Skip to main content

Cara Rem Motor yang Benar dan Sesuai dengan Undang-undang

Baca Juga

Motorisweb.com - Perkara tata cara penggunaan rem motor yang baik dan benar, sudah pernah Mtw tuliskan diblog ini, yakni pada artikel "Panduan Manual Sepeda Motor Honda" (silahkan ke kotak pencarian). Namun Mtw tertarik untuk membahasnya kembali, karena ternyata, tata cara pengereman kendaraan bermotor (baik mobil atau pun motor) telah diatur dalam Undang-undang.

Nah, bagian ini yang Mtw baru tahu... Hahaha...!! Ngakunya blog motor, tapi hal sepenting itu baru tahu dari dulu...? Tapi ya sudahlah... Bagi Mtw, lebih baik jujur meski terkesan "bodoh", dari pada berlagak sok tahu padahal sebenarnya jeblog.

Info ini Mtw dapatkan dari sebuah berita yang dituliskan oleh viva.co.id, edisi 28 September 2017.

Pada dasarnya, peraturan perundangan perihal tata cara pengereman tersebut dibuat untuk mobil dan motor. Tapi disini, Mtw hanya akan bahas penerapan pada motor saja. Mengapa demikian...? Karena menurut hemat Mtw, teknik pengereman sepeda motor jauh lebih kompleks dibanding pengereman mobil.

Cara Rem Motor yang Benar dan Sesuai dengan Undang-undang

Maksudnya begini...
* Sepeda motor hanya memiliki dua roda sehingga berpotensi terjatuh jika salah dalam teknik pengereman,
* Sepeda motor memiliki dua tuas rem yang terpisah sehingga berpotensi tergelincir jika salah dalam teknik pengereman...
...dan perbedaan-perbedaan lainnya.

UNDANG-UNDANG TENTANG PENGEREMAN KENDARAAN
Berdasarkan Undang-undang Nomor.22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan, pengendara kendaraan bermotor dilarang melakukan pengereman secara sembarangan atau pun secara tiba-tiba (mendadak). Mari kita bahas satu-persatu,

* Pada pasal 116 UU LLAJ diterangkan bahwa pengemudi harus memperlambat laju kendaraannya ketika menghadapi enam hal,

1. Jika akan melewati kendaraan umum yang sedang menurunkan / menaikkan penumpang
2. Jika akan melewati kendaraan yang tidak bermotor yang ditarik oleh hewan / hewan yang ditunggangi atau digiring,
3. Kendaraan bermotor harus memperlambat lajunya ketika cuaca hujan dan / atau ada genangan air
4. Jika pengendara memasuki pusat kegiatan masyarakat yang belum dinyatakan dengan rambu lalu lintas,
5. Jika pengendara mendekati persimpangan / perlintasan kereta api,
6. Pengendara harus memperlambat laju kendaraannya jika melihat / mengetahui ada pejalan kaki yang hendak menyeberang.

* Kemudian pada pasal 117 UU LLAJ, pengemudi yang hendak memperlambat kendaraannya pun harus mengamati situasi lalu lintas di samping dan di belakang kendaraan supaya tidak membahayakan pengendara lain.

***

Hal yang kadang menjadi dilema bagi kita (biker) adalah poin paling atas tadi, yang intinya kita harus waspada terhadap angkutan umum yang tengah menaikkan / menurunkan penumpang...!!

Hal yang Mtw sebut dengan "dilema" adalah, karena acap kali Mtw mendapati si angkutan umum itu sendiri yang melakukan pengereman secara sembarangan / mendadak pada saat hendak menaikkan / menurunkan penumpang.

Tapi... itu hanya sedikit gambaran lho ya...!! Tidak untuk mendiskriminasi pihak angkutan umum, karena Mtw yakin, tidak semua pengemudi angkutan umum berlaku seperti itu. Bahkan, bikers sendiri juga tidak jarang membuat ulah yang macam-macam, semisal melalui trotoar, ugal-ugalan dijalan, dan lain sebagainya.

Intinya... mereka-mereka itu hanyalah "oknum" pengemudi angkutan umum dan oknum bikers.

Oke... kita kembali pada perkara rem.

TIPS SAFETY RIDING AGAR TERHINDAR DARI KESALAHAN TEKNIK PENGEREMAN
Sebelum kita masuk pada cara rem motor yang benar, ada baiknya jika Anda tahu dulu beberapa tips berikut ini,

* Lebih waspada pada saat hujan
Meski teknik pengereman yang benar berlaku pada segala kondisi cuaca, namun kita perlu memberikan perhatian khusus pada saat hujan. Pasalnya, saat kondisi jalan basah, maka kondisinya menjadi licin sehingga memperbesar potensi kecelakaan pada saat pengereman.

* Gunakan profil ban untuk segala kondisi jalan
Bagi seorang pembalap, penggunaan ban sepeda motor tentunya akan disesuaikan dengan kondisi cuaca pada saat balapan. Tapi tidak demikian aplikasi pada motor harian.

Penggunaan ban jenis kering akan berakibat feel licin pada saat kondisi jalan basah. Demikian juga sebaliknya... penggunaan ban basah akan berakibat cengkraman ban tidak maksimal ketika digunakan pada kondisi jalan kering.

Secara umum, ban segala cuaca adalah ban yang memiliki profil panjang melingkar dibagian tengah, ditambah dengan profil pendek-pendek kearah samping.

Jika Anda belum faham dengan profil ban seperti tersebut, maka perhatikanlah ban pada motor yang Anda beli dengan kondisi baru. Itulah ban segala cuaca, karena setiap pabrikan selalu memberikan ban "harian" pada produk-produknya (kecuali mungkin pada tipe-tipe tertentu).

* Mengurangi kecepatan pada kondisi tertentu
Berkendara dengan kecepatan terlalu tinggi pun berpotensi gagalnya pengereman. Maka dari itu, kurangilah kecepatan pada saat Anda berkendara dimalam hari, saat hujan, dijalanan sempit, dijalanan rusak atau hal-hal lain yang sekiranya berbahaya.

* Sesuaikan kecepatan dengan rata-rata kecepatan kendaraan lain
Cara ini wajib dilakukan jika Anda berkendara dijalanan kota atau jalanan yang relatif ramai. Menyesuaikan kecepatan berkendara dengan kecepatan orang lain dapat membantu efektifitas pengereman.

Teorinya begini... Jika Anda berkendara jauh lebih cepat dibanding kecepatan orang lain, sudah jelas, resikonya adalah menabrak kendaraan lain didepan Anda. Sebaliknya, jika Anda berkendara dengan kecepatan yang terlalu rendah, maka Anda beresiko akan tertabrak oleh kendaraan lain.

* Berkendara dijalur yang benar
Anda pernah mengalami disalip oleh kendaraan lain dari sebelah kiri...? Bagi yang pernah mengalaminya, sebaiknya Anda interospeksi diri.

Sekilas, cara menyalip dari sebelah kiri adalah hal yang sangat menyebalkan karena memang tidak sesuai dengan aturan perlalu-lintasan yang ada di Indonesia. Tapi ada kalanya kejadian tersebut disebabkan karena kesalahan Anda sendiri. Barangkali Anda berkendara dengan kecepatan rendah dilajur sebelah kanan?

* Jaga jarak aman
Menjaga jarak aman pun merupakan salah satu cara agar terhindar dari kecelakaan akibat kesalahan pengereman. Logikanya, jika Anda berkendara dengan jarak yang terlalu rapat, maka Anda akan melakukan pengereman secara mendadak jika sewaktu-waktu kendaraan didepan Anda mengurangi kecepatan secara mendadak pula.

Ukuran jarak aman tidaklah baku. Bisa bervariasi sesuai dengan situasi lalu lintas dijalan tersebut.

Sebagai contoh, jarak aman yang umum dikampanyekan dijalan tol adalah sejauh 50 meter. Tapi, (menurut yang Mtw alami), jarak 5 meter bahkan 2 meter pun sudah relatif aman jika Anda berkendara pada situasi lalu lintas padat (bahkan macet) dan berkecepatan rendah. Jadi, mesti disesuaikan juga dengan situasi lalu-lintas dan kondisi jalan.

Secara singkat, jarak aman adalah jarak yang kita yakini cukup untuk melakukan pengereman sesuai dengan situasi dan kondisi jalanan saat itu.

* Jangan meletakkan jari tangan pada tuas rem
Dulu... pada saat saya baru bisa mengendarai sepeda motor, saya selalu meletakkan jari telunjuk dan jari tengah pada tuas rem depan. Jadi hanya ibu jari, jari manis dan kelingking saja yang mencengkram handle gas.

Asumsi saya saat itu adalah, dengan posisi demikian, maka saya akan dengan mudah / refleks dalam melakukan pengereman.

Pemikiran saya berubah ketika suatu ketika saya membaca panduan safety riding bermotor dari Honda Indonesia (saya lupa sumber tepatnya). Menurut panduan safety riding tersebut, posisi tangan seperti itu justru salah karena dapat menyebabkan reflek pengereman yang tidak seharusnya. Selain itu, posisi tangan pada tuas rem juga dapat mengakibatkan tertekannya handel rem secara tidak sengaja namun terus menerus. Dan jika hal itu terjadi, maka kanvas rem akan menjadi panas karena bergesekan pada media rem secara terus menerus. Akibatnya, efektifitas (kepakeman rem) akan menurun dan dalam jangka panjang akan mengakibatkan kanvas rem menjadi lebih cepat aus.

CARA REM MOTOR YANG BAIK DAN BENAR
Meski teknik pengereman pada sepeda motor terkesan hal sepele, tapi sebenarnya masih banyak yang salah kaprah. Asli Mtw sering mengamatinya dijalanan. Padahal seharusnya beginilah cara rem motor yang benar,

* Menutup putaran gas tangan
Membaca tulisan ini, jangan sampai Anda mencibir dengan kata, "semua orang juga tahu kalau mau ngerem ya harus tutup gas!". Betul! Bagi orang yang faham. Tapi apakah Anda pernah memperhatikan ibu-ibu dan bapak-bapak tua yang tidak berlaku demikian?

Saya beberapa kali (bahkan terbilang sering) mendapati kesalahan seperti itu. Seorang pengendara motor melakukan pengereman tapi suara mesin menderu karena putaran gas tangan tidak ditutup.

* Posisi motor harus tegak
Karena sepeda motor hanya memiliki dua roda, yakni didepan dan belakang, maka posisi kendaraan saat pengereman haruslah pada kondisi tegak. Karena jika posisi motor dalam keadaan miring, maka berpotensi terjadi sliding aka ngepot (ngesot).

* Menggunakan rem depan dan belakang secara bersamaan
Asli dikampung saya masih (rada) banyak orang yang menganggap bahwa rem belakang lebih penting dari pada rem depan. Bahkan banyak orang yang hanya menggunakan rem belakang saja tanpa rem depan. Padahal, dengan aplikasi rem belakang tanpa rem depan, motor akan berpotensi mengalami hilang keseimbangan karena roda belakang ngesot.

Sejatinya, fungsi dari rem depan justru lebih efektif dibanding rem belakang. Karena itulah dari semua pabrikan motor, rem tipe cakram lebih banyak diaplikasikan pada roda depan ketimbang roda belakang. Namun demikian, penggunaan rem depan tanpa rem belakang pun dapat berakibat motor terjungkal aka terpelanting.

Jadi, kesimpulannya, cara rem motor yang benar haruslah bersamaan antara rem depan dan belakang.

* Melakukan pengereman secara perlahan
Hal ini hanya dapat dilakukan jika Anda berada pada jarak aman dengan kendaraan lain didepan Anda. Pasalnya, cara rem secara mendadak sangat berpotensi mengakibatkan kecelakaan yang parah, entah karena Anda tertabrak kendaraan lain dari belakang, atau Anda terjatuh dengan sendirinya.

* Memindahkan percepatan pada gigi rendah
Pada motor manual (sport dan cub), cara memindahkan percepatan pada gigi rendah dapat membantu pengereman. Hal itu karena gigi rendah menghasilkan efek engine brake (pengereman mesin) yang lebih kuat dibanding gigi tinggi.

* Jangan melakukan pengereman pada saat menikung
Pada saat motor menikung, maka posisi motor akan berada dalam kondisi miring. Dan potensi kecelakaannya seperti yang sudah saya sebutkan diatas.

PENGECUALIAN CARA REM MOTOR YANG BENAR
Meski secara garis besar, aplikasi rem depan dan belakang secara bersamaan adalah cara yang terbaik, tapi ada beberapa pengecualian. Misalnya pada saat Anda berkendara dijalanan yang sangat licin (misalnya karena lumpur), maka aplikasi rem depan sangat tidak disarankan. Pada kondisi seperti itu, penggunaan rem depan justru dapat berakibat motor terpeleset / terpelanting.

Pun jika Anda melintasi jalan menurun dengan kondisi berpasir, sangat tidak disarankan untuk menggunakan rem depan.

Lalu, apakah penggunaan rem belakang saja akan cukup kuat?

Tentu saja tidak! Karena itu, Anda harus mengurangi kecepatan / berkendara dengan kecepatan rendah pada kondisi seperti itu.

Comments