Skip to main content

9 Motor Inovatif Suzuki vs 7 Strategi Sukses Yamaha

Baca Juga

Masih ingat tagline "Inovasi Tiada Henti"? Ya! Itu milik Suzuki pada beberapa tahun yang lalu. Bukan karena produk yang tidak berkualitas, tapi kelemahan strategi marketing yang "saya nggak ngerti" akhirnya membuat si Suzu tertinggal jauh dari Yamaha.

Pada tahun 2000 saya kerja di PT.Anggrek Kencana Jakarta (sekarang sudah tutup). Saya iseng pinjam Suzuki Tornado 110 milik Pak Budi. Ini motor sebenarnya punya akselerasi yang lebih mantap dari pada Yamaha F1Z milik Pak Asep (mereka kolektor perusahaan). Bahkan Suzuki Tornado sering terlihat eksis di beberapa ajang road race.

Menurut Pak Budi, motornya itu mudah untuk di korek (modifikasi), misalnya bore up untuk keperluan racing atau harian. Pantaslah kalau Suzuki Tornado ini masuk ajang balapan tanah air saat itu.

Baca juga: pahami resiko korek harian

Selain Suzuki Tornado 110, sederet produk sepeda motor Suzuki juga sebenarnya sangat inovatif, bahkan (hampir) selalu menjadi pelopor. Nih bukti-buktinya,


A. Produk-produk inovatif Suzuki

1. Suzuki RG150R

Tahun 1991 menjadi saksi kelahiran motor sport monoshock pertama di Indonesia. Ya! Suzuki RG150R satu-satunya saat itu. Tapi sayang... Tidak lama kemudian Kawasaki dan Honda melawannya dengan Ninja 150 dan NSR.

2. Suzuki Shogun 110 (Shogun Kebo)

Karena pilihan warna dasar hijau tua yang di gunakan oleh Shogun saat itu membuatnya di panggil "kebo". Ini juga motor inovatif. Saat Honda dan Yamaha masih ngubek-ngubek mesin 100cc, Suzuki sudah mendahului dengan mesin 110cc pada tahun 1995. Selain itu, Shogun 110 juga memiliki keunggulan pada CDI yang non-limiter, kruk as, batang klep, rantai keteng dan kampas kopling yang kuat tiada tara. Dan strategi mutu produk Suzuki pada saat itu tidak sia-sia. Saat itu posisi Suzuki dalam penjualan masih di atas Yamaha.

Agak lama Suzuki bertahan di posisi dua sampai Yamaha sukses dengan bebek Vega di awal tahun 2000-an.

3. Satria RU120

Tidak kalah dengan dua produk di atas, motor ini juga menjadi pelopor mesin 120cc di kelas bebek sport. Selain itu, suspensi monoshock, struktur mesin tegak, kopling manual 5 percepatan dan rangka crandle box adalah yang pertama ada pada motor bebek pada tahun 1997.

Tapi di sayangkan lagi, era motor 2 tak sudah mulai di tinggalkan saat itu.

4. Suzuki Thunder 250

Sudah jelas, pada tahun 1999 itu target Suzuki adalah malawan Honda Tiger yang sudah lahir 6 tahun sebelumnya. Thunder 250 ini adalah CBU langsung dari Jepang. Motor semi moge ini juga yang pertama menggunakan 4 klep dengan double muffler dan ukuran ban gambot. Dan yang lebih hebatnya lagi, power motor ini mencapai 20 Hourse Power (HP / tenaga kuda). Terbesar saat itu.

Tapi entah, karena harga yang mahal dan transmisi yang hanya 5 percepatan, Thunder sama sekali tidak mampu mengimbangi Tiger.

5. Suzuki FXR150

Suzuki mendatangkan motor CBU ini dari Malaysia pada tahun 2000. Dia adalah pelopor mesin motor DOHC di Indonesia dengan transmisi 6 percepatan dan sistem pendingin oli. Selain itu, FXR150 juga di lengkapi dengan speedometer digital, rangka deltabox dan memiliki power hingga 20 HP.

Tapi sampai saat ini, saya tidak pernah melihatnya di jalanan kampung saya.

Hahaha...!! Lihatnya seharusnya di kota kali ya, Om Bro..?!

6. Shogun 125

Saat Honda dan Yamaha baru mulai beranjak naik menuju 110cc, Suzuki sudah mendahului menciptakan bebek 125cc pada tahun 2004. Dia juga yang mendahului menerapkan sistem disc brake pada roda belakangnya melalui Shogun SP 125. Bahkan Shogun SP ini menggunakan transmisi 5 percepatan dengan kopling manual.

Tapi ternyata, inovasi Suzuki ini justru menjadi suksesnya Honda Supra X 125 (setelah jualan Honda Kharismanya sepi pembeli).

7. Satria FU 150

Inilah satu-satunya produk Suzuki yang dapat di bilang sukses di pasaran sejak tahun 2005. (awalnya) Dengan cara CBU dari Malaysia, mesin DOHC 4 klep dengan power 16 PS ini masih berdiri gagah sampai sekarang. Bahkan serangan Honda Sonic 150 pun tidak mampu mengalahkan populasi Satria FU.

8. Suzuki Spin 125 dan Skywave 125

Saat Honda masih memakai mesin 108cc dan Yamaha memakai mesin 113,7cc, Suzuki sudah terlebih dahulu menggunakan mesin 125cc pada Spin dan Skywife. Tapi apa daya... Kapasitas mesin dan bagasi besar Suzuki tidak mampu membuat masyarakat untuk berbondong-bondong membelinya.

***

Lalu di mana sih titik kelemahan yang membuat Suzuki kalah jauh dari Yamaha?

Di sini...

Setelah mundurnya tren motor 2 tak di Indonesia, Suzuki tidak serta merta runtuh. Dia masih tegak di urutan kedua di bawah Honda. Tapi rupanya, bukan berhasil mengejar Honda, justru Suzuki malah tersalip oleh Yamaha pada awal dekade 2000-an.

Baca juga: perang tanding honda vs yamaha dari jaman motor jadul

Seperti yang saya sebutkan di atas, kalahnya penjualan Suzuki bukanlah karena mutu produk yang buruk, tapi lebih pada kalah strategi marketing, khususnya dari Yamaha.

Mari kita bahas,

B. Kekalahan strategi marketing Suzuki dibanding Yamaha

1. ATPM motor Suzuki merangkap mobilnya juga

Secara logika, Yamaha yang hanya mengurus motor jelas lebih bisa fokus dibanding Suzuki.

2. Sinergi antara iklan, tagline dan kemenangan pembalap Moto GP Yamaha sangat menggelitik dan mengena.

Pemasangan Dedi Mizwar dan Didi Petet pada iklan Yamaha saat itu berpengaruh sangat besar pada penjualan motor Yamaha. Di tambah lagi Ida Kusuma, Komeng dan Tessa Kaunang. Iklan-iklannya yang menggelitik dan lucu tentu sangat mudah di ingat oleh masyarakat.

* Iklan Yamaha Vega

Saat Dedi Petet menyebutkan kata "boros" (maksudnya boros bahan bakar), Dedi Mizwar menuangkan air teh satu sendok sambil berkata, "bedanya paling cuma segini".

Maksud dari ucapan Dedi Mizwar tersebut adalah menyindir Honda yang "katanya" irit. Padahal dengan hanya selisih bensin satu sendok teh, Yamaha bisa menjadi motor yang lebih kencang.

Selain versi itu, Dedi Mizwar dan Dedi Petet juga selalu tampil lucu pada setiap iklan Yamaha yang di bintanginya.

* Iklan Yamaha Mio

Ida Kusuma bergaya freestyle menggunakan Mio. Lucu kan? Ada seorang wanita STW yang main free style dengan pakaian daster.  Iya sih itu stunt man / peran pengganti, hahaha...!! Tapi tetap saja menggelitik.

* Iklan Jupiter MX

Peran Komeng yang merobohkan jembatan karena kencangnya si MX. Dan sebelumnya Komeng juga berangkat kerja kepagian karena menunggang MX yang kencangnya na'udzubillah... Di tambah lagi dengan setting pakaian Komeng dan Tessa Kaunang yang sampai robek-robek karena saking kencangnya si motor. Belum lagi Komeng sampai harus menyon mulutnya karena tiupan angin saat mengendari MX.

* Iklan Yamaha oleh pembalap Moto GP

Dialek bahasa Indonesia dari Rossi dan Lorenzo pun tidak kalah lucunya. Peran Rossi yang ngebut menggunakan Jupiter MX itu juga cukup lucu dan menggelitik.

* Iklan Yamaha oleh Dewa 19 dan Peterpan (NOAH).

Siapa sih yang tidak kenal Dewa 19 dan Peterpan? Mereka itu salah dua dari lima Band Platinum Indonesia di era 2000-an (tiga yang lainnya Jamrud, Padi dan Sheila On 7). Platinum di jaman itu adalah penjualan kaset plus CD sebanyak minimal 1 juta copy lho... Gimana nggak mantap tuh Yamaha pake Band platinum buat iklan?!

Lantangnya suara Once (Elfonda Mekkel) dan dalamnya suara Ariel benar-benar menegaskan tagline "Semakin di Depan"nya Yamaha.

Walau pun di dalam hati kecil saya menganggap iklan Yamaha tidak mendidik (ngajarin ngebut), tapi nyatanya justru sangat bisa di terima di hati masyarakat luas.

Bandingkan dengan Suzuki. Mana iklannya yang mengena di hati masyarakat Indonesia?

Lanjut...

3. Target konsumen Suzuki tidak jelas

Seperti yang saya jelaskan di atas, hanya Satria FU 150 yang targetnya jelas. Yaitu kaum muda yang mendambakan motor under bonn dengan performa mantap. Di samping itu, Honda dan Yamaha memang tidak punya produk tandingan Satria FU di jaman itu.

Selebihnya, target kaum muda sudah di kuasai Yamaha yang sudah terlanjur punya image motor kencang. Sementara kaum tua dan elegan sudah terikat hatinya pada produk Honda yang punya klaim irit dan nyaman.

Suzuki sempat berusaha menyusup di tengah dengan produk Smash 110. Dia ingin menengahi antara irit dan kencang dengan tagline "si gesit irit". Tapi strategi itu justru malah mengambang. Mestinya Suzuki membuat produk yang benar-benar fresh seperti Satria FU.

Contoh lain adalah Thunder 125. Saat orang lain berlomba menciptakan motor sport 150, Suzuki malah membuat langkah aneh dengan mendown grade produk Thundernya.

4. Suzuki jarang membuat event promosi

Kalau saya perhatikan dari apa yang saya lihat Honda dan Yamaha sering sekali mengadakan event semisal panggung dangdut. Tapi jarang sekali saya mendapati event serupa yang si selenggarakan oleh Suzuki.

5. Terlalu berinovasi justru menyulitkan perawatan

Menurut Aa Yana (pemilik bengkel Mulyana Jaya di Tigaraksa, Tangerang), motor Suzuki selalu mengusung mesin dan teknologi baru pada setiap produknya. Dengan mesin baru, otomatis spare part juga baru. Itu lah salah satu hal yang menyulitkan perawatan motor Suzuki. Istilah kasarnya, seorang mekanik bengkel umum harus belajar lagi setiap kali menservis motor Suzuki keluaran baru.

Nah, di sinilah bukti kelebihan strategi ganti baju yang di pakai oleh Honda dan kemudian di tiru oleh Yamaha.

6. Harga jual di jaman jayanya terlalu mahal

Seperti salah satu contoh di atas tadi, Suzuki Thunder 250 spesifikasinya terlalu melampaui Honda Tiger. Selain itu, status CBU Jepang juga menambah mahal banderolnya di Indonesia.

Jika akhirnya sekarang Suzuki membanderol produk-produknya dengan harga wajar, semuanya sudah terlambat. Penjualan Yamaha sudah jauh meninggalkannya.

7. Kurangnya jaringan after sales dan mahalnya harga spare part Suzuki

Perkara jaringan bengkel resmi, sebenarnya di awal Yamaha juga sama. Tapi seiring keberhasilan strategi marketing Yamaha, maka jaringan dealer dan bengkelnya pun semakin berkembang.

Sebenarnya poin ini lebih dapat di sebut sebagai akibat dari kegagalan strategi marketing Suzuki.

Maksudnya begini,

Kesan mahal pada spare part Suzuki adalah karena tidak tersedianya spare part versi lokal (KW / murah).

Produsen spare part lokal kurang tertarik memproduksi spare part motor Suzuki karena populasinya di Indonesia hanya sedikit. Selain jumlah populasi, Suzuki juga membingungkan produsen part lokal dengan terlalu sering berganti-ganti mesin.

***

Nah, Om Bro. Sepertinya sekian dulu dari saya. Terima kasih dan semoga bermanfaat.

Comments