Subsidi BBM dan Listrik 2017 Dicabut, bikin orang kecil tambah susah... kemana dananya?

Baca Juga

Motorisweb.com - Subsidi BBM dan listrik 900 VA dicabut dan dihapus secara bertahap sejak tahun 2016 hingga tahun 2017 ini. Meskipun "katanya" bertahap, tapi bagi rakyat kecil seperti saya, tahapan-tahapan tersebut lebih cocok disebut bertubi-tubi. Akibatnya, para pengusaha kecil semakin terseok-seok tanpa tahu harus meratap kemana?

Perkara subsidi BBM sebenarnya belum sepenuhnya dicabut (dihapus). Tapi kebetulan di daerah saya (Banjar Patroman, Cisaga, Rancah dan sekitarnya) termasuk wilayah yang sudah tidak lagi menerima subsidi BBM. Tidak ada lagi bensin (bahan bakar) premium di kampung saya. Yang ada mulai dari Karangkamulyan, Ciamis dan seterusnya ke arah barat.

Kemudian perkara subsidi listrik 900 va, kenaikannya secara bertahap sejak bulan Januari, Maret, dan Mei tahun 2017 ini. Yang artinya, sejak bulan Juni kemarin, pengguna listrik 900 VA sudah tidak lagi menerima subsidi.

Banyak tetangga dan saudara saya yang mengeluh karena subsidi listrik dicabut. Pasalnya, setelah tanpa subsidi, kenaikan tarif listriknya lebih dari 100%. Ya tentu saja... tarif listrik 900 VA yang pada tahun lalu hanya 600-an rupiah per kWH, sekarang menjadi lebih dari 1300 rupiah per kWH. Gile banget kan?

Subsidi bbm dan listrik 2017 dicabut aka dihapus

Bagi saya pribadi, permasalahannya bukanlah pada saat membeli BBM dan beli token listrik saja, tapi lebih pada efek yang di timbulkan akibat pencabutan subsidi-subsidi tersebut di atas. Efeknya yaitu, daya beli masyarakat menurun drastis. Omset penjualan saya menurun, dan bukan cuma saya. Warung-warung langganan saya pun mengeluhkan hal yang sama.

Tapi... semua itu tentunya jika kita hanya melihat dari sisi negatifnya saja. Satu hal yang seringkali tidak disadari oleh kebanyakan orang (termasuk saya), bahwa dalam setiap masalah, pasti ada hikmahnya.

KEMANAKAH LARINYA DANA HASIL PENGHAPUSAN SUBSIDI?

Beberapa hari lalu saya membaca sebuah berita (saya lupa di situs apa) yang menyebutkan bahwa harga semen di pedalaman Papua dapat di tekan hingga 1/4 dari harga biasa. Semen di sana yang semula seharga 2 juta rupiah persak, kini hanya 500 ribu rupiah saja. Bandingkan dengan harga di kampung saya yang hanya di kisaran 50 - 60 ribu. Jauh sekali perbedaannya kan?

Kemudian saya juga menemukan sebuah berita lagi di situs detik.com, edisi Senin, 14 Agustus 2017, yang isinya kurang lebih,

Sejak bulan Oktober 2016, pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menerapkan Program BBM Satu Harga. Dan kini telah tercapai di 21 daerah di Indonesia. 10 dari 21 daerah tersebut ada di Papua dan Papua Barat.

Di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) sekarang bisa mendapatkan BBM dengan harga yang sama seperti di pulau Jawa dan wilayah lainnya. Sebagai contoh, di pedalaman Papua yang sebelumnya harga BBM mencapai Rp 100.000 / liter, sekarang  hanya Rp 6.450 / liter untuk premium dan Rp 5.150 / liter untuk solar.

Bayangkan jika Anda yang tinggal disana dan harus membeli BBM seharga 100 ribu...? Apa nggak nyesek tuh...?

Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah adanya Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar. Dua program tersebut dari mana danannya kalau bukan dari hasil pencabutan subsidi? Ya... walau pun masih sering terjadi kontroversi dalam program-program tersebut.

Contohnya seperti kejadian di buangnya ratusan Kartu Indonesia Sehat di Bengawan Solo beberapa waktu lalu. Kejadian tersebut secara singkat adalah sebagai gambaran kekecewaan sebagian orang terhadap KIS.

Kemudian, hal yang paling saya rasakan sekarang adalah perkara infrastruktur. Sudah banyak jalan-jalan yang dulunya rusak, sekarang sudah rada mendingan. Setidaknya di jalur (rute) niaga saya sehari-hari.

KEMAMPUAN "SUPER" PRESIDEN JOKO WIDODO

Saya ini bukanlah pendukung atau pun fans dari Presiden Jokowi. Rasa hormat saya pada beliau biasa saja. Sama seperti hormat saya pada presiden-presiden RI sebelumnya. Tapi dalam hal ini, saya harus jujur untuk mengacungkan dua jempol pada Pak Presiden.

Maksudnya begini... strategi pemerintahan Jokowi dalam pencabutan subsidi BBM adalah hal yang luar biasa. Beliau menerapkan kebijakan tersebut di mulai dari beberapa wilayah yang "relatif aman" dari gejolak demonstrasi. Seperti di kamping saya, misalnya. Wkwkwwk...!!

Bandingkan dengan pemerintahan sebelumnya yang (pasti) selalu timbul gejolak setiap ada kenaikan harga BBM.

Contoh lain adalah pada saat Aksi Damai Bela Islam 212 dulu. Bagaimana bisa aksi yang diikuti oleh jutaan massa bisa berlangsung aman? (Menurut saya) salah satunya adalah karena kecerdikan Presiden yang memanggil para Ulama dan berdiskusi di Istana Negara, dan bukan hanya melulu memperkuat barikade militer untuk pertahanan keamanan. Asal tahu saja... pada situasi dan kondisi seperti Aksi 212, dulu itu... para peserta aksi hampir sudah tidak ada rasa takut lagi pada aparat, meski bersenjata lengkap. Ibarat kata, mereka siap mati demi membela apa yang di yakininya. Mereka tidak akan mundur begitu saja andai sampai tarjadi bentrokan. Tapi, keberanian (emosi) mereka yang sedemikian besar tersebut justru hanya akan bisa di redam oleh para Ulama. Saya yakin 1000% itu...

Wakakakaakk...!! Jadi ngelantur.

Jadi, apa nih kesimpulannya?

Kesimpulannya ya... selalu belajar untuk melihat setiap kejadian dari dua sisi. Mahalnya BBM dan listrik saat ini adalah untuk pemerataan kemakmuran rakyat, sesuai dengan Pancasila dan UUD 45.

Merdeka!!!

Comments