Prosedur Tilang Polisi, Cara Menghadapi Polisi Saat Kena Tilang serta Tips Agar Terhindar dari Tilang

Baca Juga

Motorisweb.com - Diakui atau tidak, kebanyakan (bahkan mungkin semua) orang pasti tidak akan merasa ikhlas dengan perkara yang satu ini. Maka dari itu, kali ini Mtw akan share mengenai prosedur, cara menghadapi polisi serta tips agar terhindar dari tilang.

Entah sampai sekarang masih marak atau tidak, tapi sejak kecil Mtw sudah sering mendengar cerita tentang pelanggaran dijalan, baik itu pelanggaran oleh pengguna jalan atau oleh oknum polisi yang seharusnya justru menegakkan hukum yang setegak-tegakknya.

Sering Mtw dengar cerita-cerita pungli dijalanan yang akhirnya berhasil menggiring opini masyarakat bahwa uang denda tilang sesungguhnya hanya masuk ke kantong pribadi para oknum polisi.

Masih terlalu sedikit orang yang memahami bahwa dengan prosedur tilang yang benar, maka sebenarnya uang denda yang Om Bro bayarkan akan masuk ke kas negara.

Prosedur Tilang Polisi, Cara Menghadapi Polisi Saat Kena Tilang serta Tips Agar Terhindar dari Tilang

PROSEDUR TILANG POLISI YANG BENAR
Ketika seseorang melakukan pelanggaran dijalan, hal yang seharusnya dilakukan oleh petugas (polisi) adalah dengan memberikan sanksi melalui surat tilang. Didalamnya tercatat data diri pelanggar, pasal yang dilanggar, dokumen yang ditahan (bisa juga kendaraannya) serta identitas polisi yang menilang.

Surat tilang resmi dibuat dalam lima rangkap sebagai berikut,
1. Slip merah untuk pelanggar
Slip merah dari surat tilang diberikan jika si pelanggar merasa keberatan dengan penilangan tersebut. Dengan slip merah ini, pelanggar diberikan kesempatan untuk mengikuti sidang di pengadilan negeri setempat. Maksudnya, pelanggar diberikan kesempatan untuk membela diri pada persidangan jika dia merasa tidak bersalah.

Cara ini sebenarnya juga belum tentu efektif. Soale setahu Mtw, si pelanggar justru lebih banyak yang menggunakan jasa calo untuk mengambil dokumen miliknya ke pengadilan. Akhirnya, status sidangnya itu sendiri lebih bisa disebut sebagai penjatuhan vonis saja.

Dalam hal ini bahasannya memang jadi dilema. Disatu sisi perkara calo digembor-gemborkan sebagai momok yang menyeramkan. Tapi disisi lain... entahlah... rumit. Mtw tidak ingin bahas terlalu jauh. Silahkan Om Bro sekalian yang memberikan penilaian dalam hal calo-mencalo.

Nah, jika Om Bro mengalami masalah seperti ini dan memilih untuk menempuh jalan sidang, dianjurkan untuk datang lebih awal dari jadwal. Tujuannya agar tidak antre terlalu panjang.

Kemudian jika karena sesuatu hal Om Bro datang terlambat, maka langsung saja ke loket khusus tilang di pengadilan negeri dimaksud. Bayarlah denda Om Bro, serahkan copy surat tilang dan ambil SIM / STNK yang sebelumnya ditahan oleh petugas.

2. Slip biru untuk pelanggar
Diberikan jika pelanggar langsung mengakui kesalahannya dan bersedia membayar denda maksimal melalui bank yang bekerja sama dengan kepolisian.

Denda maksimal yang dimaksud adalah begini... ini pengalaman pribadi nih. Mtw juga bukan manusia yang sempurna. Mtw juga pernah melakukan pelanggaran dijalan.

Ceritanya, pada tahun 2014 lalu, Mtw menerobos lampu merah disekitaran Menteng, Jakarta Pusat. Saat itu petugas memperlihatkan copy tulisan dengan isi pasal yang Mtw langgar dengan denda maksimal Rp250,000. Nah, jika ketika itu Mtw mau, Mtw dipersilahkan untuk membayar denda senilai maksimal tersebut di bank (Mtw lupa nama banknya).

Tapi Mtw lebih memilih untuk sidang saja pada 2 minggu kemudian. Dan nyatanya, melalui sidang, Hakim hanya menjatuhkan vonis denda sebesar Rp100,000 saja.

Tapi, jika pun Om Bro memutuskan untuk membayar denda tilang melalui bank, dendanya pun belum tentu sejumlah maksimal tersebut. Memang awalnya Om Bro harus membayar sejumlah tuntutan maksimal, tapi jika nantinya ternyata vonis hakim pengadilan lebih rendah, maka kelebihan uang denda tersebut dapat Om Bro ambil kembali.

Pengambilan kelebihan uang tersebut dapat Om Bro lakukan jika Om Bro datang ke pengadilan / kejaksaan untuk mengambil bukti vonis. Kemudian pihak pengadilan / kejaksaan akan mengarahkan Om Bro pada bank yang telah ditunjuk untuk menarik kelebihan uang denda itu tadi.

Mtw rasa kayaknya kok rancu ya? Ujung-ujungnya pengadilan juga... Wkakakak...!!

3. Slip hijau untuk pengadilan,
4. Slip kuning sebagai lampiran untuk kepolisian,
5. Slip putih adalah lampiran untuk kejaksaan,

ALTERNATIF MEMBAYAR DENDA TILANG
Selain dengan dua cara diatas, ada juga cara lain untuk membayar denda tilang. Dalam keadaan yang tidak memungkinkan (umpamanya diluar kota), Om Bro bisa juga menitipkan uang denda tilang pada petugas. Yang artinya Om Bro memberikan kuasa kepada petugas (polisi) untuk mewakili Om Bro pada persidangan.

Secara pribadi, Mtw tidak menyarankan cara ini. Soale dengan cara ini, Om Bro tidak memperoleh slip merah atau pun slip biru. Yang artinya pula, Om Bro tidak punya bukti tertulis sebagai pegangan. Om Bro hanya bisa memastikan bahwa petugas mengisi surat tilang serta menandatanganinya.

Memang sih, blangko surat tilang itu sendiri dibuat rangkap. Secara normal, petugas tidak akan bisa nakal dengan mengantongi uang dari Om Bro... Bukankah petugas juga harus melaporkan setiap lembar surat tilang yang dia keluarkan?

Tapi ya... polisi juga manusia. Manusia itu kan diantara Malaikat dan syetan! Iya kan?

Tapi...

Tapi lagi...

Jika situasinya memang darurat, ya... apa boleh baut?

TATA CARA / SOPAN SANTUN YANG BENAR DALAM PROSES PENILANGAN
Walau pun hal ini bukan tugas kita sebagai pengguna jalan, namun menjadi kewajiban dari petugas polisi pada pelaku pelanggaran. Yang artinya juga, hal ini merupakan hak kita. Jadi kita sangat perlu untuk mengetahuinya.

Polisi itu kan pelayan masyarakat. Iya kan? Jadi tidak boleh seorang polisi bersikap kasar, apa lagi arogan. Mana ada sih seorang pelayan yang berani galak pada majikannya? Begitu logikanya kan? Kalau ada, berarti dia itu pelayan yang biadab. Wkwkwkwk...!!

Kecuali kalau yang sedang ditangani itu seorang yang jelas-jelas penjahat.

1. Tahap pertama, polisi memberhentikan pelanggar,
2. Kemudian, polisi wajib menunjukkan tanda pengenal kepada pengemudi yang diberhentikannya,
Nah... bagian ini sepertinya Mtw belum pernah dapati. Bahkan pada saat razia / operasi zebra pun, Mtw belum pernah mendapati ada petugas yang menunjukkan tanda pengenal pada pengguna jalan yang tengah diperiksa. Padahal (menurut sumber Mtw), hal ini sudah diatur pada pasal.25 UU No.28 tahun 1997.

3. Polisi menjelaskan kesalahan pengemudi
Walau pun umumnya pelanggar jalanan sudah tahu kesalahannya, tapi petugas tetap harus menjelaskan secara baik-baik mengenai pelanggaran yang dilakukan oleh orang tersebut. Barangkali orang itu memang benar-benar tidak tahu akan kesalahannya.

4. Polisi menahan STNK / SIM si pelanggar
Jika pelanggar tidak dapat menunjukkan salah satu atau keduanya, maka polisi akan menahan kendaraan yang bersangkutan.

5. Pengemudi dapat menerima atau pun menolak tuduhan polisi
Seperti yang sudah dibahas diatas, jika pengemudi menolak tuduhan, maka dipersilahkan untuk mengikuti sidang. Sedangkan jika pengemudi menerima tuduhan, maka pengemudi dapat membayar denda tilang melalui bank.

Perkara ketentuan denda tilang sudah diatur dalam UU No.22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan. Karena itu, sebaiknya jangan mencoba untuk "menyuap" petugas dilapangan karena jika "apes", antara penyuap dan polisi bisa kedua-duanya terjerat hukum.

Pelaku penyuapan terhadap polisi lalu lintas diancam dengan hukuman penjara paling lama 2 tahun + 8 bulan (pasal.209 KUHP). Sedangkan petugas penerima suap itu sendiri diancam dengan hukuman maksimal 5 tahun penjara (pasal.419 KUHP).

Meskipun perkara suap menyuap diancam dengan Undang-Undang pidana, namun nyatanya belum seluruh lapisan masyarakat tahu. Bahkan sebenarnya hukum Islam pun mengharamkan penyuapan. Tapi ya itu tadi... manusia berada diantara syetan dan Malaikat.

Kalau saja kita semua mau menyadari, sejatinya kasus penyuapan dalam proses tilang atau dalam hal apa pun, turut berpengaruh dalam pembentukan karakter bangsa. Coba kita perhatikan, bagaimana kasus korupsi terap ramai meski sudah ada KPK.

TIPS AGAR TERHINDAR DARI TILANG POLISI
Pada dasarnya, razia kendaraan bermotor (semisal operasi zebra) yang dilakukan oleh kepolisian tentu memiliki tujuan baik. Diantaranya adalah menekan jumlah kejahatan dan mengurangi potensi kecelakaan. Nah, jika Om Bro mau jadi warga jalanan yang baik, maka seyogyanya Om Bro ikuti beberapa tips dari National Traffic Management Center (NTMC) Polri.

1. Lengkapi kendaraan Om Bro dengan surat-surat yang masih berlaku, yakni STNK dan SIM. Bawa juga KTP kemanapun Om Bro pergi.

Simpan surat-surat berharga tersebut ditempat yang aman dan terpisah dari kendaraan Om Bro. Praktisnya, simpan didalam dompet. Jangan sampai seperti teman Mtw yang punya kebiasaan menyimpan STNK didalam bagasi motor. Akhirnya, dia harus gigit jari saat motornya digondol maling.

Kasihan itu teman Mtw. Klaim asuransi pun hanya bisa cair senominal DP kreditnya saja karena tidak ada bukti STNK.

2. Jangan melawan arus jalan
Mtw tidak munafik. Mtw juga pernah melakukan pelanggaran ini meski Mtw sendiri sering merasa kesal ketika melihat orang yang melawan arus.

Kebiasaan berkendara melawan arus memiliki resiko ganda. Soale, jika sampai terjadi kecelakaan karena Om Bro melawan arus, maka Om Bro harus bertanggung jawab penuh karena Om Bro berada diposisi yang salah.

3. Gunakan pelat nomor yang sesuai dengan surat berkendara
Kasus ini pernah ramai beberapa hari yang lalu dimana ada seseorang yang terjaring razia gegara menggunakan pelat nomor Thailand.

Ini kan aneh... orang hidup di Indonesia kok pelat nomor kendaraannya Thailand? Dan ironisnya, saat perkara ini di share di sosmed, itu justru malah banyak orang yang membela pelanggar tersebut dengan alasan "seni".

Lah, seni yang mana? Seni air kencing? Apa karena seni seseorang boleh melanggar hukum?

4. Gunakan helm bagi pemotor dan sabuk keselamatan bagi pemobil
Helm dan sabuk pengaman harus dikenakan oleh pengemudi dan penumpang. Jangan beralasan yang aneh-aneh karena potensi kecelakaan itu dapat terjadi pada keduanya. Bukan hanya pengemudi saja.

5. Pemotor berkendara di lajur kiri (jika ada lajur kanalisasi)
Sesuaikan juga posisi kendaraan dengan kecepatan laju kendaraan. Jangan berjalan pelan disisi kanan dan jangan ngebut disisi kiri.

6. Nyalakan lampu utama di siang hari
Tapi jangan mentang-mentang siang menyalakan lampu trus kalau malam tidak menggunakan lampu. Hahaha...!! Gile lu, Om Bro!

Pada dasarnya, motor-motor jaman now sudah dilengkapi dengan sistem AHO sehingga Om Bro tidak akan lupa menyalakan lampu utama. Namun begitu, sebaiknya selalu periksa nyala lampu sebelum berkendara. Barangkali lampu kendaraan Om Bro putus atau rusak.

7. Jangan menerobos lampu merah dan marka jalan
Seorang teman pernah bertanya pada Mtw waktu di Jakarta. Tanyanya,

"Kalau dari Thamrin mau ke Pasar Baru, itu dilampu merah Harmoni boleh belok kanan nggak ya?" Mtw jawab saja,

"Ya nggak boleh, lah... harus nunggu lampu ijo dulu baru boleh belok kanan!".

Hahaha..!! Bener kan, Om Bro?

Mtw ini seorang slow biker, jadi Mtw tidak suka jika melihat bikers lain yang nyelonong dilampu merah.

Kebiasaan menerobos lampu merah bukan hanya berbahaya bagi diri sendiri, tapi juga membahayakan orang lain. Bagaimana jika saat Om Bro menerobos lampu merah, trus dari arah lain ada kendaraan yang melaju karena bagian dia lampu hijau? Om Bro jadi salah dobel.

8. Bagi pemotor, jangan berboncengan lebih dari dua orang
Meski kadang orang dewasa pun ada yang berbuat demikian, tapi dominannya anak-anak muda yang suka berboncengan bertiga.

Perlu diketahui bahwa pabrikan mendesain motor hanya untuk kapasitas dua orang saja. Lebih dari itu tentunya berbahaya bagi keselamatan. Soale, dengan beban yang lebih berat, maka keseimbangan jadi menurun dan jarak pengereman menjadi lebih panjang.

9. Bagi pemobil, jangan menggunakan rotator atau sirine pada mobil pribadi
Rotator dan sirine hanya boleh digunakan oleh petugas saja. Tapi pada kenyataannya, kadang ada saja pengguna kendaraan pribadi yang menggunakannya. Tidak hanya mobil, tapi juga motor.

Penggunaan rotator dan sirine selain melanggar hukum juga menyebalkan bagi pengguna jalan lain. Serius, Om Bro... Mtw pernah, lagi dijalan, tiba-tiba dari belakang terdengar sirine mirip punya polisi. Lah, Mtw minggir dong. Eh, tau-tau itu sirine moge, bukan polisi. Ngeselin kan?

Sebenarnya perkara bikin kesal orang lain itu tidaklah menghambat apa-apa dijalan. Tapi kalau sering-sering seperti itu ya bisa mengundang sumpah serapah dari orang lain.

10. Tidak boleh ada simbol-simbol aneh pada pelat nomor kendaraan
Mtw sering lho lihat ada sticker-sticker aneh pada plat motor atau pun mobil. Entah itu sticker Mabes Polri, sticker TNI dan lain-lainnya. Tapi Mtw yakin, semua itu sticker bohongan.

Aneh ya? Apa maksudnya coba? Biar nggak kena tilang apa gimana? Biar polantas yang bertugas menilang akan merasa takut atau gimana? Wkwkwkwk...!! Aneh-aneh saja orang-orang ya, Om Bro?
Sumber: swara.tunaiku.com, kompasiana.com, Wikipedia, pengalaman pribadi
Gambar ilustrasi: panturapost.com

Comments