Strategi Yamaha dan Honda: Licik Tapi Cerdas dalam Pencitraan

Baca Juga

Bicara soal persaingan Yamaha dengan Honda memang tidak akan ada habisnya. Baik dalam hal penjualan motor komersil ataupun persaingan di arena balap. Bahkan di dunia periklanan, dua merk ini pun kerap kali saling sindir untuk membuat iklannya lebih mengena di hati calon konsumen.

Ada satu hal kecil yang cukup menarik buat saya. Hal yang (mungkin) tidak diketahui atau tidak di perhatikan oleh kebanyakan pengguna sepeda motor di tanah air ini.

Begini, Om Bro...

Jika Anda perhatikan baik-baik, setiap produk dari 2 pabrikan ini selalu saja ada kesenjangan dalam kapasitas silinder. Maksudnya adalah kesenjangan pada produk yang selevel.

Contohnya begini,

Yamaha Byson dan Honda New Megapro adalah produk motor jenis sport yang sama-sama di klaim memiliki volume silinder sebesar 150 cc. Tapi jika Anda perhatikan baik-baik spesifikasinya (dari buku manual atau sumber lain), sebenarnya volume silinder Byson adalah 153cc. Sementara itu New Megapro hanya memiliki volume silinder sebesar 149,5cc.

Lalu... Apanya yang menarik, Mas?

Yang menarik adalah mobil derek... Hahaha..!!

Yang menarik adalah klaim masing-masing pabrikan. Honda selalu mengklaim produknya irit, sedangkan Yamaha selalu mengkalim produknya kencang.

Ya jelas... Lah wong kapasitas silindernya aja gedean Yamaha.


Jadi...walaupun urusan irit dan kencang itu erat kaitannya dengan banyak hal, tapi setidaknya kapasitas silinder ini sudah menjadi pondasi (dasar). Karena jika kapasitas silindernya sama persis, pasti para insinyur di dua perusahaan itu harus bekerja extra untuk mendapatkan ramuan yang pas dengan target klaimnya. Masuk akal, kan?

Sekarang kita bahas satu perdua...

Hahaha...!! Maksudnya, satu persatu.

A. Klaim irit pada motor Honda

Sejak awal karirnya di dunia persilatan tanah air, Honda selalu memamerkan keiritannya dalam hal konsumsi bahan bakar. Dan itu masih tetap di pertahankan sampai sekarang.

Memang...pada saat Yamaha masih keukeuh dengan produk 2 taknya, langkah Honda seakan tanpa sandungan sedikitpun. Honda menang mutlak karena motor 2 tak di masa itu pasti lebih boros dibanding motor 4 tak.

Tapi itu dulu.

Sekarang... Hal itu sudah tidak menjadi bahasan penting lagi. Irit dan boros dari dua produk yang sebanding hanya akan menghasilkan perbedaan konsumsi bensin sebanyak 1 sendok teh per sekian km. Tidak akan signifikan.

Lalu untuk apa sampai sekarang Honda masih saja mengklaim produknya lebih irit?

Entahlah... Hanya Alloh dan para petinggi Honda yang tahu. Yang pasti sih Honda tetap pada caranya sendiri, yaitu membuat kapasitas silinder di bawah angka yang diklaimkan.

B. Klaim kencang pada motor Yamaha

Sejak awal karirnya di dunia bebek 4 tak, Yamaha telah mencetak Crypton dengan kapasitas silinder sebesar 101,8cc, bahkan kemudian dinaikkan lagi menjadi 102cc. Tentu saja secara power Yamaha jadi lebih unggul mengingat Honda Astrea Supra saat itu hanya memiliki kapasitas silinder sebesar 97,1cc. Ditambah lagi Yamaha melengkapi Crypton dengan rem cakram double piston yang saat itu masih sama sekali baru didunia bebek tanah air.

Pengaplikasian rem cakram dengan piston ganda itu, secara tidak langsung menegaskan bahwa Crypton adalah motor yang kencang dan membutuhkan rem yang pakem.

Tapi sayangnya, Crypton belum bisa mendongkrak penjualan Yamaha disaat itu.

Baca: perang tanding honda vs yamaha dari jaman motor jadul

Yamaha baru bisa merangsek naik setelah memproduksi Vega dan Mio dengan di dukung iklan yang sangat meggelitik saat itu.

***

Nah... Seberapa besar sih perbedaaan kapasitas silinder Honda dan Yamaha?

Biar lebih jelas, saya coba sajikan datanya secara sederhana, berikut ini,

1. Kelas bebek 100cc

* Honda pada generasi astrea (star, prima, grand, impressa, legenda) hingga revo berkapasitas 97,1cc. Power maksimal 7,3 PS/8000 RPM. Torsi maksimal 0,74 kgf.m/6000 RPM.

* Yamaha pada Crypton, Jupiter burung hantu dan Vega lama berkapasitas 102cc.

2. Kelas bebek 110cc

* Honda Absolute Revo dengan silinder 109,1cc. Power 8,4 PS/7500 RPM. Torsi 0,83 kgf.m/5500 rpm.

* Yamaha Vega R 110,3 cc. Power 6,6 kW/8000 rpm. Torsi 9,0 Nm/5000 rpm.

3. Kelas skutic 110cc

* Honda Vario dan Beat 108,2cc. Power 8,63ps (6,3kW)/7500 rpm. Torsi 9,01Nm/6500 rpm.

* Yamaha Mio 113,7cc. Jauh kan bedanya?

4. Kelas skutik 125cc

* Honda Vario 124,8cc. Power 8,3kW/8500 rpm. Torsi 10,8 Nm/5500 rpm.

* Kalau disini Yamaha agak beda, dibawah angka klaim (150cc). Xeon RC dengan kapasitas silinder 124,86 cc. Power 11,4ps (8,4kW)/9000 rpm.

5. Kelas skutik 150cc

* Honda Vario 149,3 cc. Power 9,3kW (12,46HP)/8500 rpm. Torsi 12,8 Nm/5000 rpm.

Honda PCX 152,9cc. Torsi 13,1 Nm/5500 rpm.

Ini tumbenan Honda silindernya lebih dari klaimnya (150 cc).

Tapi Yamaha tetap nggak mau kalah. Dia bikin yang lebih gede,

* Aerox dan NMax dengan kapasitas 155 cc. Power 11,1 kW/8000 rpm. Torsi 14,4Nm/6000 rpm.

* Kelas Sport 150cc

Sudah saya tuliskan di atas dengan menggunakan contoh Honda New Megapro dan Yamaha Byson.

Dan masih banyak contoh-contoh yang lain.

***

Dengan tidak bermaksud memihak pada salah satu produk, saya hanya bermaksud sharing sebatas yang saya tahu.

Baca juga: tenaga motor matic ngedrop tidak melulu masalah mesin

Nah, Om Bro... Jadi jelas kan, dari mana dasar klaim Honda irit dan Yamaha Kencang? Tapi semua itu tentu tidak akan efektif jika tanpa sentuhan lain di sektor rangka dan mesin. Sekali lagi, itu cuma dasar.

Baiklah... Om Bro dan Tante Sis, semoga bermangpaat.

Comments