Skip to main content

Berapakah Harga Bajaj BBG? Ternyata lebih mahal embel-embelnya...

Baca Juga

Motorisweb.com - Cerita ini saya dapat dari kaskus. Yang punya thread tersebut adalah akun AlbertHistory pada tanggal 21 Oktober 2013. Sudah 4 tahun yang lalu... Intinya sih cuma share perkara harga Bajaj BBG yang ternyata harganya begitu mahal akibat biaya embel-embelnya yang ini-itu... yang pastinya tidak saya pahami.

Ceritanya, suatu hari Agan Albert ini terlambat menghadiri undangan. Dia naik Bajaj BBG (Bahan Bakar Gas) supaya bisa selap-selip ke gang-gang kecil... yang intinya supaya bisa lebih cepat sampai ke tujuan.

Nah... saat dalam perjalanan, Agan Albert berbincang-bincang tuh sama Si Abang pengemudi Bajaj. Dari situ terungkaplah bahwa harga Bajaj BBG dalam kondisi baru ternyata mencapai Rp100,000,000 (seratus juta rupiah) bahkan 120 juta. Padahal, jika kita googling, harga yang tersebar di internet saat itu hanyalah Rp60,000,000. Nah lho... apa mungkin bunga kreditnya mencapai 40-60 juta rupiah?

Tentu tidak! Tapi perizinannya-lah yang menjadikan harga Bajaj BBG menjadi dua kali lipat dari harga normalnya. Kecuali bagi orang-orang yang sebelumnya sudah memiliki bajaj oranye, maka dia hanya perlu mengeluarkan uang sejumlah 50-60 juta-an saja untuk menukarkan (mengikuti program peremajaan) si orange dengan Bajaj BBG.

Berapakah Harga Bajaj BBG? Ternyata lebih mahal embel-embelnya...

Tapi rupanya cara ini pun tidak menguntungkan bagi si pemilik Bajaj. Pasalnya, pada beberapa kasus, setelah si oranye diserahkan dan ditarik dari peredaran, ternyata sang pemilik masih harus menuggu indent yang bisa memakan waktu hingga satu tahun. Bayangkan jika Si Abang cuma punya Bajaj satu-satunya... bagaimana dia harus mencari nafkah selama Si Biru belum turun unitnya?

Ada sih cara lain bagi yang sebelumnya tidak memiliki unit Bajaj Oranye. Caranya bisa dengan membeli Bajaj BBG second seharga 80 juta rupiah dalam kondisi sudah siap jalan.

Itulah yang kadang membuat saya heran dari birokrasi di negeri ini. Jadi kesannya kok kayak makin menyusahkan orang yang sudah susah. Seperti yang tidak benar-benar berniat meremajakan Bajaj. Atau ini hanya ulah segelintir oknum? Entahlah...

Secara dasar, sebenarnya maksud dari program peremajaan tersebut tentu sangat baik. Hal tersebut tentunya demi kenyamanan penumpang juga. Pasalnya, Bajaj oranye yang sudah terlalu tua juga jadi rawan mogok. Dan kalau rangkanya sudah keropos karena karat juga kan berbahaya untuk keselamatan penumpang dan pengemudinya. Hanya saja, acapkali tujuan yang baik tersebut tidak dilakukan dengan cara / kebijakan yang baik pula. Ujung-ujungnya harus bayar inilah, bayar itulah... bla... bla... bla... dan nominalnya itu bukanlah jumlah yang kecil. Pusing kan...?

Contoh lain umpamanya program peremajaan / pembangunan ulang pasar. Itu para pemilik kios mesti membayar lagi. Memang sih, untuk pedagang lama / pemilik kios lama biasanya mendapat kemudahan kredit dan ada potongan harga khusus. Tapi jika melihat nominalnya, tetap saja jumlah uang yang harus dibayarkan tersebut nilainya besar.

Iya sih... banyak bos Bajaj yang kaya, jadi (mungkin) mereka tidak terbebani dengan segala biaya tersebut. Tapi bagaimana dengan orang yang hanya memiliki satu unit Bajaj? Atau, bagaimana dengan orang yang profesinya sebagai Pengemudi Bajaj tapi Bajaj tersebut bukan miliknya dan sedang dalam peoses peremajaan?

Kemudian, jika kita singgung perkara Bajaj, maka fikiran saya jadi teringat kembali pada Mobil Kancil yang dulu pernah direncanakan untuk menjadi pengganti Bajaj Orange. Bagaimana armada Kancil bisa layu sebelum berkembang? Sungguh sangat disayangkan... padahal Kancil itu sendiri adalah merk asli Indonesia.

Saya sudah pernah mengulas pada artikel sebelumnya. Silahkan ke kotak pencarian di blog ini.

Comments