212 The Power of Love: meski tidak pernah sholat, tapi jika Agamanya di injak-injak, maka kami akan turun ke jalan

Baca Juga

Motorisweb.com - Meski masih jauh dari jadwal tayangnya, tapi trailer film 212: The Power of Love sudah mulai beredar di dunia maya. Ini adalah pengalaman "katrok" saya yang pertama kali mengikuti shooting film sebagai pemain ekstra (figuran). Punya peran "hanya berlalu" pada beberapa adegan membuat saya (kadang) merasa geli namun juga bangga. Bangga karena kampung kelahiran saya, Ciamis, menjadi salah satu daerah yang pernah di sorot oleh media nasional, bahkan (mungkin) oleh dunia internasional karena kegigihan warganya yang siap berjalan kaki (longmarch) sejauh lebih dari 300 km demi ikut serta dalam Aksi Damai Bela Islam, 2 Desember 2016 lalu.

Menurut beberapa bocoran, film ini di jadwalkan tayang di bioskop-bioskop Indonesia mulai tanggal 2 Desember 2017, tanggal yang sama dengan aksi damai 212 tahun 2016 lalu.

Di perankan oleh Fauzi Baadila sebagai pemeran utama, didampingi Adhin Abdul Hakim, Hamas Syahid, Asma Nadia, Meyda Sefira, Cholidil Assadil Alam, Ustadz Erick Yusuf, dan lain-lain. Di sutradarai dan di produseri oleh Jastis Arimba dan di produksi oleh Warna Pictures.

212 the power of love
Mesjid Nuurul Huda

212 the power of love
Hamas (kiri), Adhin (kanan)

212 the power of love
Jastis Arimba (paling kanan (duduk))

LATAR BELAKANG, ISI CERITA DAN PESAN MORAL FILM 212: THE POWER OF LOVE

Bicara perkara latar belakang cerita, pastinya Anda bisa tahu persis dari judulnya. Iya, angka 212 jelas menggambarkan bahwa film tersebut mengambil latar belakang aksi damai bela Islam 212. Kecuali jika Anda anak 90-an, mungkin bisa tertukar pemahamannya dengan Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, Wiro Sableng si murid Sinto Gendeng. Wkwkkwwkwkwk....!!

Meski berlatar belakang kejadian nyata aka sejarah, tentu ceritanya akan menjadi datar jika tidak diberikan kisah fiktif sebagai "pemanis". Coba bayangkan bagaimana film Titanic pada tahun 1997 yang di bintangi oleh Leonardo Dicaprio dan Kate Winslet?! Durasinya tentu akan menjadi pendek dan alur ceritanya menjadi datar jika tidak ada kisah fiksi percintaan Jack dan Rose.

Begitu pun dengan 212: The Power of Love... Film ini disisipi drama kisah keluarga Haji Zaenal sebagai ayah Rahmat (Fauzi Baadila).

Pada adegan aksi damai, fokus film ini ada pada kisah peserta demo dari Kabupaten Ciamis yang berjalan kaki menuju Jakarta.

Saat break shooting (persiapan sin berikutnya), saya sempat menghampiri dan sedikit berbincang dengan pemeran Haji Zaenal (saya lupa nama aslinya) dan mendapatkan sedikit bocoran perihal alur cerita filmnya...

212 the power of love
Pemeran Haji Zaenal (kanan)

Rahmat adalah seorang jurnalis dari media ternama di Jakarta. Dia adalah putra dari Haji Zaenal, seorang pemuka agama Islam di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Masa kecil Rahmat adalah seorang anak yang taat beragama. Sesuai dengan didikan Haji Zaenal, ayahnya. Namun di kemudian hari (saat dewasa), Rahmat menjadi "hampir" berjiwa liberal akibat kehidupannya semasa sekolah di Amerika. Rahmat menjadi anak yang tidak lagi taat pada Agama dan orang tuanya. Bahkan rahmat berusaha mencegah ayahnya yang hendak ikut aksi longmarch 212 ke Jakarta beserta rombongan lain dari Ciamis. Karena menurut pemikiran Rahmat, aksi damai bela Islam dan aksi-aksi lainnya hanyalah kepentingan politik yang menunggangi Umat Islam Indonesia.

Maksud Rahmat mencegah Haji Zaenal, ayahnya, bukanlah tanpa sebab. Pasalnya, sang ayah sudah mulai sakit-sakitan sejak dia di tinggal istrinya, ibunda dari Rahmat. Tapi rupanya Haji Zaenal tidak bergeming sedikitpun. Dia tetap pada tekadnya untuk ikut aksi damai 212 ke Jakarta dengan cara longmarch.

Dengan hati kesal, marah dan sebagainya, Rahmat "terpaksa" harus mengikuti ayahnya ke Jakarta. Pasalnya, meski mereka bersilang pendapat, namun sebagai seorang anak, Rahmat tetap mengkhawatirkan keselamatan dan kesehatan ayahnya.

Rahmat dan ayahnya memang sudah sering, bahkan selalu berbeda pandangan sejak dia mengenyam pendidikan di negeri paman sam.

Namun, singkat cerita, hati Rahmat (yang awalnya tidak setuju dengan aksi 212) akhirnya berbalik bahkan berada pada garis depan di lokasi aksi, di Monas Jakarta.

Jika merunut dari cerita Pak Kyai pemeran Haji Zaenal, isi film ini dapat disimpulkan kurang lebih, "meski sebagian umat Islam tidak (jarang) sholat, bahkan mengucap dua kalimat syahadat pun mungkin hanya pada saat menikah saja, namun ketika Agamanya di hina, maka mereka akan "turun ke jalan" untuk menuntut keadilan. Begitulah cerita Rahmat yang mulai terbuka kembali hatinya sejak ikut langsung dalam aksi damai bela Islam 212.

Secara tidak langsung, film ini juga menggambarkan kekuatan persatuan umat Islam di Indonesia. Namun begitu, meski aksi 212 seolah menunjukkan "kemarahan", tapi Umat Islam pun memberikan pesan damai di dalamnya. Umat Islam Indonesia memberikan contoh kepada dunia, bagaimana aksi unjuk rasa dengan jutaan massa dapat berjalan dengan damai. Sama sekali tidak seperti kekhawatiran beberapa kalangan yang "mencium" bau penggulingan kekuasaan dari pemerintahan Presiden Joko Widodo saat itu. Umat Islam Indonesia menepis kekhawatiran akan kehancuran Jakarta yang "pasti" akan jauh lebih parah dibanding peristiwa reformasi 1998.

MENGAPA CIAMIS...?

Seperti kita tahu, aksi damai bela Islam 212 adalah unjuk rasa nasional, bahkan internasional. Banyak peserta dari seluruh penjuru Indonesia yang turut serta di dalamnya. Lalu kenapa harus mengangkat kisah pejalan kaki dari Ciamis?

Menurut pemeran Haji Zaenal (pada obrolan kami di saat break), kisah peserta aksi dari Ciamislah yang paling dramatis di antara daerah-daerah lain. Bahkan pemberitaan pendemo Ciamis tersebut menjadi salah satu yang di angkat oleh beberapa media asing.

Namun begitu, bukan berarti mujahid dari daerah lain pun tidak di pandang. (Masih menurut Haji Zaenal), peserta aksi dari Lampung pun harus menjalani perjuangan yang tak kalah beratnya. Setidaknya ada puluhan bus berpenumpang massa aksi yang ditahan di Pelabuhan Bakauheni oleh satuan Brimob saat itu. Intinya, aparat menghadang massa, tidak boleh melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

ADEGAN FILM DAN LOKASI SHOOTING

Film 212: The Power of Love mengambil lokasi di beberapa tempat, di antaranya Ciamis, Bandung dan Jakarta.

Untuk set di Ciamis, lokasi tepatnya adalah di kawasan PTPN (perkebunan karet) Lemahneundeut, Dusun Sukajaya, Desa Tanjungjaya, Kecamatan Cisaga, Ciamis.

Saya hanya bisa menuliskan cerita pengambilan adegan di siang hari saja, dimana saya dan beberapa orang tetangga terlibat sebagai pemain extra (figuran). Pemain yang hanya tayang beberapa detik, pun dengan wajah di samarkan, jiahahahah...!! Kasian amat sih...

Sedangkan pada malam hari, pengambilan adegan hanya menyertakan pemain inti (pemeran utama / jajaran aktris dan aktor) saja.

Senin, 7 Agustus 2017
Hari pertama shooting di isi dengan adegan melayat. Menceritakan kecelakaan mobil yang menjadi penyebab meninggalnya ibunda dari Rahmat aka istri dari Haji Zaenal.

Sin pertama (ekstra) di isi oleh Kepala Dusun Sukajaya dan beberapa orang yang memerankan pelayat. Adegan berisi kepulangan para pelayat yang mengucapkan bela sungkawa pada Haji Zaenal selaku suami almarhumah.

Lokasi shooting di kamar depan mess karyawan perkebunan Lemahneundeut.

Sin kedua berpindah ke ruang belakang mess dengan adegan pembacaan Surat Yasin bagi arwah almarhumah disamping jenazahnya. Adegan tersebut di isi oleh beberapa orang ibu-ibu warga setempat.

Selasa, 8 Agustus 2017
Hari ini lokasi shooting di klinik kantor perkebunan dengan setting tempat sebagai panti asuhan.

Rabu, 9 Agustus 2017
Hari ketiga mengambil lokasi di pemakaman umum Lemahneundeut. Sin (adegan) pertama di isi dengan selesainya penguburan jenazah almarhumah ibunda Rahmat dan bubarnya para pelayat dari pemakaman.

212 the power of love
Crew film 212: The Power of Love

Sin kedua mengambil setting waktu beberapa hari kemudian, dimana Haji Zaenal tengah sakit akibat kesedihannya di tinggal sang istri. Di temani Rahmat, anaknya, Haji Zaenal dengan menggunakan kursi roda, berziarah ke makam sang istri.

Selepas Dzuhur, lokasi shooting berpindah ke Mesjid Nuurul Huda (mesjid perkebunan). Adegan di isi dengan flashback, dimana Rahmat Kecil (di perankan oleh Adis ass pemain extra) yang masih rajin beribadah tengah sholat bersama Ayahnya sewaktu muda dan beberapa orang jamaah.

Haji Zaenal muda di perankan oleh seorang Ustadz dari Pesantren Bayasari, Rajadesa, Ciamis.

Kamis, 10 Agustus 2017
Sin kali ini mundur dengan setting pada saat melayat almarhumah Ibunda Rahmat. Adegan ketika Rahmat mengendarai mobil Ford baru pulang dari Jakarta dan menemui keluarganya.

Adegan Rahmat ketika pulang saat ibundanya meninggal

Ada satu peran perempuan (cantik) yang saya tidak tahu namanya. Yang jelas pemerannya seorang aktris. Dia yang menyambut kedatangan Rahmat bersama temannya (Adhin Abdul Hakim) yang gondrong dan brewokan ketika baru turun dari mobil. Entah itu peran sabagai adik (saudara) atau pun istri Rahmat. Nanti saja kita lihat langsung di filmnya. Wkwkwkwwk....!!

Jum'at, 11 Agustus 2017
Hari kelima ini adegan pemberangkatan peserta aksi dari Ciamis. Lokasi shoot di Mesjid Nuurul Huda. Pemain ekstra di isi oleh lebih dari 80 orang santri Pesantren Bayasari dan beberapa orang pribumi Lemahneundeut hingga total pemain extra menjadi lebih dari 100 orang.

Persiapan set Mesjid Nuurul Huda

Koordinator aksi longmarch tersebut di perankan oleh Hamas Syahid.

Melihat pengambilan adegan dengan kumandang Takbir bersama, saya merinding dan hampir menangis... tapi saya tahan. Malu di lihat orang, wkwkwkk...!!

Tapi benar lho, Om Bro, tante Sis. Seorang muslim / muslimah yang berhati Islam (meski jarang sholat) pasti akan merinding mendengar teriakan "Allohuakbar...!!".. dari ratusan orang secara serentak. Apalagi bagi yang mendengarnya dari teriakan jutaan orang di monas, dulu (212).

Ada dua dialog di lokasi ini antara Rahmat dan Haji Zaenal yang sedikit saya ingat,

Haji Zaenal: "Lihat! Masih banyak orang-orang yang beserta Abah".

Rahmat: "Jangan sombong, Bah. Abah sudah tua. Sudah penyakitan. Meskipun mereka banyak... (tidak jelas)... nanti kalau mereka bentrok dengan aparat, trus Abah ada di situ, Abah nggak takut?"

Haji Zaenal: "Selama ada Alloh dihati Abah, Abah pantang bilang takut!"

Kemudian Haji Zaenal berlalu...

Ketika rombongan berangkat, Rahmat mengejar ayahnya dan agak menarik pundak ayahnya...

Persiapan set Mesjid Nuurul Huda

Rahmat: "Abah mau kemana?"

Haji Zaenal: "Ini mau ke Jakarta!"

Rahmat: "Jangan konyol, Bah! Ciamis - Jakarta itu 300 kilometer lebih...!"

Haji Zaenal: "Sekarang kita sama-sama tahu... siapa yang penyakitan dan penakut!?"

Sabtu, 12 Agustus 2017
Sin kali ini masih melanjutkan adegan longmarch. Berlokasi di warung Pak Suhara, Lemahneundeut, terlihat para peserta aksi yang telah kelelahan dalam perjalanannya.

Foto keluarga Pak Suhara bersama Adhin dan Hamas

Sin berikutnya berpindah ke pangkalan ojek Cipicung. Mengambil adegan saat pelaku aksi tengah kehujanan dengan di guyur air dari dua mobil tangker PDAM Banjar. Wkwkwwk...!! Ceritanya sih hujan beneran, Om Bro...

Crew (tengah)

KATROKNYA ORANG KAMPUNG MELIHAT DAN IKUT SHOOTING FILM

Yang saya maksud orang kampung, ya, diri saya sendiri.

Pada dasarnya, meskipun saya orang kampung, sedikitnya saya sudah pernah tahu cerita-cerita shooting dari tetangga saya (kebetulan saya punya tetangga crew film). Tapi melihat dan mengalami langsung, ya, baru kali ini.

Hari pertama saya ditawari untuk jadi pemain extra. Langsung saja saya terima tawaran itu karena penasaran, pengen tahu, gimana sih orang shooting...?

Sejak pagi saya dan beberapa orang menunggu di lokasi. Tapi sampai menjelang siang, hanya 3 orang yang di panggil oleh crew untuk satu adegan. Saya jenuh dong... saya pulang dulu sebentar, kemudian kembali lagi ke lokasi.

Begitu saya sampai lokasi, koordinator pemain extra menegur saya, katanya tadi di panggil tidak ada. Oke lah... saya salah.

Waktu Dzuhur, semua crew break. Saya pulang, sholat Dzuhur, kemudian kembali ke lokasi. Tapi sampai lokasi, crew film masih break. Ya sudah, saya pulang lagi dengan perasaan sudah jenuh, bete dan sebagainya.

Beberapa saat kemudian, Pak Kadus yang menjadi koordinator, menelfon agar saya segera menuju lokasi. Ya sudah, saya langsung meluncur. Eehh... ternyata sampai lokasi saya sudah terlambat dan shoot di ganti adegan lain. Akhirnya sampai sore saya tidak ikut shoot. Wkwkwkk... kasian ya...?

Saya baru tahu kalau sutradara itu begitu. Minta sekarang ya harus saat itu juga. Tapi memang masuk akal sih... sama artis saja dia bisa marah-marah, ngapain harus care sama figuran? Kakakakkkk...!!

Sebenarnya bagi saya, tidak masalah walau akhirnya saya tidak ikut jadi extrass. Yang jadi masalah, yang membuat saya malu, adalah ketika saya berlalu dan para tetangga ngeledek, "cieee.... ada artis lewat..". Itu yang bikin malu.

Tapi saya tidak kapok. Hari ketiga saya ikut lagi, dan syukurlah akhirnya terpakai juga. Hooreee...!!

Tahu peran saya? Jadi pelayat yang hanya lewat di pemakaman. Jiahahahaha....!! Tapi oke lah. Buat seru-seruan aja. Yang penting dikasih uang rokok.

Nah, hari ke empat yang paling menjengkelkan. Pada adegan sholat (saat salam), posisi saya ada di depan pemeran utama (rahmat kecil). Otomotis, mestinya wajah saya jelas terlihat di kamera. Tapi apa... sewaktu check file (melihat hasil shoot) saya perhatikan ternyata tayangannya close up. Fokus ke pemeran pengganti dan wajah saya tidak tampak sama sekali. Jiaaahhhahahh....!! Sumpah saya malu banget kalau saat itu ada yang memperhatikan saya. Pasalnya, ketika sang director berkata, "action!", seketika itu saya beradegan dengan ekspresi penuh. Dengan harapan supaya di ajak jadi aktor oleh si sutradara. Haaaahahahaahahha....!! Ternyata oh ternyata... boro-boro di jadikan artis. Di sorot kamera aja nggak! Hadeuuhhh...

Tapi ya sudahlah. Semua sudah berlalu. Setidaknya saya sudah sedikit tahu dengan melihat langsung orang yang sedang shooting. Dan sedikitnya saya merasa bangga... meski saya tidak ikut aksi bela Islam 212, tapi saya ikut dalam filmnya (walaupun tidak tampak wajah secara jelas).

PENGAKUAN DARI PELAKU AKSI DAMAI BELA ISLAM 212

Pada hari kelima (hari Jum'at), saya sempat mengobrol dengan salah seorang pemain extra yang merupakan santri Pondok Pesantren Bayasari, Rajadesa, Ciamis. Dia adalah salah satu orang yang ikut longmarch pada aksi 212. Ada beberapa hal menarik dari cerita dia yang mengajak hati saya untuk bertakbir mengagumi tekad mereka pada aksi tersebut.

Singkatnya, pada hari menjelang aksi 212, warga Ciamis tidak di berikan fasilitas angkutan dari mana pun. Beberapa PO bus yang di sambangi, semuanya menutup akses untuk aksi itu. Bahkan, dua bus yang sebelumnya telah sepakat pun akhirnya membatalkan kesepakatan.

Para santri sempat patah semangat, hingga suatu malam, saat sedang berkumpul dan bersantai, ada salah satu orang santri yang berujar, "kita jalan kaki saja, yuk...?"

Rupanya celetukan tersebut mendapat tanggapan serius dari santri-santri yang lain, bahkan mendapat restu dari pengasuh pesantren.

Sengkat cerita... berangkatlah mereka dengan kebulatan tekad yang luar biasa.

Perjalanan dimulai... hari berlalu... badan telah letih... sandal-sandal putus... perjalanan semakin berat. Tapi rupanya... berkat izin Alloh, banyak orang di sepanjang jalan yang bersimpatik dan memberikan bantuan yang tidak sedikit. Persediaan logistik yang awalnya di khawatirkan tidak akan mencukupi, justru dalam perjalanan bertambah hingga berlimpah, bahkan pesera longmarch pun bertambah jumlah hingga 1000-an orang.

Terik panas dan hujan tidak menyurutkan langkah mereka. Tekad mereka sudah bulat dengan seluruh rongga dada dipenuhi oleh kalimat takbir.

Memasuki daerah Malangbong, pasukan longmarch dihadang (diberhentikan) oleh beberapa orang TNI. Menurutnya, jarak Ciamis - Jakarta itu terlalu jauh untuk berjalan kaki. Bahkan seorang militer (tentara) pun tidak pernah ada yang berjalan sejauh itu. Intinya, tentara tersebut menyarankan agar peserta longmarch membatalkan niatnya dan kembali ke Ciamis. Namun pasukan longmarch tidak bergeming. Mereka keukueh akan melanjutkan perjalanan. Bahkan mereka siap bentrok dengan aparat TNI jika mereka tetap di halangi.

Aparat TNI mengalah dan membiarkan para demonstran melanjutkan perjalanan.

Memasuki daerah Bandung, Ahmad Heryawan (Gubernur Jawa Barat) menawarkan bantuan bus untuk mengangkut demonstran ke Jakarta. Tapi peserta longmarch tersebut menolaknya. Entah karena sakit hati akibat fasilitas di tutup sejak dari Ciamis, atau pun karena sebab lain. Tapi yang jelas, mereka merasa sudah terlanjur berjalan kaki.

Walikota Bandung, Ridwan Kamil pun memberikan bantuan berupa logistik dan suplemen untuk mendukung stamina peserta long march.

Di sini saya merasa malu sebagai warga Ciamis. Kok bisa-bisanya pemerintah daerah Ciamis membiarkan rakyatnya menderita seperti itu? Iya kalau soal gubernur yang peduli sih, orang Ciamis ini masih rakyatnya juga. Tapi bagaimana dengan Ridwan Kamil? Tidakkan Bupati Ciamis seharusnya malu pada Walikota Bandung? Ya sudahlah... biarlah... cukup Alloh saja yang menjadi penolong mereka.

Melewati Bandung, menurut perhitungan, aksi long march tidak akan dapat mencapai Jakarta dengan waktu yang tepat. Akhirnya di sana mereka memutuskan untuk menerima bantuan bus dari salah satu alumni Pondok Pesantren Ciamis (saya tidak mendapatkan keterangan nama Pesantren tersebut).

Singkat cerita, sampailah peserta unjuk rasa dari Ciamis tersebut di Monas. Namun di sana, karena mereka datang belakangan, maka mereka tidak dapat mencapai lokasi yang dekat dengan Monas akibat terhalang oleh lautan manusia yang sudah tiba di lokasi terlebih dahulu.

Salah satu peserta aksi mengemukakan ide untuk membeberkan spanduk yang bertuliskan "Kami Laskar Ciamis"... dan tiba-tiba... Subhanalloh... lautan manusia yang sebegitu padatnya membuka jalan bagi demonstran dari Ciamis. Rupanya mereka mengikuti pemberitaan perjalanan laskar Ciamis sehingga dengan mudah mengenali dan memberikan penghormatan yang sedemikian besarnya...

Allohuakbar...!! Allohuakbar...!! Allohuakbar...!! semoga Alloh senantiasa melindungi Muslim Ciamis dan seluruh Umat Islam di Dunia. Amin...

Semoga Alloh memberikan kesadaran pada orang-orang yang menghalang-halangi perjuangan Umat Islam. Dan semoga Alloh menghancurkan sesiapa yang memusuhi Islam... Amin...

Comments