Skip to main content

Kejayaan Motor dan Mobil Nasional Indonesia Segera Terwujud ! Tapi... Jika Kita Seperti Mereka

Baca Juga

Saya yakin masih banyak rakyat Indonesia yang belum tahu merk sepeda motor lokal Jatayu dan Happy, ataupun mobil Arina, Tawon dan Fin Komodo. Padahal semua itu adalah produk otomotif buatan anak bangsa. Wajar saja sih, karena motor dan mobil nasional tersebut tidak / belum sempat meraih popularitas di media seperti mobil Esemka.


Salah satu kakak saya pernah bekerja menjadi TKI di Malaysia selama tahun 2001 sampai 2004. Dan sepulang dari sana, dia bercerita pada saya bahwa di sana (Malaysia) kendaraan inventaris (kendaraan dinas) pegawai pemerintahan WAJIB merk nasional.

Kemudian pada kisaran tahun 2007 sampai 2011, saya banyak bergaul dengan teman-teman yang berkebangsaan India. Karena saat itu saya bekerja di perusahaan milik orang India. Dan dari salah seorang teman bernama Nalla Muthu, saya tahu bahwa Hero Group berhasil mengambil alih saham Honda di India.

Sekedar informasi, sebelumnya Hero Group India telah menjalin kerjasama dengan Honda selama 26 tahun. Tapi kemudian pada tahun 2010 Honda memutuskan untuk keluar dari kerjasama tersebut. Maka produk sepeda motor mereka yang sebelumnya bernama "Hero Honda", berganti nama menjadi "Hero Motor".

Lalu bagaimana dengan nasib Hero sepeninggal Honda?

Sampai tahun 2016 lalu Hero tetap menjadi pemimpin pasar otomotif roda dua di India. Hero motor tetap nangkring dengan market share sebesar 46% dari total penjualan motor di negeri itu. Urutan kedua di duduki oleh Bajaj, kemudian Honda, TVS dan Yamaha.

Baca juga: 9 kelebihan motor honda yang membuat yamaha selalu jadi nomor dua

Hebat kan? Honda dan Yamaha yang di Indonesia menjadi pemimpin pasar, di India hanya mampu menduduki posisi 3 dan 5 (sumber: wikipedia).

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Pada tahun 2009 Indonesia sempat geger dengan pemberitaan mengenai kendaraan dinas para menteri kabinet SBY jilid 2. Bagaimana tidak? Toyota Crown Royal Saloon seharga 1,3 Milyar rupiah di daulat untuk menjadi tunggangan anggota kabinet saat itu. Yaitu untuk menggantikan Toyota Camry yang telah di gunakan pada periode pertama pemerintahan Presiden SBY.

Note: Sekedar informasi, selama pemerintahan Orde Baru hingga Presiden Megawati, para Menteri Indonesia menggunakan Volvo sebagai mobil dinasnya.

Memasuki era Presiden Jokowi, beliau memilih untuk memberikan mobil dinas lama peninggalan SBY kepada para pembantunya. Dengan alasan pemborosan, Jokowi menolak anggaran Mercedes E Class yang sebelumnya telah di siapkan.

Di sini saya berusaha netral, tapi harus di akui bahwa di dalam hati kecil saya mengagumi sosok Jokowi (khususnya) dalam hal ini. Masih ingat saat Jokowi memilih mobil Esemka untuk kendaraan dinasnya di Surakarta (Solo)? Kemudian beliau juga memilih Kijang Innova dibanding Fortuner saat menjabat Gubernur DKI Jakarta.

Saat itu banyak juga cibiran (dari orang yang tidak suka) dengan menganggap gaya Jokowi tersebut hanyalah pencitraan. Tapi bagi saya, tidak peduli pencitraan, yang penting di lakukan.

Lalu, apakah langkah Jokowi "mewarisi" mobil SBY itu sudah cukup bagus?

Belum! Lihatlah pemerintahan Filiphina yang mengganti Toyota Camry dengan Toyota Avanza demi menghemat anggaran negara.

Tapi langkah Filiphina itu juga masih kurang!

Lihat para menteri Malaysia yang menggunakan Proton Perdana seharga 360 juta rupiah sebagai mobil dinasnya. Itu merk asli Malaysia! Merk nasional! Merk lokal! Merk dalam negeri!

Tengok juga menteri-menteri India yang memakai produk lokal. Mereka tidak malu menunggang Tata Ambassador seharga 100 juta rupiah.

Berapa milyar anggaran Negara Indonesia yang dapat di hemat jika kita meniru India?

Yang jelas banyak. Kalau semua uang itu berbentuk koin 100 rupiah, yakin rumah kecil saya akan tertimbun rapat oleh uang tersebut. Hahaha...!!

Kalau kita tanya, kenap rakyat Indonesia (termasuk saya) tidak menggunakan mobil dan motor merk lokal? Jawabannya pasti masalah mutu produk dan jaringan after sales!

Kalau itu alasannya, mari kita tengok ke belakang,

A. Mobil Nasional

1. Arina SMK

Pada tahun 2009 sempat beredar kabar akan di produksinya mobil Arina. Namun microcar yang di rakit oleh siswa-siswa SMK Negeri 1 Semarang itu sampai sekarang tidak pernah tampil di jalanan Indonesia.

2. GEA

PT.INKA Madiun bekerjasama dengan PT.VEGA Tegal juga pernah menciptakan prototipe mobil GEA. Tapi mobil 500cc ini pun tidak ada kelanjutan kabar beritanya.

3. Tawon

Mobil Tawon hasil produksi PT.Super Gasindo Lebak, Banten pun tidak mampu menyengat kedigdayaan mobil merk Jepang di Indonesia.

4. Kancil

Sejak awal produksinya, mobil Kancil di tujukan untuk menggantikan Bajaj dan Bemo di Jakarta.

Ini yang paling tragis. Sang Kancil terbukti tidak mampu mencuri mentimun di ladang Pak Bajaj dan Pak Bemo di Jakarta. Kancil harus pasrah dengan kekuatan Bajaj dan Bemo.

Jadi begini...

Jika Anda ingin membeli mobil Kancil, maka langkah-langkahnya adalah sebagai berikut,

* Anda membeli Bajaj / Bemo
* Anda bawa Bajaj / Bemo tersebut ke dishub,
* Bajaj / Bemo tersebut di cabut izin operasinya,
* Barulah Anda boleh membeli mobil Kancil

Dengan kata lain, Anda membeli 2 unit tapi hanya mendapatkan 1 unit.

Ini kan lucu...! Orang goblok juga nggak akan mau di bohongin begitu. Pantas saja akhirnya Sang Kancil tewas di gilas oleh peraturan yang njlimet itu.

5. Mobil listrik Tucuxi

Bahkan seorang menteri sekelas Dahlan Iskan pun kesulitan mendapatkan izin produksi mobil Tucuxi yang di idam-idamkannya.

6. Esemka

Masih hangat dalam ingatan kita, bagaimana perjuangan Esemka untuk bisa lulus standar uji emisi. Kemudian, sangat menyakitkan juga saat pesanan mobil Esemka di batalkan oleh ratusan calon pembeli yang akhirnya memilih LCGC (Low Cost Green Car).

Bayangkan juga mobil Esemka yang yang sudah bertahun-tahun produksi baru lulus izin Memperindag pada pertengahan tahun 2016 lalu.

Kenapa bisa selama itu untuk mobil lokal? Kenapa untuk LCGC merk asing (seperti Honda Brio Satya, Suzuki Karimun Wagon R, Astra Daihatsu Ayla, Astra Toyota Agya, Datsun Go+ / Go Panca) terkesan gampang sekali? Bahkan PT.Astra yang sebelumnya mau menciptakan motor sendiri pun akhirnya jatuh ke pelukan Honda, Toyota dan Daihatsu. Kenapa? Apa karena merk asing lebih banyak duit? Wallohu a'lam...

Sekilas kalau kita perhatikan, perjuangan mobil nasional di atas itu seakan tidak pernah mendapat dukungan dari pemerintah (bahkan terkesan di persulit).

Lanjut...

B. Motor Nasional

1. Jatayu

Moge lokal yang memanfaatkan spare part after market Harley Davidson. Jika saja motor ini sukses, maka Indonesia memiliki moge lokal yang hebat. Tapi... Semua hanya tinggal kenangan.

2. Happy Motor

Saat saya masih tinggal di Tangerang (2011-2014) saya sering melihat stand motor Happy. Tapi hampir tidak pernah saya lihat motor Happy yang berkeliaran di jalan raya. Motor produksi PT.Anugerah Cenderawasih Sakti Motor ini seperti tidak pernah ada di muka bumi.

3. Kanzen

Secara design sebenarnya Kanzen sudah memiliki kesungguhan. Terbukti design motor Kanzen tidak meniru model Jepang seperti yang di lakukan oleh motor-motor Cina.

Tapi nyatanya nama besar Rini Sumarno tidak mampu membawa Kanzen pada kesuksesan. Bahkan keanggotaan Kanzen di IASI pun tidak mampu meningkatkan pamornya di industri motor tanah air. Padahal Kanzen merupakan alih teknologi dari motor Daelim, Korea Selatan yang secara umum lebih bermutu dari produk Cina.

Dan sekarang, pabrik motor Kanzen di Klari, Karawang pun sudah tutup total.

4. Viar

Sejak tahun 2000 hingga saat ini hanya Viarlah yang masih berdiri tegap. Bahkan Viar sudah mampu mengekspor produknya ke Afrika dan Timor Leste.

Tapi menurut analisa saya, Viar sanggup bertahan justru karena armada roda tiganya. Sedangkan di sektor roda dua (khususnya motor bebek), Viar hanya mampu menjiplak design merk Jepang (mungkin efek teknologi Taiwan yang di anutnya).

Baca juga: 23 panduan memilih motor second agar tidak tertipu

Note: Produk-produk di atas hanyalah beberapa contoh. (mungkin) Masih banyak produk lain yang tidak saya ketahui.

***

Nah, sekarang kita kembali pada pertanyaan, "Kenapa pegawai pemerintahan tidak menggunakan produk lokal?"

Jawabanya adalah perkara mutu produk dan jaringan after sales.

Sekarang kita bahas soal mutu dan jaringan.

* Jika pemerintah Indonesia meniru kebijakan Malaysia dan India, otomatis produk lokal tersebut jadi laku (karena produknya di beli oleh pemerintah). Terapkan aturan dari pusat sampai daerah. Menteri, Gubernur, Bupati / Walikota, Camat, Lurah bahkan RT /RW wajib menggunakan produk lokal.

* Jika kebijakanya seperti itu, maka sudah berapa juta unit yang terjual?

* Jika sudah sekian juta unit terjual, otomatis pabrikan lokal mendapatkan banyak keuntungan dan akan mampu membangun jaringan after sales dan memperbaiki mutu produknya.

Di awal penerapan kebijakan, pemerintah tidak usah mempertimbangkan perkara mutu produk. Toh uang yang di pakai untuk membeli juga uang negara (uang rakyat) kan?!

* Jika punggawa-punggawa pemerintahan sudah menggunakan produk lokal dan mutu produk serta jaringan after sales sudah bagus, dengan sendirinya rakyat akan tertarik. Rakyat akan meniru para pemimpinnya menggunakan produk lokal.

Lah di Indonesia ini kebalik. Kampanye koar-koar nyuruh rakyat supaya cinta produk dalam negeri, tapi juru kampanye itu sendiri pecinta sejati merk asing. Kan aneh!!

Sekarang kira-kira begini,

Kalau kita pertanyakan perkara ini pada para pemimpin negara, jawaban mereka pasti, "Tidak semudah itu!" alias susah untuk di terapkan.

Lho... Apanya yang susah? Semuanya mudah! Anda saja yang bikin susah!

Logikanya begini, masalah sesulit apa pun akan menjadi mudah jika di selesaikan oleh ahlinya. Nah, Anda yang yang duduk di kursi-kursi pemerintahan itu seorang "ahli" kan?! Jadi jika Anda bilang "susah", berarti Anda itu bukanlah ahli. Dan kalau Anda bukan ahli, sebaiknya Anda turun saja dari kursi pemerintahan. Biarkan orang-orang yang benar-benar ahli yang mengurus negara ini.

Simple kan?

***

Baca juga: strategi honda dan yamaha yang licik sekaligus cerdas

Ya sudah lah Om Bro dan Tante Sis... Sekian dulu dari saya. Semoga menjadi bacaan yang bermanfaat.

Comments