Perang Tanding Honda vs Yamaha di Indonesia: dari Motor Jadul Hingga Teknologi Modern

Baca Juga

Lagi jalan-jalan didunia maya, nggak sengaja nyangkut di warungasep.net. Pas banget diartikel yang membahas perang Honda vs Yamaha. Ya.... ...perang 2 kerajaan besar ini memang seakan tidak akan pernah berakhir. Secara singkat, warungasep.net meberikan komparasi 2 merk motor ini lengkap dengan gambar produk-produknya, yaitu sebagai berikut,

* Honda C70 vs Yamaha V80
* Honda S90 vs Yamaha L2G
* Honda CB100 vs Yamaha LS3
* Honda GL100 vs Yamaha RX100
* Honda GL Pro vs Yamaha RX King
* Honda Grand vs Yamaha Alpha

Honda Win 100

Diantara beberapa komparasi produk tersebut diatas, sebenarnya ada juga beberapa model yang terselip, diantaranya Yamaha Sigma, Honda Astrea Star, Prima, Impressa dan lain-lain.

Itulah beberapa diantara produk Honda vs Yamaha di era 70-an sampai 90-an.

Saya pribadi menganggap dimasa itu belum terjadi perang sengit, karena jenis produknya masih berbeda. Yamaha (termasuk juga Suzuki, Piaggio Vespa, Kawasaki Binter) masih bergelut di jalur 2 tak. Hanya Honda saja yang melenggang mulus (nyaris) tanpa perlawanan di jalur 4 tak.

Saking kuatnya brand Honda di era 80-90-an, dikampung saya sampai muncul anggapan bahwa, "motor adalah Honda".

Maksudnya gimana, Masbro?

Begini...

Dijaman itu, kalau ada (misalnya) seorang guru yang menunggang Vespa sedang melintas, orang-orang dikampung saya akan berkata,

"Wah, Pak Guru naik Honda Vespa".

Hahaha...!! Padahal Vespa itu kan Piaggio lho ya? Iya, begitu. Begitu juga jika ada motor merk lain yang melintas, tetap disebutnya "Honda".

Kembali ke soal 2 tak vs 4 tak.

Akibat dari adanya 2 jenis yang berbeda, maka muncullah 2 kubu diantara para konsumen saat itu. Timbulnya kubu tersebut disebabkan karena anggapan masing-masing yang seperti ini,

* Satu kubu lebih suka motor 4 tak (Honda) karena irit BBM. Ya. Konsumsi BBM motor 4 tak saat itu memang lebih irit dibanding motor 2 tak. Belum lagi dengan oli samping yang juga menjadi biaya tambahan pada konsumsi motor 2 tak.

* Satu kubu lagi lebih suka motor 2 tak (Yamaha, Suzuki, Piaggio) karena tarikan (akselerasi) yang spontan. Selain itu juga mereka menganggap bahwa Honda (motor 4 tak), jika ada kerusakan akan nge-rembet (satu komponen rusak, komponen yang lain ikut rusak). Sehingga biaya servis lebih mahal.

Nah, kembali ke benang merah..

Saya menganggap di era itu, perang antara Honda vs Yamaha masih pada fase perang dingin. Sedangkan perang terbuka baru pecah dari sini,

1. Honda Astrea Supra vs Yamaha Crypton vs Suzuki Shogun 110

Suzuki mencoba menginvasi pasar motor 4 tak dengan memproduksi Shogun 110 pada tahun 1995. Produk yang biasa disebut "sogun kebo" ini, mendapat market share yang lumayan dari pasar 4 tak.

Melihat teman satu aliran mulai menjajal kedigdayaan Honda, Yamaha pun segera membangun pasukan kecil yang diberi nama Yamaha Crypton yang dipersenjatai dengan rem cakram double piston dilingkar roda depan, pada tahun 1996. Namun, sebagai bebek pertama di Indonesia yang mengaplikasikan rem cakram, Crypton masih tetap jauh tertinggal, bahkan oleh Shogun 110 punya Suzuki. Yah! Disitulah kelebihan Shogun. Pada saat Honda dan Yamaha masih menggunakan mesin 100cc pada bebeknya, Suzuki sudah mendahului dengan 110cc. Bahkan sampai awal tahun 2000-an, posisi Suzuki (dengan Shogun) masih diatas posisi Yamaha (dengan Crypton).

Menyadari ancaman dari 2 kubu (Yamaha dan Suzuki), Honda segera mengganti baju perang bebeknya dengan membangun Honda Astrea Supra 100cc pada tahun 2007. Ya... Hanya ganti baju (rada sporty), dengan basis mesin tetap sama seperti Astrea Prima, Star dan Grand.

Memang salah satu hal yang menarik dari Crypton dan Shogun adalah design body yang lebih sporty dibanding Honda yang gitu-gitu aja.

Tapi kejayaan Honda Supra 100 tidak berlangsung lama. Memasuki era krisis ekonomi dan moneter yang melanda dunia (termasuk Indonesia) pada akhir 2007 - 2008, Honda Supra 100 justru malah menjadi proyek percontohan motor-motor Cina yang mencoba menginvasi pasar motor tanah air. Semakin kacaulah penjualan Honda, Yamaha dan Suzuki di "hajar" oleh produk-produk Cina yang notabene menawarkan harga yang jauh lebih murah.

Kurs rupiah terhadap USD yang anjlok dari 2,500 menjadi 15,000 per-USD, menuntut pabrikan sebesar Honda, Suzuki, Yamaha dan lain-lain harus menaikkan harga jual motornya menjadi berlipat-lipat dari harga sebelumnya. Hal itu tentu menjadi fokus utama menjamurnya dealer-dealer motor Cina semisal Jialing, Sanex, Zealsun dan banyak merk-merk lainnya.

Saya sendiri saat itu tidak melihat langkah yang jelas dari Yamaha dan Suzuki untuk membendung invasi dari negeri tirai bambu itu. Hanya Honda yang kembali memproduksi bebek model jadul dengan nama Honda Legenda, dengan harapan mampu menarik kembali marketnya yang menghendaki sepeda motor dengan harga murah.

Apakah berhasil?

Tidak juga. Honda hanya mampu menjual segelintir produknya tersebut karena design yang kembali ke era 90-an. Keadaan justru berbalik dengan sendirinya setelah konsumen menyadari "remuknya" mutu motor-motor Cina.

2. Honda Tiger vs Suzuki Thunder 250 vs Yamaha Scorpio

Dimasa krisis itu, Suzuki sempat mencoba menyerang Honda dari lini Sport. Tapi tidak berhasil. Honda Tiger yang hanya memiliki kapasitas silinder 200 cc tetap tak tergoyahkan oleh mesin yang lebih besar dari Suzuki Thunder 250. Salah satu fakta yang menarik adalah, Suzuki hanya menerapkan sistem 5 gigi percepatan, padahal Tiger sudah menerapkan 6 gigi percepatan.

Saat itu Yamaha juga tidak tinggal diam. Pada tahun 2001, Yamaha menelurkan Scorpio dengan kapasitas 225 cc. Terselip diantara Tiger dan Thunder. Walaupun secara populasi Honda Tiger tetap lebih banyak berkeliaran dijalanan, tapi pada perkembangannya, Scorpio ini mampu meraih market share yang lumayan.

Hanya lumayan? Ya wajar saja. Honda Tiger sudah lahir 8 tahun sebelum Yamaha Scorpio.

3. Honda Supra vs Yamaha Jupiter dan Honda Supra Fit vs Yamaha Vega

Disini produk Honda mulai tidak jelas. Mungkin karena kalang kabut, Honda mengenakan rupa-rupa baju pada mesin yang itu-itu saja.

Pada tahun 2001, Yamaha menjajal kekuatan Honda Supra dengan dengan memproduksi Vega 100. Namun Honda berkelit dengan memproduksi Supra Fit sebagai produk murah, yang dikemudian hari gonta-ganti baju menjadi Supra Fit New, Fit S, kemudian terakhir menjadi Fit X.

Ditahun yang sama, Yamaha merubah strateginya dengan men-down grade Vega menjadi produk murah, dan menyisipkan Jupiter (mata burung hantu) untuk menghadapi Honda Supra. Dan hasilnya memang bagus. Yamaha melalui Vega sanggup menusuk langsung ke jantung pertahanan Honda. Perlahan tapi pasti, penjualan Yamaha mulai terdongkrak naik dengan gencarnya iklan Vega yang dibintangi oleh 2 orang aktor kawakan, Dedi Mizwar dan Didi Petet.

Di segmen ini Suzuki sempat juga menyusup diantara Yamaha dan Honda dengan Smashnya. Tapi nyatanya "si gesit irit" tidak mampu mengejar Yamaha yang sebelumnya tertinggal di era Shogun Kebo 110.

4. Yamaha Mio series vs Honda Vario 110 + Beat

Pada tahun 2003, Yamaha mencoba memperluas daerah kekuasaan dengan membangun Yamaha Nouvo. Matic pertama dari Yamaha Indonesia yang mencoba mengambil alih pasar Kymco yang saat itu berkuasa dengan jajaran Jetmatic-nya. Tapi hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Matic dengan bagasi lumayan besar ini hanya mampu maju perlahan kewilayah Kymco.

Tidak putus asa, dua tahun kemudian Yamaha melatih tentara matic baru dari jenis kelamin wanita, yaitu Mio.

Dan...

...sungguh hal yang luar biasa! Bukan hanya merebut pasar milik Kymco, Mio juga berhasil mengobrak-abrik kerajaan Honda yang sudah 34 tahun berkuasa di Indonesia. Pasukan Honda yang saat itu masih didominasi bebek, sanggup dibuat kocar-kacir oleh Mio yang (awalnya) ditujukan untuk kaum hawa.

Honda panik dan segera memanggil para jendralnya dari medan perang. Bahkan salah satu petinggi sempat menelfon saya untuk minta pendapat.

Hahaha...!! Hanya orang bodoh yang percaya bahwa saya telah ditelfon oleh petinggi Honda.

Rapat darurat segera digelar. Disusunlah strategi baru untuk menghadang Mio yang semakin mendekati benteng pertahanan Honda. Sampai akhirnya pada tahun 2006 Honda mampu menghimpun kekuatan baru yang dinamakan Vario dengan kekuatan 110 cc. Namun apa daya... Vario yang bertubuh gambot tidak mampu menarik perhatian konsumen yang menyukai design ramping dan sporty.

Honda makin panik dan mengundang saya untuk membantu menyusun strategi baru. Tapi saya menolaknya karena saat itu saya lagi sakit diare. Hahaha...!!

Pada penghujung tahun 2007, lahirlah Honda Beat yang bukan hanya menghadang serangan Mio, tapi bahkan bisa menyerang balik populasi Mio.

5. Yamaha Jupiter MX 135 vs Honda Supra X 125

Ini sepertinya perang yang tidak seimbang.

Honda Supra X 125

Pada tahun 2006, strategi licik sekaligus kecerdasan tinggi Yamaha berhasil mencetak Jupiter MX 135 untuk manghadang laju Supra X 125. Bahkan walaupun di salah satu modelnya Supra X dibekali sistem injection, MX 135 tetap dapat menjegal Supra  X dengan mudah. Itu sangat wajar, mengingat sistem injeksi saat itu masih dianggap tabu oleh mayoritas orang. Disamping itu, dengan rentang harga yang seimbang, tentu akan banyak orang memilih MX yang notabene memiliki silinder lebih besar.

6. Yamaha Vixion vs Megapro 160

Tahun 2007, Yamaha kembali mencetak Vixion 150 untuk menandingi Megapro 160. Walaupun dengan kapasitas mesin lebih kecil, tapi dengan design yang lebih sporty serta sistem injeksi pada pembakarannya, Vixion berhasil memukul mundur Megapro dengan telak.

Beruntung Yamaha. Saat itu sistem injeksi sudah mulai dikenal masayarakat ramai, yang tentu saja mulai mengikis pandangan tabu dari masyarakat. Pandangan yang didasari oleh anggapan bahwa perawatan injektor masih sulit. Masih sedikit jaringan bengkelnya.

7. Yamaha Xeon vs Vario 125

Merasa posisinya terancam disegmen matic, pada tahun 2010 Yamaha memproduksi Xeon 125 untuk keluar dari persaingan head to head dengan Vario + Beat. Agak lama Xeon bertahan, sampai akhirnya pada tahun 2012 Honda mengeluarkan tandingan Xeon, yaitu Vario Tekno 125 dengan sistem pengabutan injeksi dan teknologi ACG starter.

Yamaha Xeon 125

Mengetahui lawannya menggunakan sistem pembakaran injeksi, Yamaha segera mencopot karburator dan memasang injektor pada Xeon RC. Tapi langkah Yamaha ini belum mampu menghadang gerakan Vario 125 yang terus merangsek maju dengan langkah tegap.

Nah, kalau diatas tadi saya sebutkan bahwa Honda hanya gonta-ganti baju doang, maka disini Yamaha pun mulai latah. Jika Anda perhatikan, coba, ada berapa tipe motor Yamaha yang menggunakan mesin Mio series?

Banyak! Mulai dari Mio, Mio Sporty, Mio Soul,  X Ride, Mio J, Mio Z, Xeon, Fino dan lain-lain. Hanya sedikit saja perbedaan dari sistem karbutator menjadi injektor, serta kapasitas silinder yang dibuat berbeda-beda. Miris kan?

Tapi penggemar Yamaha bisa bernafas lega karena dikemudian hari, Yamaha menerapkan teknologi Diasyl Silinder, Forged Piston, dan Blue Core yang benar-benar baru di dunia permotoran.

8. Honda New Megapro vs Yamaha Byson

Merasa kalah telak dari lawannya, Honda mendown grade Megapro menjadi 150 cc tapi dengan design baru yang lumayan gagah. Tapi apa hendak dikata, pada tahun yang sama (2010) Yamaha sudah mengantipasinya dengan Byson 150.

Yamaha Byson

Dilihat dari design, Byson jelas lebih unggul. Apalagi dengan mengaplikasikan ban lebar, tentu menang telak secara penampilan dibanding New Megapro.

Walaupun saya tidak melakukan analisa yang spesifik, tapi secara kasat mata, peredaran Byson terlihat lebih populer dijalanan dibanding New Megapro.

9. Honda CB150R vs All New Vixion

Dengan mencabut Megapro dari perkelahian melawan Vixion, Honda menyiapkan CB150R yang dibekali injektor untuk menyeimbangkan kekuatan. Tapi lagi-lagi Yamaha meng-up grade Vixion dengan tampilan yang lebih garang. Salah satunya adalah menerapkan ban gambot pada kedua rodanya. Sekali lagi Yamaha mampu memukul mundur Honda dengan kekarnya New Vixion.

Untunglah sekarang Honda juga merubah tampilan CB150R menjadi lebih kekar, sehingga pertarungan kembali seimbang.

10. Yamaha N-Max 150 vs Honda PCX 150

Pada tahun 2015, Yamaha berhasil mempecundangi Honda dengan produk N-Max 150.

Seperti kita ketahui, Honda PCX 150 yang merupakan upgrade dari PCX 125 mempunyai harga jual yang selangit. Hal itu disebabkan karena PCX merupakan produk CBU (impor) dari Honda Thailand. Hal itu tentu menjadi angin segar bagi Yamaha. Dengan memproduksi N-Max didalam negeri, Yamaha mampu menjual pasukan elitnya ini dengan rentang harga yang terpaut jauh dari Honda.

N-Max pada kasta terendah (versi standar) hanya dibandrol di harga 23 jutaan. Sedangkan PCX sudah mendekati 40 juta.

Gila!

Jadi... Jika pun Anda punya uang 40 juta, dari pada Anda membeli Honda PCX, lebih baik Anda beli N-Max, dan sisa uangnya Anda transfer ke rekening saya.

Hahaha...!!! Ngarep?! Emang elo siapa?

Terbukti! Pupulasi N-Max dijalanan jauh lebih banyak dari pada PCX.

11. Yamaha MX King 150 vs Supra GTR 150

Melanjutkan kesuksesannya di beberapa titik pertempuran, pada 2015 Yamaha kembali membangun pasukan kelas menengah dengan nama MX King 150. Hadangan yang dilakukan oleh Honda Supra GTR 150 sampai sekarang masih belum mampu menggoyahkan Yamaha di segmen ini.

12. Honda Vario 150 vs Yamaha Aerox 155

Untuk membantu PCX dalam pertempuran melawan N-Max, Honda mengeluarkan Vario 150 eSP. Walaupun beda model, tapi produk ini terbukti dapat sedikit menghambat serangan dari N-Max.

Honda Vario 150

Tapi...

...ternyata Yamaha memang sudah siap tempur habis-habisan dengan segera mengeluarkan Aerox 155. Ini motor... Wuiiihhh...! Jauh banget kalau dibanding Vario 150. Memang belum terbukti kemampuan tempur Aerox ini. Tapi dengan fitur yang serba digital, design yang kekar dan ban lebar, maka Honda Vario 150 pantas merasa gentar. Benar memang Aerox lebih mahal dari Vario, tapi dikasta terendah, Aerox 155 hanya selisih harga sedikit dengan Vario 150.

13. Lain-lain

Selain komparasi diatas, masih ada Honda CBR150 vs Kawasaki Ninja RR vs Yamaha R15. Ada juga Honda CBR250 vs Kawasaki Ninja 250 vs Yamaha R25

***

Nah, Ombro / Tante sis, bagaimana menurut Anda? Siapakah yang akan menang? Kita mah nonton aja, ya? Hahaha...!

***

Catatan dan tambahan:

* Dengan membaca tulisan ini, mungkin kesannya adalah: saya pro Yamaha. Tapi sebenarnya tidak! Saya hanya berusaha obyektif. Saya sendiri adalah penunggang Honda Spacy FI, kasta terendah dari jajaran matic Honda.

* Jika dilihat dari poin pertama, kejayaan Honda di Indonesia selama 34 tahun (1971-2005) bisa berbalik menjadi kejayaan Yamaha dimasa yang akan datang.

* Masih banyak produk-produk lain yang tidak saya hadapkan, semisal Honda Scoopy dan Yamaha Fino. Itu kerena (menurut saya) mereka tidak perang statis. Artinya adem-adem aja. Atau juga Honda Verza yang tidak punya lawan sebanding di pihak Yamaha.

* Tulisan ini dibuat semata-mata untuk berbagi informasi dan hiburan. Tidak ada unsur promosi ataupun membandingkan keunggulan / keawetan masing-masing produk. Kecuali jika ada salah satu dari mereka yang berniat membayar saya.
Hahaha...!! Ngarep lagi?!

***

Baca juga: honda vs yamaha bagus mana

Ya sudah lah... Semoga bermanfaat dan menghibur, dan...

Keep safety riding

Comments