Arti Kemerdekaan Bagi Bikers: jika kita masih di jajah, mungkin kita bukanlah seorang biker

Baca Juga

Motorisweb.com - (Dulu) saat masih remaja, saya (dan sebagian orang) masih sering merasa pesimis dengan arti kemerdekaan Republik Indonesia, Negara kita tercinta. Maklum emosi masih labil dan kondisi menganggur. Seringkali saya melontarkan kata-kata, seperti, "Aaahh... merdeka apaan? Cari kerja susah! Korupsi merajalela! Ekonomi dijajah Cina, Amerika, Yahudi, Jepang dan lain-lain! Saham-saham perusahaan besar dikuasai oleh pihak asing!", dan bla bla bla yang lain.

Arti kemerdekaan bagi seorang biker

Sekilas sepertinya benar. Lepas dari penjajahan fisik, berganti penjajahan ekonomi oleh bangsa asing bahkan penjajahan moral oleh bangsa sendiri melalui budaya korupsi yang seakan sudah mendarah daging menjadi tradisi.

Tapi apa benar seperti itu...? Mari renungkan baik-baik...

...seberat apapun kehidupan kita dimasa sekarang, setidaknya kita tidak harus menjalani kerja paksa membangun jalan raya dari Anyer sampai Panarukan seperti pada masa penjajahan Belanda. Sesulit apapun perekonomian kita, setidaknya kita tidak harus menjadi romusha seperti pada masa pendudukan Jepang di Indonesia.

Ironis memang... banyak orang yang mengaku kesulitan ekonomi, tapi kenyataannya sekarang ini (hampir) setiap rumah memiliki kendaraan bermotor. Bahkan tidak jarang yang satu rumah bisa memiliki lebih dari 2 unit sepeda motor. Lalu dimana letak kesulitannya?

Tapi iya sih... banyak orang (kadang-kadang termasuk saya) yang suka terbalik dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Artinya, lebih mementingkan kebutuhan skunder ketimbang yang primer. Itu sebenarnya yang menjadi biang keladinya.

Contoh nyata adalah ketatnya persaingan pihak leasing aka perusahaan pembiayaan kendaraan bermotor. Mereka berlomba-lomba untuk meraih konsumen sebanyak-banyaknya sehingga seringkali memberikan iming-iming promo yang di luar nalar.

Saya pernah lho (pada awal tahun 2014) ditawari Honda Spacy FI dengan DP 150,000 rupiah. Apa nggak gila itu? DP motor kok cuma seharga rantainya...

Lah saya sih faham, itu promo palsu. Dp di murahin, angsuran bulanan di mahalin. Sama aja kan? Ga minat saya, lah wong dirumah sudah punya Sipanci juga kok?! Wkwkwwk...!! Tapi bijimana dengan orang lain? Banyak lah yang tergiur. Bahkan (mungkin) orang yang awalnya tidak berniat membeli pun jadi iseng pengen beli. Trus kalau sudah seperti itu, di kemudian hari kreditnya macet, motor di tarik oleh pihak leasing dan lain-lain.

Nah, dalam kasus seperti itu, iya sih leasingnya yang jadi biang kerok utama melalui praktek persaingan tidak sehat. Tapi kalau konsumennya cerdas pun hal itu tidak akan terjadi. Maksud cerdas disini adalah, jalani hidup sesuai dengan kemampuan. Mencontoh saya lho... meski hati menginginkan Harley Davidson dan (minimal) Toyota Fortuner, tapi karena keterbatasan finansial ya saya beli Honda Spacy FI saja. Itu pun belinya kredit. Hahaha...!!

Tapi saya bersyukur bisa punya si gendut ini.

Jadi intinya, jangan menyalahkan orang lain akan kesusahan kita. Apalagi sampai menyalahkan investor yang menanam modal di negeri ini. Kasihanlah pada arwah para pejuang kita di alam kubur sana. Syukuri dan nikmati kemerdekaan Bangsa ini. Isi kemerdekaan dengan hal-hal positif sebatas yang kita mampu.

Bagi kita yang bikers, kalau kata orang Sunda, "Peupeuriheun urang teu bisa jiga para pejuang bangsa anu ngorbankeun kesang jeung getih", (walaupun kita tidak bisa seperti para pejuang yang telah berkorban keringat dan darah), setidaknya kita jangan semakin merusak citra bangsa ini. Jaga image ketimuran kita. Tidak usah berfikir untuk melakukan hal-hal besar (syukur-syukur sih bisa), cukup dengan sikap santun di jalan. Patuhi peraturan lalu-lintas, jaga keselamatan berkendara (keep safety riding). Hargai pengguna jalan yang lain. Jangan pecicilan, jangan seruntulan, jangan pakai lampu warna merah pada lampu utama, dan lain-lain lah pokoknya.

Jangan terus-terusan mengeluh dan merasa di jajah oleh produk asing kecuali Anda bisa menciptakan produk tandingan.

Seburuk apapun penjajahan ekonomi bangsa kita saat ini, pasti masih tetap lebih baik ketimbang kita dijajah secara fisik penuh. Karena jika kita masih dijajah fisik, belum tentu sekarang ini kita bisa menjadi biker. Mungkin kita hanya bisa menjadi pengendara sepeda onthel, pun dengan harga yang selangit. Seperti dimasa kecil kakek saya, dimana sepeda onthel dan radio 2 band harus di tebus dengan 3 ton padi...

Akhir kata, Hidup Bikers!!! Merdeka!

Artikel ini ditujukan untuk saya sendiri dan orang-orang seperti saya.

Comments