Motor Listrik Yamaha Bebas Pajak dan Bea Balik Nama...?

Baca Juga

Motorisweb.com - Om Bro... Pada tanggal 2 November 2017 ini Yamaha Indonesia telah secara resmi memperkenalkan Motor Elektrik Vino aka E-Vino di Epicentrum Jakarta. Hal itu senada dengan program pemerintah RI yang berniat mempercepat realisasi motor listrik sebagai kendaraan harian masyarakat kita.

Perkara harga, saat ini belum ada angka pasti karena pengujiannya masih sebagai kendaraan internal. Namun menurut Dyonisius Betty selaku Executive Vice President Yamaha Indonesia Motor Mfg. (YIMM), kemungkinannya akan berada dikisaran Rp25 jutaan.

Yamaha E-Vino menggunakan arus listrik DC dengan penyimpan daya baterai lithium 50 volt. Kecepatan maksimal dapat mencapai 44 km/jam.

Kekuatan baterainya mempu menempuh jarak 30 km dengan sekali charge. Dan karena motor tersebut menggunakan dua baterai, maka jarak tempuhnya menjadi 60 km. Sementara untuk pengisian daya, tiap-tiap baterai akan terisi penuh dalam waktu
3 hingga 4 jam.

Motor Listrik Yamaha Bebas Pajak dan Bea Balik Nama...?

Yaa... disitulah keterbatasannya ya, Om Bro... Perkara kecepatan maksimal, daya tahan baterai hingga waktu charging masih belum dapat memenuhi kebutuhan mobilitas kita sehari-hari. Tapi Mtw yakin, seiring perkembangam teknologi, pada saatnya nanti motor listrik akan mampu seperti motor konvensional dimasa sekarang. Dan semua itu tentunya membutuhkan proses yang panjang dan rumit.

Kembali ke Yamaha...

Saat ini Yamaha tengah melakukan studi pasar motor listrik hingga satu bulan ke depan. Studi tersebut dilakukan oleh Yamaha Indonesia dengan menggandeng institusi Kebun Raya Bogor, Universitas Pelita Harapan (UPH), PT.Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia dan The Breeze BSD. Teknisnya adalah, E-Vino saat ini digunakan sebagai kendaraan dilingkungan internal dari 4 institusi tersebut.

SEJARAH MOTOR LISTRIK YAMAHA
Yamaha mulai memperkenalkan sepeda listrik pada tahun 1993 dengan memasarkan sistem Electrical Support Bicycle yang pertama, yakni Yamaha PAS (Power Assist System). Penjualannya dilakukan dikawasan Eropa dan Asia, khususnya dinegara asalnya, Jepang.

PAS adalah sepeda yang dilengkapi dengan motor penggerak elektrik. Dan hingga saat ini, penjualan Yamaha PAS di pasar internasional telah mencapai lebih dari 4 juta unit.

Kemudian, untuk kali pertama Yamaha memperkenalkan teknologi sepeda motor listrik pada tahun 2002 melalui produk Yamaha Passol. Produk inilah yang kemudian berkembang menjadi Yamaha EC-02, Passol-L, EC-03 dan akhirnya sekarang menjadi E-Vino.

Pasar utama motor listrik Yamaha saat ini adalah benua Eropa. Sedangkan di Asia baru populer di Jepang dan Taiwan saja.

Angka total penjualan sepeda motor listrik Yamaha saat ini telah mencapai lebih dari 10.000 unit.

SEPEDA MOTOR LISTRIK BEBAS PAJAK DAN BEA BALIK NAMA?
Demi mendorong percepatan pengembangan kendaraan bertenaga listrik, Ignasius Jonan selaku Menteri ESDM RI mengusulkan agar motor listrik dibebaskan dari pajak serta bea balik nama. Saat ini usulannya tersebut sudah diajukan supaya dapat dimasukkan kedalam Perpres/Kepres. Namun, hal itu pun tentunya membutuhkan kajian yang mendalam karena menyangkut keputusan beberapa pihak, termasuk persetujuan Kementrian Keuangan.

Usulan Menteri ESDM tersebut dimaksudkan agar harga motor listrik dapat bersaing dengan motor-motor konvensional. Pasalnya, tanpa pajak dan bea balik nama, maka harga jual si motor dapat ditekan hingga Rp2 juta. Dengan begitu, maka diharapkan kehadiran kendaraan bertenaga listrik akan dapat menarik minat para calon konsumen.

Tapi menurut Mtw sih... akan sangat lebih baik jika para pejabatnya dulu yang memberikan contoh menggunakan kendaraan listrik. Maksudnya, jika semua kendaraan dinas / kendaraan inventaris para pejabat dari istana sampai tingkat RT adalah kendaraan listrik, maka rakyat pun akan tertarik ikut membelinya. Iya nggak sih Om Bro? Tante Sis?

Hehehe...!! Maaf ya, Bapak/Ibu pejabat... ini cuma masukan.

Kembali ke pokok bahasan...

Menurut Menteri ESDM, penggunaan kendaraan listrik adalah sesuai dengan kebijakan energi nasional (KEN) serta pedoman kemandirian energi nasional. Pasalnya, dengan banyaknya pengguna kendaraan elektrik, maka hal tersebut akan mengurangi jumlah impor bahan bakar dari luar negeri.

Sekedar informasi, saat ini produksi minyak mentah di Indonesia hanya mencapai 800,000 barel perhari (bph), sementara konsumsi bahan bakar mencapai angka 1,6 juta bph.

Jadi kalo ngga ngimpor ya tekor, Om Bro... (Mtw)
Sumber: Motorpacu, iwanbanaran.com, liputan6.com

Comments