Skip to main content

Kendaraan Bensin Dilarang! Pemerintah Wajibkan Kendaraan Listrik! Bagaimana nasib bikers...?

Baca Juga

Motorisweb.com - Ada wacana baru yang seru nih, Om Bro... Kabarnya, pada masa yang akan datang, motor (dan mobil) yang menggunakan bahan bakar minyak bumi akan dilarang di Indonesia, dan akan diganti dengan jenis hybrida (listrik) yang lebih ramah lingkungan. Ini menarik nih... mengingat saat ini dunia persilatan otomotif masih malu-malu kucing dalam menciptakan produk-produk jenis tersebut. Dan konsumennya pun masih ogah-ogahan untuk menerima motor listrik kedalam pelukannya...

Lalu apakah nantinya kendaraan bermesin BBM akan mutlak dilarang beredar? Apakah motor listrik akan mampu menggantikan performa motor BBM? Bagaimana dengan kemampuan (daya) tempuh dan waktu pengisian baterainya? Mungkin itu yang saat ini ada didalam benak Anda...

Begini Om Bro, Tante Sis... Biasanya, setiap teknologi ataupun peraturan baru selalu akan menimbulkan kontroversi. Tapi bagi orang yang berfikir positif, pasti hati dan fikirannya akan terbuka untuk melihat segala sisi baik disamping efek negatifnya.

Maksudnya begini... jika Anda mempertanyakan perkara waktu pengisian baterai yang mencapai 6-7 jam, tentu fikiran yang tertanam pada diri Anda adalah bahwa kendaraan listrik tidaklah efektif untuk mendukung mobilitas yang tinggi. Begitu kan? Memang benar sih seperti itu. Saya juga pernah berfikir begitu. Tapi coba kita tengok ke belakang... ingat dimasa awal perkembangan telfon seluler?

Pemerintah mengatur larangan motor bbm dan mewajibkan motor listrik

Pada awal-awal masanya di Indonesia (akhir dekade 1990-an hingga awal 2000-an), sebuah baterai HP memerlukan waktu hingga 6 jam untuk pengisian penuh. Tapi itu dulu banget. Coba lihat perkembangannya, lama kelamaan teknologi semakin maju. Dari 6 jam berkurang menjadi 4 jam, 3 jam... dan sekarang, waktu pengisian baterai ponsel menjadi hanya 1,5 hingga 2 jam saja. Bahkan pada beberapa tipe HP premium, ada yang sudah mampu mengisi baterai dalam 30 menit saja.

Nah... dari situ saya yakin, teknologi otomotif listrik pun akan berkembang, dan pengisian baterai nantinya akan lebih cepat dan jarak tempuhnya menjadi lebih jauh. Pengisian baterai pada motor listrik yang sekarang membutuhkan waktu 6 jam dan hanya mampu menembuh jarak puluhan km saja, nantinya akan menjadi hanya 1 jam saja dan jarak tempuh menjadi ratusan bahkan ribuan km.

Kemudian perkara performa (top speed), rerata saat ini motor listrik hanya mampu melaju dengan kecepatan 60 km / jam. Tapi lagi-lagi saya katakan, bahwa nanti teknologinya akan berkembang dengan sendirinya. Pada saat teknologi motor listrik sudah diminati oleh masyarakat, para pabrikan juga tentunya akan berlomba-lomba untuk menciptakan motor listrik yang ideal sebagai pengganti motor BBM.

Lalu perkara harga... saat ini wajar saja kalau motor listrik masih mahal. Pasalnya, permintaan dari pasar masih sangat rendah sehingga pabrikan belum bisa untuk melakukan produksi masal. Lain cerita kalau produksinya sudah mencapai skala besar, pasti harganya pun dapat di tekan serendah-rendahnya.

Lalu... jika peraturan mengenai larangan motor BBM sudah diterapkan, apakah motor BBM sudah tidak boleh lagi digunakan dijalanan?

Menurut pandangan sederhana saya, pelarangannya tidak akan se-saklek itu. Saya rasa nantinya akan berlaku seperti pelarangan motor 2 tak pada tahun 2015 lalu. Artinya... hanya dilarang bertambah saja. Hanya pabrikannya saja yang dilarang memproduksi lagi motor jenis itu, tapi untuk motor yang sudah terlanjur beredar dipasaran, tetap boleh beroperasi. Toh nantinya dia akan hilang sendiri setelah motor-motor tersebut menjadi tua dan tidak ada lagi dukungan aftersalesnya. Tapi ya memang prosesnya membutuhkan waktu hingga puluhan tahun lamanya.

BERITA MENGENAI PELARANGAN MOTOR DAN MOBIL BBM
Pada hari Kamis, 24 Agustus 2017 lalu di Sofitel Hotel, Nusa Dua, Bali, Kementerian ESDM telah mengundang para stakeholder yang selama ini turut serta dalam industri kendaraan listrik. Selain itu, di undang juga beberapa media massa dalam rapat yang dipimpin oleh menteri Ignasius Jonan tersebut.

Isi rapat adalah membahas draf regulasi percepatan Moda Transportasi Ramah Lingkungan yang nantinya akan diusulkan supaya menjadi Peraturan Presiden (Perpres) atau Peraturan Pemerintah (PP). Dan luar biasanya, hasil dari rapat tersebut telah disepakati oleh kuorum.

Adapun salah satu cara yang diajukan untuk melakukan percepatan Industri Kendaraan Listrik ialah dengan melarang peredaran kendaraan berbahan bakar minyak, entah itu motor atau pun mobil. Dalam rapat tersebut, perwakilan dari Mercedez Benz sempat mengajukan usulan untuk penerapan peraturan tersebut mulai tahun 2030. Sementara Honda dan Toyota mengemukakan pendapat untuk penerapannya di tahun 2050.

Di lain pihak, pabrikan Gesit justru merasa sudah siap dalam rangka produksi kendaraan listrik untuk dimulai pada tahun 2020.

Mendengar pendapat dari beberapa pihak tersebut, kementrian ESDM RI mengambil jalan tengah dengan mengajukan tahun 2040 sebagai awal pelarangan. Dan usulan dari kemetrian ESDM pun akhirnya disetujui oleh semua stakeholder.

Keputusan tahun 2040 sebagai awal pelarangan kendaraan BBM nantinya akan segera disampaikan kepada Presiden RI supaya segera dimasukkan kedalam regulasi yang diharapkan akan rampung di akhir tahun 2017 ini.

Sebagai informasi, saat ini dibeberapa negara lain ada yang justru sudah mendahului Indonesia dalam hal pelarangan kendaraan BBM. Sebagai contoh, Norwegia yang sudah positif akan melarang kendaraan BBM mulai tahun 2025. Sementara itu di Jerman, Inggris, Amerika dan India sudah sepakat untuk memulainya pada tahun 2030.

Berbeda dengan yang lain, negara Perancis telah menetapkan akan menerapkan peraturan tersebut mulai tahun 2040. Tahun yang sama dengan rencana Indonesia.

Hasil baca-baca dari TMCblog, saya dan motorisweb setuju dengan pernyataan Wak Haji, bahwa upaya peralihan energi BBM ke energi listrik adalah sebuah kesempatan besar bagi produk asli / lokal Indonesia yang selama ini sudah banyak melakukan riset. Riset tersebut sudah banyak dilakukan oleh kalangan dari dunia bisnis maupun akademis sejak beberapa tahun lalu.

Momentum ini bagaikan sebuah HARD RESET (istilah pada dunia gadget / ponsel). Artinya, nanti para pabrikan akan mulai berjalan dari nol, entah itu merk lokal maupun global, semuanya akan bersaing secara sehat untuk menciptakan kendaraan yang ramah lingkungan. Hanya saja nantinya spesifikasi dari motor listrik itu sendiri harus mampu mengimbangi performa motor BBM dijaman sekarang, entah itu dari segi harga, jarak tempuh dan powernya.

Diwaktu sekarang ini, sebenarnya di beberapa negara, mobil listrik sudah banyak dipasarkan. Namun harganya masih relatif mahal jika dibandingkan dengan mobil BBM.

Harga yang mahal tersebut disinyalir karena jumlah produksinya yang masih terbatas. Ceritanya tentu akan jadi lain (lebih murah) ketika nanti mobil / motor listrik diproduksi secara masal.

Nah.... Om Bro... kita nunggu teknologi itu diproduksi masal.
Sumber: tmcblog.com, 29 Agustus 2017

Ditempat dan kesempatan yang lain, Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto menyatakan bahwa motor listrik di Indonesia diharapkan akan segera siap di tahun 2018. Namun nyatanya, industri motor listrik masih harus melalui fase persiapan yang panjang karena minimnya infrastruktur serta aturan yang belum jelas.
Sumber: detik.com 29 Maret 2017

Kendaraan listrik memiliki keunggulan yang salah satunya adalah lebih efisien dibanding kendaraan BBM.

Nah, Om Bro / Tante Sis... mari kita dukung perkembangan kendaraan yang ramah lingkungan, demi kelangsungan bumi kita ini. Terutama produk lokal. Semoga produk-produk dengan merk asli Indonesia nantinya akan mampu bersanding seimbang dengan merk-merk dari negara lain. Amin...

Comments