Perbedaan Rem ABS dan CBS dengan non ABS (konvensional / reguler), masih banyak yang salah kaprah...

Baca Juga

Motorisweb.com - Abis ngintip sharenya Lek Iwb di Twitter. Ternyata kemarin Lek Iwb habis nulis artikel kocak (bagi motorisweb). Sharenya tersebut adalah bahasan email dari Cak Budi yang intinya pembahasan perkara perbedaan rem ABS dan CBS dengan non ABS (konvensional / reguler).

Jadi, ceritanya, Cak Budi ini baru saja berdebat dengan sesama biker yang salah persepsi perihal rem ABS. Biker asal Ponorogo, Jawa Timur itu di suguhkan debatan dari pandangan bahwa rem ABS hanyalah kebohongan iklan (fitur gimmick marketing) saja. Anggapannya, rem ABS adalah sama, tanpa ada perbedaan dengan rem konvensional (reguler). Dan akibat perdebatan tersebut, Cak Budi memutuskan untuk mengirimkan email pada Lek Iwb sebagai curhatan atas kekesalannya tersebut.

Menurut pengakuan Cak Budi, salah satu hal yang membuatnya naik darah adalah karena si lawan bicara ngotot. Udah salah, trus ngotot. Kan ngeselin kan? Padahal doi adalah penunggang Kawasaki Ninja 250. Logikanya, seorang penunggang motor premium, mestinya faham dengan fitur premium yang tersemat didalamnya.

Tapi nyatanya tidak demikian...

Perbedaan rem abs dan cbs dengan non abs

...si penunggang ninja ngotot bahwa ABS hanyalah sistem rem depan dan belakang yang bekerja bersama. Jadi, saat satu tuas / satu pedal di operasikan, kedua rem akan bekerja sekaligus. Intinya tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap efektifitas rem.

Nah... di sini pokok kekeliruannya. Yang cara kerjanya seperti itu kan sistem CBS, bukan ABS... tapi ya itu, nyatanya si lawan bicara tetap saja ngotot dengan pendapatnya. Dan yang paling membuat jengkel Cak Budi adalah karena bikers yang lain justru mengamini omongan si ninja yang keblinger tersebut.

Dari cerita di atas, setidaknya kita dapat simpulkan bahwa, walau seseorang menunggang produk (motor) premium, belum tentu perkara produk knowledge dia lebih advance dari orang yang menunggang motor low end. Memang sih banyak faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang. Salah satunya adalah perkara melek internet.

Seorang yang melek internet (hampir) dipastikan akan lebih berwawasan luas. Dengan catatan dia menggunakan internet untuk hal-hal positif dan dalam rangka mencari informasi yang bermanfaat. Namun begitu, seorang yang melek internet pun harus pandai memilah. Pasalnya, di internet pun banyak sekali informasi yang menyesatkan.

Dan satu hal yang sering di abaikan oleh pemilik motor apapun, adalah, banyak orang yang tidak membaca buku manual panduan motornya sejak masih baru. Padahal ada banyak hal penting di dalam buku tersebut yang harus diketahui oleh si empunya.

Kembali ke rem ABS...

Menurut Lek Iwb (dan menurut motorisweb), rem ABS memiliki perbedaan yang luar biasa alias signifikan dibanding rem biasa. Fungsi utamanya adalah pengamanan terhadap rem mendadak (panic brake) atau pengereman pada kondisi jalan licin. Motorisweb pernah (setidaknya) dua kali terjatuh akibat rem mengunci dan motor tergelincir. Tapi itu dulu, waktu motorisweb masih remaja. Wkwkkwkwk...!! Amit-amit jabang bayi... jangan sampai terjadi lagi.

Jika saja saat itu motorisweb menggunakan rem ABS, Insya Alloh kejadian itu tidak akan terjadi. Wkwkwkwk...!!

Fungsi (cara kerja) ABS adalah mencegah piston menekan berlebih pada piringan (disc) rem. Hal itu di dapat dari perangkat (sensor) yang akan membaca pergerakan disc pada saat pengereman.

Ketika tekanan piston akan mengunci disc, maka sistem akan melonggarkan tekanannya. Hal tersebut dapat terjadi sebanyak 15 - 20 kali perdetik. Maka dengan itu dipastikan ban tidak akan mengalami sliding akibat piringan rem terkunci oleh tekanan piston.

Selain mencegah sliding, sistem ABS (anti-lock brake system) juga efektif untuk mengurangi jarak henti kendaraan.

SEJARAH ABS

ABS pertama kali diperkenalkan oleh french automobile & Aircraft Pioneer. Di cetuskan oleh Gabriel Voisin dan di aplikasikan untuk menahan laju pesawat ketika landing (tahun 1929).

Tentu saja sistem ABS saat itu belumlah secanggih sekarang.

Selang beberapa waktu kemudian, ABS kembali dikembangkan oleh Dunlop’s Maxaret System pada tahun 1950an. Saat itu aplikasinya masih untuk pesawat / aircraft.

Periode berikutnya, pada tahun 1958, Maxaret mencoba menerapkan teknologi tersebut untuk motor yang dinamakan Royal Enfield Super Meteor motorcycle. Aplikasi sistem ABS tersebut terbukti lebih efektif 30% dibanding rem konvensional.

Namun menurut direktur Enfield, Tony Wilson - Jones, sistem ini kurang berpotensi baik sehingga tidak dilanjutkan aplikasinya pada motor-motor produksi masal.

Lama tidak ada perkembangan, pada tahun 1971, ABS kembali di populerkan oleh pabrikan mobil Chrysler yang bekerjasama dengan Bendix corporation. Saat itu sistem ABS disebut “Sure Brake”. Kemudian di ikuti oleh General motor dan di namakan “trackmaster”.

Selanjutnya pabrikan mobil Nissan juga mengembangkan ABS dan menamakannya sebagai EAL (Electronic Antilock System). Nissan adalah pabrikan Jepang pertama yang mengaplikasi ABS pada mobil.

Pada tahun 1988, aplikasi ABS untuk pertama kalinya (di era modern) di terapkan pada motor BMW K100. Disusul kemudian Honda  ST1100 pada tahun 1992.

Honda ST1100 adalah motor jenis touring yang merupakan kendaraan operasional polisi di Eropa dan Amerika Serikat pada masa itu. Hal itu sangatlah pantas, mengingat Honda ST1100 memiliki torsi yang mencapai 111 Nm / 6000 rpm serta power hingga 100 HP / 7500 rpm.

Pada tahun 2007, Suzuki GSF1200SA aka Suzuki Bandit pun mulai menggunakan sistem ABS. Sedangkan motor besar asal negeri paman sam, Harley Davidson, sudah menerapkan ABS sejak tahun 2008 pada semua produknya.

Di era yang semakin modern sekarang ini, di Indonesia pun mayoritas motor jenis sport dengan kubikasi 250 cc sudah (hampir) semuanya menerapkan sistem ABS. Bahkan TVS 180 di India  pun sudah menggunakannya.

Seiring perkembangan dunia persilatan motor, sistem ABS pun telah di terapkan pada motor-motor 150 cc. Sebut saja Yamaha  Aerox, Yamaha NMax dan Honda PCX.

Jika di Indonesia aplikasi rem ABS baru sampai kelas 150 cc, lain cerita dengan di Eropa. Kabarnya, disana penerapan ABS sudah merambah motor berkapasitas 125 cc. Tuntutannya adalah semakin berkembangnya populasi sepeda motor yang secara otomatis membutuhkan lebih banyak fitur safety. Hingga sekarang, teknologi ABS sudah menjadi sistem rem yang wajib di terapkan pada mobil-mobil dan motor-motor di Eropa.

Di Indonesia, fitur ABS pada motor masih terbilang mahal. Selisih harganya bisa mencapai 5 - 6 jutaan dibanding motor dengan sistem rem konvensional.

Untuk menyiasati penjualan, pabrikan biasanya menyediakam dua opsi agar market lebih fleksibel.
Sumber: iwanbanaran.com, 17 Agustus 2017

Comments