Pentingnya Safety Riding, Xeon RC di hajar Honda Tiger dan nyaris di dzolimi oleh polisi...

Baca Juga

Motorisweb.com - Om Bro... pada hari Selasa, tanggal 1 Agustus 2017 ini, kakak saya (kakak ipar) baru saja mengalami kecelakaan motor. Nah... kalau bicara soal kecelakaan, konotasinya pasti mengarah pada pengertian safety riding. Iya kan? Tapi perkara itu nanti saja di bahasnya. Saya mau cerita kronologis kecelakaannya dulu.

Pentingnya pengertian safety riding

Pagi hari, seperti biasa kakak saya mengantar anak perempuannya berangkat ke sekolah (SMK Bhakti Kencana, Banjar Patroman, Jawa Barat). Tepat di depan gedung sekolah, kakak berhenti di tengah (karena mau belok ke kanan). Posisi sudah benar, adanya di sebelah kiri garis pembatas jalan. Tiba-tiba dari arah berlawanan, meluncur dengan cepat seorang anak SMP dengan mengendarai motor Honda Tiger dan menghantam motor Xeon RC milik kakak.

Syukurlah pada kejadian itu tidak terjadi korban luka berat atau bahkan korban jiwa. Hanya saja, Xeon RC milik kakak rusak cukup parah. As roda bengkok, segitiga garpu bengkok, cover depan remuk.

Kakak segera memeriksa kondisi anaknya (keponakan saya). Setelah aman, kakak menghampiri si anak SMP yang menabraknya. Bertanya baik-baik, kemudian menyuruhnya lanjut masuk ke sekolah. Tapi untuk urusannya, kakak menahan motor si pelaku dan minta nomor telfon orang tuanya untuk menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan.

Singkat cerita, di bawalah motor kakak ke bengkel.

Yang saya garis bawahi disini adalah, dialog kakak dengan pelaku penabrakan. Menurut kakak, anak tersebut mengaku bahwa dia tidak melihat pengendara lain karena silau oleh sorot cahaya matahari pagi. Nah, ini kan lucu... Logikanya, kalau pandangan dia terganggu, mestinya dia berkendara perlahan. Bukan malah ngebut semau-maunya dengan alasan terlambat masuk sekolah.

Tapi ya sudahlah... namanya anak-anak.

Oke. Kronologis kejadian selesai sampai di situ. Tapi ada lagi yang mengganjal dalam hati saya, yaitu masalah ganti rugi.

Awalnya kakak saya menuntut ganti rugi sepenuhnya karena dia merasa tidak bersalah. Tapi sang ibu dari pelaku meminta negosiasi dengan alasan bahwa suaminya sudah meninggal, dan berarti anaknya adalah seorang yatim.

Oke lah... itu alasan pribadi, tidak berhubungan dengan kejadian. Artinya, jika kakak menolak dan tetap meminta ganti sepenuhnya, boleh kan?

Singkatnya, saat itu negosiasi mengalami kebuntuan.

Beberapa jam kemudian, kakak saya menerima telfon dari seorang pria (mungkin saudara dari pelaku atau seseorang yang di mintai pertolongan oleh orang tua pelaku). Dia minta kebijaksanaan dari kakak saya untuk hanya membayar setengah dari biaya perbaikan motor. Kakak saya sempat menolak dan mempertanyakan pertanggung jawaban orang tua pelaku. Alasan kakak, kenapa seorang anak bisa berkendara menggunakan motor besar tanpa SIM dan harus diberi kebijaksanaan dari tanggung jawab? Eeehh... jawaban dari penelfon di seberang sungguh membuat saya syok luar biasa. Si bapak penelfon menjawab bahwa pelaku yang masih kelas 3 SMP itu telah memiliki SIM. Alasannya, walaupun usia dia belum mencukupi, tapi dia punya koneksi dekat dengan Polres (tidak jelas siapa dan apa pangkatnya orang yang di Polres tersebut).

Ini kan lucu.... bagaimana bisa seperti itu? Bahkan dari intonasi orang yang berbicara di seberang telfon, secara tidak langsung dia menantang dan yakin bahwa dia akan menang jika kasus ini di perpanjang. Yaa... pastinya dia berpegang pada patokan bahwa dia "punya orang dalam".

Sampai di sini kakak mulai oleng pemikirannya. Dan sayangnya lagi, saya gagal meyakinkan kakak untuk mempolisikan masalah ini.

Nah, terlepas dari status si anak yang sudah yatim, apakah boleh seorang anak yang belum cukup umur di berikan motor besar dan SIM dari "orang dalam"? Iya sih sekarang sudah jamannya, tidak mungkin kita mengekang anak untuk tidak menggunakan sepeda motor sama sekali. Tapi ya bertanggung jawablah... Jangan mentang-mentang punya koneksi seorang oknum polisi.

Ini saya mohon maaf nih pada instansi kepolisian, khususnya Polres Banjar. Saya yakin hal itu hanya ulah oknum, bukan kepolisian secara penuh. Tapi jika saya adukan hal ini (si oknum) juga tidak mungkin karena kakak tidak bersedia melanjutkan kasusnya. Jadi saya tidak punya bukti apa pun dalam kasus ini.

Jujur saja, saya juga sebenarnya tidak sebegitu beraninya menulis artikel ini. Saya hanya menyampaikan unek-unek yang di sertai dengan Laahaula walaa quwwata illaa billaahil 'aliyyil 'adziim...

PENTINGNYA SAFETY RIDING

Dengan kejadian tersebut diatas, setidaknya hal itu menjadi perhatian bagi diri saya sendiri khususnya, dan bagi kita sekalian pada umumnya. Berlaku santunlah dalam berkendara. Setidaknya perhatikan hal-hal berikut ini,

1. Gunakan helm,
2. Berkendara dengan posisi yang tepat dan memakai pakaian berwarna terang agar mudah terlihat oleh pengendara lain,
3. Batasi kecepatan. Jangan berkendara di luar batas kemampuan,
4. Tidak minum minuman beralkohol atau yang memabukkan,
5. Pastikan rem berfungsi dengan baik,
6. Periksa tekanan angin ban,
7. Periksa lampu-lampu dan sein,
8. Gunakan spion sesuai standar motor,

Ingatlah bahwa perilaku tidak safety bukan hanya membahayakan diri sendiri, tapi juga membahayakan orang lain.

Semoga Alloh senantiasa memberikan keselamatan bagi kita. Amin...

Comments