Skip to main content

Kekurangan dan Kelebihan Buruh Bangunan... tidak perlu gengsi menjalaninya

Baca Juga

Motorisweb.com - Jika dilihat dengan cara pandang umum, profesi sebagai kuli / buruh bangunan sepertinya sarat dengan kekurangan. Hampir tidak terlihat kelebihan yang terkandung didalamnya. Namun bagi saya yang pernah menjalaninya, tentu pandangan saya menjadi berbeda dengan penilaian kebanyakan orang. Setidaknya saya (berusaha) berpandangan obyektif pada pekerjaan ini.

Saya pernah menjalani pekerjaan sebagai office boy, staff gudang, operator produksi industri tekstil, sales force, penyiar radio, waiter restoran, staff administrasi, sales canvas, sales motoris, bahkan kuli aka buruh bangunan. Maka dari situ setidaknya saya dapat sedikit merasakan suka duka dari semua profesi tersebut.

Nah, kali ini saya tidak akan membahas semuanya. Saya hanya akan membahas profesi buruh bangunan saja karena bidang ini yang (sepertinya) paling tidak recomended bagi kebanyakan orang.

Sesuai dengan namanya, "buruh bangunan" adalah pekerjaan sebagai buruh harian lepas yang bekerja membangun suatu bangunan, entah itu gedung, rumah dan sebagainya.

Kekurangan dan Kelebihan Buruh Bangunan... tidak perlu gengsi menjalaninya

KEKURANGAN BURUH BANGUNAN
* Memerlukan tenaga dan stamina ekstra
Pekerjaan dibidang ini berisiko kepanasan dan kehujanan karena lebih banyak bekerja ditempat terbuka. Selain itu, pekerjaannya pun selalu berhubungan dengan barang-barang berat. Apalagi bidang yang pernah saya jalani adalah dibagian konstruksi baja. Ya berat, keras dan berbahaya.

* Status pekerjaan tidak tetap / tidak berkesinambungan
Karena pekerjaan buruh bangunan adalah "membangun", maka sifatnya tidak tetap. Pekerjaan tersebut akan segera berakhir ketika bangunannya sudah selesai. Iya sih nantinya bisa saja ada proyek lain yang harus dikerjakan, tapi hal tersebut tentu tidak dapat kita pastikan sendiri. Tergantung dari jam terbang dari pemborong yang kita ikuti.

Selain itu, jika pun pekerjaannya ada terus sepanjang tahun, tentu tempatnya pun akan berpindah-pindah sesuai dengan lokasi proyek. Jadi Anda tidak akan menetap disatu tempat kerja untuk seterusnya.

* Jauh dari keluarga
Pada umumnya, pekerjaan proyek bangunan yang selalu ada sepanjang tahun itu diperkotaan. Sedangkan kebanyakan pekerja bangunan adalah berasal dari kampung-kampung (seperti saya), sehingga tidak dapat setiap hari pulang dan berkumpul dengan keluarga. Dengan demikian, maka seorang buruh bangunan harus siap untuk jauh dari keluarga.

Bagi sebagian orang (terutama yang masih lajang), hal ini (mungkin) tidak akan terasa terlalu berat. Tapi bagaimana jika Anda seperti saya...? Meninggalkan istri dirumah dengan ketiga anak kami yang masih kecil-kecil. Bayangkan betapa saya merindukan mereka disetiap waktu saya... Sedih, kan? Hiks, hiks, hiks...!!

* Tidak ada jaminan sosial dan kesejahteraan
Ketika Anda bekerja disatu perusahaan tetap, (pada umumnya) Anda akan mendapatkan BPJS Ketenagakerjaan. Isinya yaitu jaminan kesehatan dan dana pensiun.

Tapi fasilitas tersebut tidak akan Anda dapatkan ketika Anda bekerja sebagai buruh harian lepas dibidang ini.

Salah satu contoh yang pernah teman saya alami ketika dia mengalami kecelakaan kerja pada akhir tahun 2013 lalu. Dia menderita luka bakar serius akibat terkena ledakan oksigen dari tabungnya saat hendak memotong baja menggunakan api blander.

Syukurlah Pak Mandornya bertanggung jawab penuh atas pengobatan Agus yang menghabiskan dana hingga Rp40 jutaan.

Nah, masalahnya... tidak semua mandor (pemborong) mampu dan mau untuk bertanggung jawab penuh atas kecelakaan kerja yang menimpa pekerjanya. Saya pernah mendapati ada seorang buruh (dibagian lain) yang dahinya terkena patahan paku. Iya sih saat itu Sang Mandor bertanggung jawab atas pengobatannya... tapi Si Mandor mengobati pekerjanya sambil menggerutu dan (bahkan) setengah marah. Padahal biaya pengobatannya hanya beberapa ratus ribu rupiah saja lho itu... Tapi (sepertinya) Si Mandor justru malah menyalahkan Sang Pekerja, seolah menganggap anak buahnya tersebutlah yang ceroboh dalam bekerja. Padahal menurut hemat saya (logikanya), siapa sih orangnya yang mau celaka?

* Risiko kerja lebih tinggi dibanding pekerjaan lain
Setiap pekerjaan buruh bangunan, pasti selalu berhubungan dengan ketinggian, meski berbeda-beda tingkat ketinggiannya. Dan disitulah risiko terbesar selain risiko-risiko lain yang berhubungan dengan material bangunan.

Foto berikut ini adalah salah satu kakak saya yang bekerja dibagian konstruksi. Bayangkan, dia harus memanjat besi pipa seperti itu pada ketinggian 28 meter tanpa alat pengaman apa pun.

Kekurangan dan Kelebihan Buruh Bangunan... tidak perlu gengsi menjalaninya

Pada sebagian proyek garapan pemborong besar, biasanya selalu disediakan peralatan keamanan (safety). Tapi tidak dengan proyek-proyek pemborong kecil.

* Gengsi rendah, penampilan lusuh
(Hampir) semua orang akan menganggap pekerjaan ini adalah pekerjaan level rendah. Saya yakin, tidak seorang pun akan memilih pekerjaan sebagai buruh bangunan sepanjang dia bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Kemudian, sebersih dan serapi apa pun seorang buruh bangunan, tampilannya cenderung akan lusuh karena pekerjaan dan lingkungan tempat tinggalnya yang relatif kotor oleh material bangunan itu sendiri. Bahkan, tempat tidur yang semestinya bersih dan rapi pun tidak tersedia dilokasi proyek.

Seorang buruh bangunan akan menggunakan apa pun sebagai alas tidurnya. Entah itu karung, dus karton dan / atau yang lainnya. Nah, dengan tempat tidur seperti itu, bagaimana seorang buruh bangunan akan bersih dan rapi, sementara tempet untuknya tidur pun kotor...?

* Tempat tinggal tidak layak
Umumnya seorang buruh bangunan akan tinggal dan tidur dilokasi proyek. Dan seperti yang saya sebutkan diatas, tempat tinggal dan tempat tidurnya pun tidak layak bagi pandangan kebanyakan orang.

KELEBIHAN BURUH BANGUNAN
Namun demikian... pekerjaan apa pun pasti akan memiliki kelebihan sepanjang kita mau berfikir positif. Contohnya,

* Tidak memerlukan pendidikan tinggi
Seorang lulusan SMP, SD, bahkan seorang yang tidak bersekolah pun bisa menjadi seorang buruh bangunan. Bahkan, mandor saya yang sekaligus pemborong konstruksi baja pun hanya lulusan SMP (kalau tidak salah). Bahkan saya yang hanya lulusan SMK pun dilingkungan proyek dianggap berpendidikan tinggi.

Acap kali teman kerja diproyek menanyakan perhitungan panjang bangunan dan lain-lain, padahal saya tidak faham apa pun! Lah wong sekolah saya sama sekali tidak berhubungan dengan perhitungan bangunan. Wkwkwkwk...!!

* Waktu dan hari kerja fleksibel
Profesi lain sudah barang tentu hari kerjanya Senin sampai Jum'at atau sampai Sabtu (tergantung kebijakan masing-masing perusahan). Jam kerjanya pun pada umumnya tidak jauh berbeda, yakni 40 jam perminggu (menurut aturan Undang-undang Nomor.13 tahun 2003).

Pada dasarnya, hari dan jam kerja buruh bangunan pun relatif sama dengan pekerja lain. Tapi bedanya, kita tidak takut jika sesekali terlambat masuk kerja atau harus pulang lebih awal karena ada suatu keperluan penting. Kita pun tidak perlu membuat izin tertulis saat harus meninggalkan lokasi kerja untuk suatu keperluan. Cukup dengan izin lisan saja.

(Kadang ada sih mandor yang galak dan ribet, tapi rata-rata tidak).

* Bekerja tanpa ikatan, bebas / masuk keluar kerja
Jika suatu ketika kita merasa jenuh atau mendapatkan pekerjaan lain, kita tidak perlu mengajukan pengunduran diri secara resmi. Pun begitu saat kita hendak masuk kerja sebagai buruh bangunan, hanya tinggal bicara non-formal dengan Mandornya. Selama Pak Mandor sedang ada job, hampir bisa dipastikan kita akan diterima kerja (kecuali jika kita pernah memiliki kesalahan fatal atau belum kenal baik dengan mandornya).

* Upah tidak kalah dengan tenaga kerja lain
Sepengalaman saya, selama saya bekerja sebagai buruh bangunan, pendapatan kotor saya perbulan hanya selisih sedikit dengan UMK setempat. Artinya, pendapatan seorang buruh harian lepas pun tidak kalah jauh dengan buruh-buruh lainnya semisal buruh pabrik, waiter restoran dan lainnya.

Namun begitu, kebijakan nilai upah ditentukan oleh mandor / pemborongnya masing-masing. Jadi, pada beberapa kasus, pendapatan seorang buruh bangunan bisa lebih besar atau pun lebih kecil dari UMK setempat.

* Sistem pengupahan mingguan
Nah... ini yang beda. Jika kebanyakan pekerja menerima upah bulanan, lain halnya dengan buruh bangunan.

Kebanyakan buruh bangunan menerima upah kerja dengan interval mingguan, sehingga lebih cepat mendapatkan penghasilan dibanding pekerjaan lain.

* Mulai bekerja tanpa modal dan tempat tinggal gratis
Yang saya maksud dengan "tanpa modal" adalah, kita tidak harus punya uang untuk makan dan bayar kost / kontrakan selama kita belum menerima gaji pertama. Bahkan yang saya alami, saya berani berangkat kerja ke proyek bangunan walau hanya memiliki uang untuk ongkos berangkat.

Biasanya, disetiap proyek bangunan selalu ada warung yang menyediakan makan dengan cara pembayaran mingguan. Dan cara pembayarannya pun dibelakang. Maksudnya, kita berhutang dulu, baru dibayar kemudian.

Hal seperti ini jarang sekali ditemukan dibidang pekerjaan lain. Sesekali ada sih (misalnya bagi buruh pabrik), tapi tidak selalu ada.

Kemudian perkara tempat tinggal, sudah saya sebutkan diatas bahwa buruh bangunan selalu tinggal dilokasi proyek. Dengan demikian, maka kita tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar kost / kontrakan.

Comments