sekedar jalan-jalan ketempat-tempat wisata.

6. Berjiwa bikers

Kalau ini urusannya dengan hobi. Saya tidak begitu mengerti, hanya kadang saya juga merasakan sensasi yang luar biasa saat riding jarak jauh semisal mudik. Apalagi ditahun 2012 dan 2013 saya mudik bareng beberapa orang teman. Wah... Seru...

7. Baru punya motor dan belum punya mobil

Seorang perantau yang tahun lalu belum punya motor, tentu ingin mencoba saat sudah punya motor. Itu wajar. Saya sendiri juga awalnya begitu.

Hal seperti ini biasanya berubah jika suatu saat orang tersebut memiliki mobil.

Saya punya seorang teman, namanya Bambang. Teman seperjuangan sejak saya kerja di Komala's Restaurant Jakarta, hingga kami sama-sama pindah kerja ke Tangerang.

Awalnya saya duluan yang masuk ke PT.Multi Kencana Niagatama, Serang. Kemudian Bambang juga menyusul masuk kerja di PT.Nusantara Electic, Balaraja, Tangerang. Konon, dua perusahaan ini masih milik satu orang, namanya Apuy..

Anda yang membaca tulisan ini mungkin bertanya-tanya, "apa hubungannya antara mudik bersepeda motor dengan Komala's, Multi, dan NE serta Apuy?"

Hahaha... Saya sendiri yang nulis juga nggak ngerti, apa hubungannya...? Hahahaha...!! Husss! Sudah! Kita kembali ke benang merah...

Begini..

Teman saya ini, Bambang, dia sudah sejak lama terbiasa mengendarai mobil ataupun motor. Karena dia terbiasa dengan keduanya, tentu dia dapat memahami kekurangan dan kelebihan berkendara dengan motor ataupun mobil.

Menurut Bambang, "saat Anda memiliki mobil, Anda akan merasa malas bermotor jarak jauh. Karena bermotor jarak jauh lebih capek dari pada bermobil".

Karena itulah Bambang hanya menunggang motornya untuk keperluan dalam kota, semisal transportasi berangkat dan pulang kerja, ataupun keperluan lain yang harus melalui kemacetan.

Yah, menurut saya, perkataan Bambang itu sangat masuk akal. Sama seperti perkataan kebanyakan orang yang juga memiliki mobil.

***

Nah, itulah beberapa hal yang menjadi alasan banyak orang tetap memilih sepeda motor sebagai alat transportasi mudiknya.

***

Sebelum kita masuk ke bahasan selanjutnya, perhatikan diawal tulisan saya diatas, bahwa angka kecelakaan arus mudik didominasi oleh sepeda motor. Dan diparagraf akhir, menurut Bambang, bahwa bermotor lebih capek dari pada bermobil. Namun jika Anda tetap ingin mudik menunggang motor, berikut ini saya share tips aman sesuai pengalaman saya (walaupun cuma sedikit pengalamannya).

1. Persiapkan dan periksa motor sebelum berangkat

Pada tahun 2009, saya pernah berkonsultasi dengan salah seorang mekanik bengkel resmi Honda (AHASS) di Galur, Jakarta (saya lupa nama bengkelnya). Mekanik tersebut menyarankan saya untuk men-servis motor 1-2 minggu sebelum keberangkatan. Hal itu untuk memastikan bahwa motor ada dalam kondisi prima saat perjalanan mudik.

Selain servis, Anda juga perlu membawa obeng, kunci busi, busi cadangan, bohlam cadangan, dan ban dalam cadangan. Hal itu untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Baca juga: langkah-langkah menuju aman dan nyaman bermotor

Dari beberapa hal yang harus dibawa diatas, barangkali timbul pertanyaan dalam benak Anda, "Untuk apa?"

Begini, Ombro...

Salah seorang teman sekampung pernah bercerita pada saya, dia mengalami bocor ban dalam perjalanan mudik diruas jalan Puncak, Bogor. Saat itu dia bermaksud menambal ban motornya, tapi naas, ban dalamnya robek cukup parah.

Karena tidak membawa ban dalam cadangan, terpaksa dia mengganti dengan ban dalam seadanya dibengkel tersebut.

Tapi apa yang terjadi...?

...dia harus membayar 100,000 rupiah untuk ban dalam bermutu jelek yang seharusnya hanya seharga 25,000-30,000 saja.

Apes kan?

2. Siapkan stamina dengan cukup istirahat

Idealnya, Anda harus cukup istirahat sebelum menempuh perjalanan mudik yang jauh. Tapi kadang hal itu sulit dilakukan.

Saya, dulu, sering kurang istirahat sebelum perjalanan mudik. Selain packing barang bawaan, hati dan fikiran yang sudah duluan mudik juga membuat saya susah tidur.

Gimana bisa hati dan fikiran duluan mudik?

Iya. Badan masih diperantauan, tapi pikiran sudah dikampung. Ingat kampung halaman, ingat keluarga dan orang tua. Apalagi Anda yang punya pacar dikampung... Waahhh... Lebih gelisah lagi.
Untunglah pacar saya (sekarang istri) dulu sama-sama merantau. Udah gitu, kota perantauan dia dekat dengan kota perantauan saya. Hahaha...!!!

Nah, jika Anda mengalami masalah seperti saya (sulit istirahat dijam-jam akhir menjelang keberangkatan mudik), maka pastikan Anda minum multivitamin atau biasa disebut juga "suplemen".

Suplemen disini bukanlah superhero yang bertarung melawan Batman.

Hahaha...!!! Itu "superman", Ombro!

3. Mudik bareng

Untuk keamanan selama dalam perjalanan, alangkah baiknya jika Anda mudik bersama rombongan. Gunanya adalah untuk saling membantu jika terjadi masalah, misalnya mesin motor mogok atau bocor ban. Selain itu, mudik bareng juga akan memperkecil potensi kejahatan semisal begal motor.

Pasti konyol kalau ada begal yang nekat merampok rombongan konvoi.

Tapi walaupun begitu, pada beberapa kasus, mudik bareng juga bisa jadi tidak efektif jika Anda serombongan tidak saling mengenal satu sama lain. Bahkan bisa menghambat dan justru memperlambat perjalanan mudik.

Contoh kasus,

Pada lebaran tahun 2012, saya ikut rombongan mudik bareng karyawan GG Cell Tangerang. Kira-kira 10 motor waktu itu. Tapi dari 10 motor (hampir 20 orang), hanya 2 orang diantara mereka yang saya kenal. Dan sialnya, ternyata dalam rombongan itu banyak diantaranya yang sulit dikoordinasi.

Kami berangkat sekitar jam 23.00 dari Jatiuwung, Tangerang.

Baru beberapa kilometer perjalanan, di Serpong kami berhenti. Sebagian dari anggota rombongan mengisi bensin di SPBU. Selesai, perjalanan pun dilanjutkan.

Sampai Tajur, Bogor, rombongan berhenti lagi. Sebagian diantara kami ada yang mengisi bensin lagi di SPBU.

Untuk mencegah hal itu berulang-ulang, saya serukan kepada semua rombongan agar mengisi BBM motornya full-tank. Tapi karena mereka tidak mengenal saya, mereka acuh saja.

Hahaha...!! Kasihan deh saya dicuekin.

Ketika turun dari Puncak, Bogor, beberapa orang masuk lagi ke SPBU untuk mengisi bahan bakar motor. Dan entah karena jengkel atau karena tidak tahu, sebagian diantaranya bablas meninggalkan rombongan.

Walaupun tadi diatas saya bilang, "mudik bareng = seru", tapi kalau tidak terkoordinir begini ya jadinya nggak seru.

Dan benar saja, karena terlalu sering berhenti, akhirnya masuk ke Bandung kesiangan. Pemudik Bandung mulai turun gunung yang berakibat macet parah disepanjang jalan Sukarno-Hatta, bahkan sampai ke Nagreg.

Jadi kesimpulannya, mudik bareng jika rombongan bisa kompak, atau mudik sendiri jika dirasa rombongan tidak akan bisa kompak.

4. Tentukan waktu mudik sesuai karakter Anda

Waktu terbaik untuk perjalanan mudik adalah siang hari. Tapi hal itu bisa terbalik jika Anda mengidap "kelainan" seperti saya.

Hah! Kelainan apa, Masbro?

Hahaha...! Tenang, Ombro. Bukan kelainan se*ual. Saya pria normal. Hahaha...!

Maksudnya kelainan begini...

...saya merasa mudah sekali mengantuk dan cepat lelah jika riding jarak jauh disiang hari. Badan saya justru lebih bugar untuk mudik dimalam hari.

Nah, bagi Anda yang "lebih siap" mudik malam ketimbang siang, Anda juga mendapatkan 2 keuntungan lain, yaitu:

* tetap bisa menjalankan Puasa Romadhon, dan,
* waktu tempuh lebih cepat karena lalu lintas relatif lebih macet disiang hari.

Tapi dicatat! Stamina Anda harus betul-betul siap, atau Anda memang betul-betul lebih kuat perjalanan malam ketimbang siang. Jangan memaksakan diri semata-mata karena ingin menghindari macet.

Tetap nikmati kemacetan jikapun Anda harus mudik disiang hari.

Yah... Harus begitu.

Seorang teman senior pernah berkata pada saya, "Kalau nggak macet ya bukan lebaran namanya".

Dipikir-pikir benar juga.

Jadi kalau memang Anda yakin, boleh lah mudik malam hari. Tapi jangan lupa baca "Bismillah" sebelum berangkat, dan selalu "Dzikir" dalam hati selama dalam perjalanan.

5. Sesuaikan rute dengan waktu keberangkatan

Bagi Anda yang (mungkin) tahun ini adalah pertama kalinya mudik bermotor, atau Anda yang ingin mencoba rute lain, saya akan sharing rute dan waktu terbaik melalui jalur-jalur tersebut. Tapi dicatat, saya terakhir kali mudik pada lebaran tahun 2014. Situasi dan kondisi saat ini dan seterusnya mungkin sudah berubah.

Di poin ini saya hanya bisa memberikan contoh jalur mudik saya sendiri. Rute saya adalah dari Jakarta/Tangerang menuju Tasikmalaya, Ciamis, Banjar Patroman, Pangandaran, Majenang, Cilacap atau Purwokerto melalui jalur selatan dan jalur tengah. Ada 3 rute yang pernah saya coba,

#1 Dari Jakarta, patokan kita pakai Monas.

Monas => Senen => Pulogadung => Bekasi Kota => Cikarang => Karawang => Cikampek => Purwakarta => Padalarang => Cimahi => Bandung (Jalan Sukarno-Hatta) => Cibiru => Cileunyi => Nagreg => Malangbong => Garut (hanya arahnya saja) => Limbangan => Gentong => Tasikmalaya => Ciamis Kota => Banjar Patroman.

Sampai Banjar, Anda bisa melanjutkan ketujuan Anda, Jawa Tengah atau Pangandaran.

Dirute ini, potensi kemacetannya adalah dari Jakarta sampai Cikampek. Waktu terbaik berangkat dari Jakarta adalah jam 3.00 - jam 4.00. Tergetnya adalah, lewati Cikampek sebelum jam 6 pagi. Karena kalau Anda jam 6 belum sampai Cikampek, maka Anda berpotensi terjebak macet parah.

Ingat! Cikampek adalah persimpangan antara jalur pantura dan jalur selatan.
***
Adapun untuk perjalanan malam hari, rute ini tidak saya anjurkan.

Saya pernah menjajal rute ini pada H-2 lebaran 2010. Saya berangkat dari gedung Sarinah, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat pada jam 00.30 dini hari. Saya melaju dengan kecepatan 80-90 km/jam (versi speedometer Honda Fit X) dan pada kisaran jam 2 lebih sedikit, saya sudah keluar Cikampek dan mulai masuk kearah Purwakarta.

Tadinya, sebelum berangkat, saya berasumsi bahwa pada malam itu lalu lintas akan ramai, karena tinggal 2 hari lagi menuju Lebaran.

Tapi ternyata...

...dalam perjalanan antara Purwakarta menuju Padalarang, lalu lintas sepi bukan main. Entah berapa kilometer saya berkendara seorang diri melalui hutan, tanpa satupun kendaraan lain. Ngeri banget, sumpah!

Sempat saya mengikuti sebuah motor yang berboncengan berdua. Saya merasa agak lega saat itu karena ada teman pengendara lain. Tapi ternyata lagi, pengendara didepan saya justru malah (sepertinya) ketakutan. Hal itu terlihat jelas dari gelagat si pembonceng. Berulang kali dia menoleh kebelakang, kearah saya, hingga akhirnya motor itu berhenti ditepi jalan.

Saya tidak terlalu heran. Wajar jika pengendara itu merasa curiga karena saya buntuti terus. Mungkin dia takut kalau saya ini perampok. Tapi yang saya heran, masa sih wajah setampan saya sampai dianggap perampok? Hahaha...!

Tapi ya sudahlah. Terpaksa saya melanjutkan perjalanan sendirian lagi. Alhamdulillah, akhirnya saya mencapai Padalarang dengan selamet. Sampai sini lalu lintas cukup ramai dan relatif aman dari ancaman kejahatan.

#2 Rute berikutnya saya berikan contoh pemberangkatan dari Tangerang. Untuk pemberangkatan dari Jakarta, hanya perlu sedikit penyesuaian dari Jakarta menuju Bogor.

Tangerang Kota => Serpong => Parung => Bogor (Jalan Tajur) => Puncak => Cianjur => Padalarang => Cimahi => Bandung (Jalan Sukarno-Hatta) => Cibiru => Cileunyi => Nagreg => Malangbong => Garut (hanya arahnya saja) => Limbangan => Gentong => Tasikmalaya => Ciamis Kota => Banjar Patroman.

Rute ini cocok bagi Anda yang berniat menempuh perjalanan malam. Waktu terbaik pemberangkatan dirute ini adalah selepas Tarawih. Jam 8-9 malam.

Dengan pemberangkatan dijam itu, maka sebelum tengah malam, Anda sudah mencapai Puncak Bogor. Tidak perlu takut lalu lintas sepi seperti di Purwakarta, karena jalur Puncak selalu ramai pada musim mudik.

Jika pada tengah malam Anda sudah turun dari Puncak, maka sebelum jam 3 pagi, Anda sudah mencapai Jalan Sukarno-Hatta, Bandung. Jalan inilah yang kita kejar. Karena jika Anda terlambat, masuk ke Bandung setelah Shubuh, maka besiaplah untuk macet total.

Saya pernah menghabiskan waktu 4 jam untuk keluar dari Bandung gara-gara kesiangan. Jadi, hindari kesiangan di Bandung.

#3 dari Purwakarta menuju Subang => Majalengka => Cikijing => Rajadesa => Rancah => Cisaga => Banjar Patroman.

Ini jalur tengah. Jalur alternatif. Dulunya ini adalah jalur alternatif yang cukup lancar untuk mudik disiang hari. Bahkan ATPM Honda, pada Lebaran 2009 melalui jalur ini pada mudik bareng konvoi motor. Hanya saja bedanya, dari Cikijing mereka menuju Cirebon. Masuk kembali kejalur Pantura. Dan itu juga merupakan tahun terakhir Honda dan Yamaha mengadakan mudik bareng dengan cara konvoi.

Tapi...

Di hari yang sama dengan mudik konvoi ATPM Honda, saya juga melalui rute itu dalam perjalanan mudik saya. Nyatanya jalur itu juga macet lumayan parah. Mungkin karena sudah banyak orang yang mengetahui jalur tersebut.

Selain 3 rute diatas, ada juga rute alternatif dari Karawang melalui Jonggol, menemui Bang Ocid dan Sony Wakwaw. Hahaha...!! Ngawur.

Tapi saya belum pernah mencoba jalur ini, jadi saya tidak bisa merekomendasikan apa-apa.

Nah... Demikianlah sekilas tentang rute mudik.

6. Istirahat dalam perjalanan, jangan targetkan waktu sampai tujuan

Walaupun diatas tadi saya sebutkan target pencapaian titik macet tertentu, tapi tetaplah dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Sekiranya Anda agak terlambat berangkat, maka jangan paksakan untuk dapat mencapai target.

Ingat! Keselamatan Anda adalah prioritas utama. Ingat! Keluarga Anda menunggu dirumah. Jangan sampai event Hari Raya berubah jadi hari berkabung karena Anda celaka dalam perjalanan.

Saya mencontohkan pengalaman pahit saya sendiri. Dulu saya beberapa kali menargetkan untuk mudik dengan waktu tidak lebih dari 10 jam perjalanan (termasuk istirahat dalam perjalanan). Tapi apa yang terjadi...

* pada bulan Juni 2009, saya membonceng keponakan menggunakan Honda Fit X, menabrak sebuah mobil minibus di Limbangan. Semua itu terjadi karena saya buru-buru. Jarak antara saya dengan mobil dedepan terlalu rapat sehingga saya tidak mampu mengendalikan motor pada saat mobil nge-rem mendadak. Saat itu bukan perjalanan mudik Lebaran sih...

Beruntung saya tidak terjatuh.

* kemudian pada tahun 2011 (saya lupa bulannya) saya "menghajar" tambalan lubang jalanan diruas jalan antara Karawang dan Cikampek. Karena tambalannya terlalu tebal, tambalan jadi menggunduk tinggi, praktis motor saya melompat cukup tinggi. Kira-kira kayak motor cross lah.

Nah, karena saya ini sejatinya bukanlah crosser, otomatis saya limbung pada saat motor mendarat. Kembali saya masih beruntung tidak jatuh.

* masih dihari yang sama. Diruas jalan antara Cikampek menuju Purwakarta, saya hampir saja terhimpit truk container dan bus antar kota (amit-amit jabang bayi). Entah kenapa saat itu saya merasa Vega R saya kencang banget. Enak banget buat nyalip. Saya nekat menyalip truk container tersebut, padahal didepan ada bus yang jaraknya sudah dekat.

Lemaslah saya saat itu. Syukurlah Alloh masih memberikan umur untuk saya memperbaiki kelakuan yang seperti itu.

Dan sejak saat itu, saya berubah menjadi rider yang lebih kalem. Lebih woles. Tidak lagi menargetkan kecepatan dan waktu tertentu.

***

Nah... Demikianlah sedikit sharing saya, semoga bermanfaat, terutama bagi Anda yang tahun ini merupakan pengalaman pertama mudik roda-2.

Keep safety riding... Selamat mudik. Dan jangan lupa ucapkan, "Alhamdulillah... saat mencapai tujuan.

Comments